Jadilah Suamiku

2107 Kata
Sesudah menelepon Stella untuk mengucapkan selamat tinggal, April memandikan Zayn dan mengenakan seragam barunya yang berwarna biru putih. Seragam model pelaut itu membuat Zayn terlihat semakin tampan dan menggemaskan. “Tuh, coba lihat di cermin, Zayn ganteng, kan?” tunjuk April ke arah lemari besar di depannya. Lemari kuno dari kayu jati itu memang dilengkapi dengan cermin di bagian pintunya. Zayn memandangi dirinya sendiri dari atas hingga ke bawah. Meski usianya masih kecil, ia cukup pintar dalam menilai penampilan seseorang, termasuk dirinya sendiri. Tidak seperti anak seusianya, Zayn cukup rewel dalam urusan memilih baju dan model rambut. Bahkan, terkadang permintaannya membuat April kewalahan. “Iya, Mommy, aku suka baju sailor ini,” jawab Zayn membuat April merasa lega. “Kalau begitu kita sarapan dulu, setelah itu Zayn akan diantar oleh Om Seno ke sekolah yang baru. Mommy nggak bisa ikut karena harus berangkat ke kantor.” Mendengar perkataan April, wajah Zayn tiba-tiba berubah menjadi mendung. “Mommy, kenapa bukan Om Superman yang mengantar aku ke sekolah?” tanya Zayn sambil mengerjapkan matanya. April tersenyum, lalu memegang kedua pipi Zayn yang selembut kapas. “Zayn lupa, ya, kalau Om Januari adalah teman kerja Mommy? Itu artinya Om Januari harus bekerja, sama seperti Mommy. Sekarang Zayn nggak boleh sedih, karena akan bertemu dengan Miss dan teman-teman yang baru.” Zayn mengangguk kecil, meski di dalam hati ia masih kecewa karena tidak bisa bertemu dengan sang idola. Zayn berpikir bahwa ia akan merengek kepada April saat libur sekolah, agar bisa bertemu dengan Januari. Setelah selesai sarapan, Seno muncul di pekarangan rumah dengan mengendarai motornya. April bergegas memasangkan tas ransel di punggung putra kecilnya, lalu membantu Zayn memakai helm. Setelah itu, April menaikkan tubuh mungil Zayn ke atas jok motor. “Zayn, peluk Om Seno yang erat. Nanti jangan keluar dari gerbang sekolah sebelum Miss memanggil nama Zayn. Jangan mau diajak pulang oleh siapapun selain Om Seno,” tegas April. Setelah mewanti-wanti Zayn dan Seno, April pun melambaikan tangannya dan membiarkan sang putra berangkat ke sekolah. Dengan tingkat keamanan sekolah yang terjamin, April yakin anak buah pria psikopat itu tidak akan bisa menculik putranya. *** Karena jalanan di Jogja tidak semacet di Jakarta, April tiba di kantor lebih cepat dari perkiraannya. Awalnya, April menyangka akan menjadi karyawan pertama yang menginjakkan kaki di kantor, tetapi nyatanya ada karyawan lain yang datang lebih pagi darinya. Bahkan ia sedang menikmati nasi kuning bersama Joko, sang office boy. “Selamat pagi, Pril, mau sarapan nasi kuning juga? Aku membelinya sesuai dengan jumlah karyawan,” tawar Januari sambil memperlihatkan tas plastik yang berisi bungkusan nasi. April merasa sedikit heran karena Januari berani mentraktir teman kantornya di kala dia belum mendapatkan gaji. Hanya ada dua kemungkinan, Januari memiliki hati yang dermawan atau dia adalah tipe pria yang suka memboroskan uang. “Sorry, Janu, aku tadi sudah sarapan di rumah. Kalau aku makan lagi bisa-bisa aku tidur di kantor. Aku mau langsung kerja aja,” tolak April melenggang pergi dari hadapan dua lelaki tersebut. “Oke, aku akan segera menyusulmu,” seru Januari dari balik punggung April. Januari buru-buru menghabiskan sarapannya, lalu menoleh kepada Joko. “Kalau begitu April untuk kamu saja, Joko,” ucap Januari asal. “Mbak April untuk saya, Mas? Serius ini?” tanya Joko mencodongkan wajahnya kepada Januari. Apabila April diserahkan kepadanya, maka ia pasti akan melakukan puasa dan syukuran tujuh hari tujuh malam. “Maksudku jatah nasi kuningnya April buat kamu. Mimpi itu jangan ketinggian, nanti kalau jatuh sakitnya tuh di sini,” ujar Januari menunjuk bagian dadanya. Joko hanya garuk-garuk kepala karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Januari. Meski begitu, ia merasa beruntung karena mendapatkan sarapan dua porsi secara gratis. Hitung-hitung bisa menambah berat badannya yang kerempeng seperti papan penggilasan. Di mejanya, April sudah mulai meneliti data narasumber yang diberikan oleh Pak Sastro. Dia tertarik kepada dua tokoh yang menurutnya paling sesuai dengan tema bulan depan, yaitu “Yang muda, yang mencintai budaya.” “Pril, apa yang bisa kubantu?” April berjengit kaget karena Januari tiba-tiba duduk di sebelahnya. Sepertinya pria ini memang memiliki hobi mengagetkan orang lain. “Janu, aku kira kamu masih makan. Aku ingin meminta pendapatmu, narasumber mana yang lebih dulu kita hubungi,” tutur April. “Coba lihat,” cetus Januari menggeser kursinya. Saking dekatnya jarak mereka, lengan Januari hampir menempel dengan April. Kondisi ini membuat April merasa risih, lalu mendorong layar laptopnya ke arah Januari. “Kamu bisa cek sendiri profil mereka. Yang satu adalah penyanyi tembang macapat Jawa, namanya Arumi. Usianya baru empat belas tahun, tetapi dia sudah menerima banyak penghargaan. Yang satu lagi adalah pelukis yang misterius, namanya Guru Semar. Beberapa lukisannya tentang tokoh wayang dan penari topeng menjadi viral di media sosial. Tetapi sayang, tidak ada info apa pun mengenai kontak maupun alamatnya,” jelas April. “Justru aku lebih tertarik dengan orang yang misterius seperti ini. Apa kamu tahu akun instagramnya?” tanya Januari antusias. April pun berdiri untuk mengetikkan alamat akun Guru Semar di laptopnya. Namun, tanpa sadar rambutnya yang panjang mengibas ke wajah Januari. “Ini akun i********: Guru Semar,” kata April. Sontak, April menengok ke belakang karena merasa ujung rambutnya disentuh oleh jemari seseorang. “Harum sekali,” celetuk Januari. “Apanya yang harum?” tanya April dengan wajah bersemburat merah. Ia curiga bila orang yang menyentuh rambutnya adalah Januari. “Pengharum ruangan ini. Aku suka dengan wangi lavender yang lembut,” jawab Januari dengan santai. April buru-buru menyingkir untuk menutupi rasa canggungnya. Ia membiarkan Januari melihat-lihat sendiri hasil karya Guru Semar. Bersamaan dengan itu, Niken, Udin, dan Husein memasuki ruang kerja. Mereka terkejut melihat pasangan karyawan baru telah tiba di kantor lebih awal. “Ckckck, rajinnya kalian. Tapi jangan terlalu dekat-dekat begini duduknya, nanti disangka Pak Sastro kalian berdua pacaran,” tegur Niken. April segera bergeser untuk menjaga jarak, sedangkan Udin bergerak maju untuk mendekati Januari. “Serius amat, Janu, sedang mencari apa?” tanya Udin dengan gaya kemayunya. “Hmmm, ini aku sedang mencari tahu informasi tentang pelukis yang bernama Guru Semar. Di akunnya tidak ada petunjuk sama sekali, padahal orang ini memiliki bakat seni yang luar biasa. Tokoh wayang yang dilukisnya seperti memiliki nyawa, bahkan sekilas mirip dengan hasil jepretan kamera,” puji Januari penuh kekaguman. “Jadi kamu dan April ingin mewawancarai Guru Semar? Lebih baik ganti yang lain saja, karena selama ini tidak ada satu pun wartawan yang berhasil melacak keberadaannya. Dia sangat pintar menyembunyikan diri. Bahkan, saat menjual lukisan, dia mengirimkannya lewat kurir yang berbeda-beda. Menurut rumor yang beredar, dia itu pria muda yang anti sosial dan punya masalah psikis,” papar Udin panjang lebar. April yang mendengar fakta tersebut malah semakin penasaran. Ia pun membuka media sosial Guru Semar yang lain dan mendapati sebuah postingan secangkir kopi. Kemudian, ada satu foto lagi yang menampilkan pemandangan bukit berwarna hitam dengan panorama sunset. “Husein, apa kamu tahu tempat wisata ini di mana?” tanya April kepada Husein. April yakin di balik tampang Husein yang datar-datar saja, pria itu pasti menyimpan banyak informasi. “Ini Gunung Ireng, di daerah Gunung Kidul. Memangnya kenapa?” “Apa mungkin Guru Semar tinggal di daerah Gunung Kidul?” tanya April. Husein secara refleks menggelengkan kepalanya. “Percuma, Pril, sudah banyak wartawan ke sana, tetapi hasilnya nihil. Bisa jadi dia hanya sekadar liburan, tetapi tempat tinggalnya di daerah lain.” “Aku pikir kita memiliki dua petunjuk di sini, yaitu kopi dan Gunung Kidul. Apa perlu aku dan Janu mendatangi warung kopi atau kafe di sekitaran Gunung Kidul?” tanya April kepada rekan-rekannya. “Itu akan membuang waktumu, Pril. Aku yakin para pelayan kafe atau pemilik warung tidak ada yang mengenali Guru Semar,” timpal Niken ikut serta dalam obrolan. Di tengah diskusi yang berat itu, Januari tiba-tiba menemukan sebuah ide yang sangat cemerlang. “Masih ada satu cara lagi, yaitu kita menggali informasi lewat para pembeli lukisannya. Walaupun tidak bertemu muka, minimal mereka tahu nomer rekening bank milik Guru Semar atau mengenali kurir yang mengantar lukisan itu.” “Benar juga idemu, Janu,” sambung April. Karena keasyikan mengobrol, mereka tidak sadar jika Pak Sastro sudah datang. Melihat anak buahnya berkerumun seperti ibu-ibu kompleks, Pak Sastro bergegas menghampiri mereka. “Ada apa ini? Pagi-pagi kalian malah sibuk bergosip daripada bekerja.” “Pak, kami semua sedang membahas si pelukis aneh yang bernama Guru Semar. April dan Januari ingin memilih Guru Semar sebagai narasumber utama kita untuk edisi bulan depan,” celetuk Udin. Semula April mengira Pak Sastro akan menolak pilihannya mentah-mentah. Namun, ternyata pria itu malah tersenyum lebar. “Wah, bagus sekali pilihan kalian. Kalau kalian berdua berhasil membongkar identitas Guru Semar dan mewawancarai dia, majalah kita akan viral. Dengan begitu, penjualan kita pasti naik tajam dan kantor ini tidak jadi ditutup.” Januari pun ikut senang mendengar penuturan Pak Sastro. Dia bertekad akan menemukan Guru Semar demi membuat Majalah Cinta Budaya bangkit kembali. Di samping itu, dia juga sudah menyusun rencana untuk membuat April menyesali perbuatannya. Ibarat kata sambil menyelam minum air, itulah yang akan dilakukan oleh Januari saat ini. *** Berdasarkan informasi yang diberikan Pak Sastro, April dan Januari mengunjungi dua orang kolektor yang membeli lukisan karya Guru Semar. Yang pertama adalah Pak Wirya, seorang pengusaha waralaba restoran dan satu lagi adalah Pak Hasto, pemilik vila dan resort di kawasan wisata Kaliurang. April dan Januari memutuskan untuk mengunjungi Pak Wirya lebih dulu. Namun, saat mereka sampai di restoran ayam goreng milik pria itu, sang empunya malah tidak ada di tempat. “Maaf, Mbak, Bapak sedang mengikuti pameran waralaba di Jakarta, dan baru pulang ke Jogja minggu depan. Untuk nomer ponsel Bapak, kami tidak boleh memberikan ke sembarang orang,” ujar supervisor restoran tersebut. “Baik, Mas, ini kartu nama saya. Tolong sampaikan kepada Pak Wirya bahwa kami ingin minta waktu sebentar untuk wawancara jika Beliau sudah pulang,” tutur April menyodorkan kartu namanya. Setelah keluar dari restoran tersebut, April mengajak Januari untuk mencari pembeli berikutnya. “Janu, kita temui Pak Hasto sekarang di resortnya.” “Mau sekarang? Perjalanan ke Kaliurang lumayan jauh, dan jalanan di sana menanjak ke atas karena dekat dengan Gunung Merapi. Aku takut motor bebek ini akan mogok,” kata Januari ragu-ragu. Pasalnya, ia sudah bertanya kepada Husein dan Udin mengenai kondisi jalan menuju ke Kaliurang. “Kita coba dulu, Janu, yang penting kita bisa segera mendapatkan petunjuk.” Melihat April bersikeras, Januari akhirnya setuju. Ia pun naik ke atas motor dan bersiap memakai helmnya. “Pril, kamu harus pegangan yang kencang sepanjang perjalanan. Jangan sampai kamu terpental dari motor,” ujar Januari. “Iya, aku mengerti.” Kali ini, April terpaksa memeluk Januari demi keselamatannya selama berkendara. Di tengah perjalanan mereka menuju resort, Januari merasa ada mobil hitam yang membuntutinya sejak tadi. Bahkan saat berada di lampu merah, mobil itu juga berhenti dan hanya berjarak dua baris dari motornya. Merasa ada yang tidak beres, Januari mengajak April untuk beristirahat sejenak. “Pril, kita mampir dulu ke warung bakso di depan untuk makan siang,” ujar Januari. April pun menuruti keinginan Januari, karena mengira rekan kerjanya itu sedang kelaparan. Ketika mereka baru memasuki warung bakso, ponsel April tiba-tiba berbunyi. Melihat nomer tak dikenal yang muncul di layar ponselnya, April langsung memasang mode siaga. “Halo, siapa ini?” tandas April. “Nona, nama saya adalah Toni. Saya menelepon Nona untuk memberitahukan bahwa kami sudah menemukan keberadaan Zayn di Jogja. Nona tidak diizinkan membawa Zayn pergi ke mana pun lagi. Ingat, Nona bukan ibu kandung maupun wali sah Zayn di mata hukum, jadi Tuan kami bisa mengambil Zayn kapan saja. Nona juga harus mempersiapkan diri, karena Tuan kami akan datang ke Jogja minggu depan.” Pria bernama Toni itu langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respon dari April. Mendengar anacaman yang dilontarkan Toni, tangan April mendadak gemetaran. Hampir saja ponsel yang dipegangnya terjatuh ke lantai, jika saja Januari tidak menangkap benda itu tepat waktu. “Pril, kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Januari memperhatikan bibir April yang memucat. Bukannya menjawab, mata April malah berkaca-kaca. Melihat kondisi April yang seperti orang syok, Januari lantas membantu April untuk duduk di kursi. “Coba tarik napas dulu, lalu ceritakan apa masalahmu. Terus terang di jalan tadi, aku melihat ada mobil hitam yang membuntuti kita. Apa mobil itu ada hubungannya dengan orang yang meneleponmu? Maksudku apa kamu dikejar-kejar debt collector dari pinjaman online abal-abal? Aku bisa memaklumi kalau ibu tunggal sepertimu butuh dana lebih untuk biaya sekolah dan semacamnya,” cerocos Januari. “Aku nggak semiskin itu, tetapi aku butuh bantuanmu,” lirih April. Saat ini, April benar-benar putus asa dan takut akan kehilangan Zayn untuk selamanya. “Bantuan? Apa kamu ingin meminjam uang dariku?” tanya Januari masih mengira April terlilit utang. “Bukan, aku butuh bantuanmu untuk menjadi…suamiku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN