Suami Sepuluh Juta

2271 Kata
Mulut Januari menganga lebar setelah mendengar apa yang diucapkan oleh April. Jika saja ada lalat yang kebetulan lewat, mungkin lalat itu sudah masuk tanpa hambatan ke dalam mulutnya. Kemudian, pria itu menjewer kupingnya sendiri, saking tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Awww, sakit!” keluh Januari mengelus-elus daun telinganya yang memerah. Melihat kelakuan Januari yang absurd, April mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ternyata pria berkaca mata ini tak hanya aneh dalam soal penampilan, tetapi juga kelakuannya. Namun hal ini tidak menjadi masalah bagi April, karena dia justru mencari sosok suami yang berbeda dengan laki-laki pada umumnya. “Kenapa kamu menjewer telingamu sendiri, Janu?” tanya April. Baru kali ini dia melihat ada pria dewasa yang bertingkah mirip anak-anak. “Hmmm, ini aku hanya mengetes pendengaran. Sekalian juga mengukur…tingkat kesadaranku,” ringis Januari sambil memelankan suaranya. Pria itu melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Kemudian, Januari menggeser kursi dan mendekatkan wajahnya kepada April. “Pril, apa kamu serius dengan permintaanmu tadi?” tanya Januari. Dia khawatir bila level kewarasan April sedang menurun drastis, akibat dikejar-kejar oleh para penagih utang. Oleh karena itu, April nekat mencari jalan pintas dengan cara mencari seorang suami. “I-iya,” jawab April singkat. “Hah! Maksudmu kamu dan aku…kita berdua akan me-nikah?” tanya Januari menunjuk April dan dirinya sendiri secara bergantian. April hanya menjawab dengan anggukan singkat yang membuat Januari semakin syok dibuatnya. “Jadi, kamu benar-benar melamarku…di warung bakso ini?” tanya Januari dengan mata terbelalak. April mengangguk untuk kedua kalinya, sebagai tanda bahwa semua yang diucapkan Januari adalah benar. Dalam beberapa detik, mereka tidak saling bicara karena sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sesudah membisu beberapa lama, Januari pun menghela napas panjang. Dia ingin meraup oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya, karena merasa dunia ini sudah terbolak-balik. Bagaimana tidak. Wanita yang dulu menolak untuk dijodohkan dengannya, kini justru memohon untuk dinikahi olehnya. Sebagai Raskal yang kaya dan rupawan, ia telah dipermalukan dan dicampakkan oleh April. Namun, sebagai Januari yang jelek, cupu dan tidak ada kelebihannya sama sekali, ia justru dilamar oleh April untuk menjadi suami. Mungkinkah ini yang disebut sebagai hukum karma dari alam semesta? “Sebentar, aku akan memesan bakso untuk kita berdua. Mungkin setelah kamu kenyang, kamu akan berpikir lebih jernih. Nanti kita bicara lagi setelah selesai mewawancarai Pak Hasto,” ujar Januari memecah keheningan. Lelaki itu buru-buru menemui sang penjual untuk memesan dua mangkuk bakso dan dua cangkir teh. Setelah memesan makanan, Januari kembali menemui April yang duduk termenung di kursi. April sudah tidak menangis lagi, tetapi sorot matanya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam. Kondisi April yang nampak putus asa membuat Januari sedikit merasa iba. Walaupun ia ingin membalas perbuatan April, tetapi ia masih punya rasa kemanusiaan. Apalagi, dia termasuk dalam kategori pria yang memiliki hati selembut kapas, tetapi bertekad kuat seperti batu karang. Sayangnya, belum ada wanita yang menyadari keunggulannya ini. “Pril, aku belum menolak atau mengiyakan permintaanmu, jadi jangan menangis lagi. Nanti matamu merah saat berkata Pak Hasto,” ujar Januari menyodorkan selembar tissue kepada rekan kerjanya itu. April buru-buru menghapus air matanya. Bagaimanapun dia harus tampil profesional kala menjalankan tugas sebagai wartawan. “Ma-af, aku jadi melibatkan kamu dalam masalahku. Nanti aku akan jelaskan semuanya saat pekerjaan kita sudah selesai,” tutur April. Setelahnya mereka berdua menyantap bakso dalam keheningan. Masing-masing nampak sibuk dengan pemikirannya sendiri. Untung saja warung bakso tersebut terletak di pinggir jalan, sehingga suasananya tidak terlalu sepi seperti kuburan. Selesai makan, Januari memeriksa keadaan sekitar untuk mengecek apakah mobil hitam tadi masih mengikutinya. Karena mobil itu sudah tidak terlihat, Januari pun melajukan motornya menuju ke resort milik Pak Hasto. Ketika mereka sudah tiba di resort, April bisa melihat puncak Gunung Merapi yang menjulang dengan gagah dari kejauhan. Sementara di kiri dan kanan resort dikelilingi oleh pohon rindang dan berbagai macam tanaman hias. April berpikir bahwa Zayn akan sangat gembira bila diajak berlibur di resort ini. Hawa di sekitar resort terasa lebih menusuk tulang, sehingga membuat tubuh April menggigil. Terpaksa, ia merekatkan blazer yang dipakainya untuk menghalau udara dingin. “Kedinginan, Pril? “Mau pinjam jaketku?” tanya Januari sambil mengambil kameranya. Insting Januari sebagai fotografer mulai terusik dengan keindahan panorama alam di sekelilingnya. Dia berniat untuk mengabadikan pemandangan indah ini dengan kamera. “Nggak usah, lebih baik kita segera menemui resepsionis.” April pun melangkahkan kakinya lebih dulu menuju ke lobi yang berbentuk joglo khas Jawa. Januari mengikuti April sambil memotret beberapa spot yang menarik perhatiannya. Kemudian, ia menyusul April ke meja resepsionis. Seorang wanita muda yang berpakaian kebaya kuning menyambut kedatangan April. “Selamat siang, Ibu, ada yang bisa saya bantu?” April menyerahkan kartu nama beserta surat tugasnya kepada resepsionis itu sebelum memperkenalkan diri. “Siang, Mbak, saya April, dan ini rekan saya, Januari. Kami berdua dari Majalah Cinta Budaya, ingin mewawancarai Bapak Hasto, pemilik resort.” “Apa Mbak sudah membuat janji sebelumnya?” tanya resepsionis itu. “Belum, karena kami tidak memiliki nomer ponsel Pak Hasto,” sahut Januari. Resepsionis itu meminta April dan Januari untuk menunggu sebentar, sementara dia menelepon atasannya untuk melakukan konfirmasi. Tak berselang lama, seorang pria berjas hitam datang menghampiri mereka. “Selamat siang, saya Panji, manajer resort sekaligus keponakan Pak Hasto. Kalau boleh tahu ada kepentingan apa Mbak dan Mas ingin mewawancarai Pakde saya?” tanya pria itu dengan ramah. Januari menggaruk dagunya karena tidak mengerti istilah “Pakde” yang diucapkan oleh Panji. Mungkin setelah ini dia harus lebih banyak belajar kamus bahasa Jawa supaya pengetahuannya bertambah. “Perkenalkan Mas, saya April, dan ini Januari. Kami ingin menanyakan seputar hobi Pak Hasto dalam mengoleksi lukisan,” jawab April diplomatis. “Hari ini Bapak tidak ada di kantor karena sedang kurang enak badan. Besok sekitar jam sepuluh pagi, Mbak April bisa menelepon ke resort atau mengirimkan pesan ke ponsel saya untuk membuat janji dengan Bapak. Ini kartu nama saya.” April menerima kartu nama yang disodorkan oleh Panji, lalu menyimpannya di dalam dompet. “Baik, Mas Panji, terima kasih banyak. Kalau begitu kami permisi.” Tatkala April sudah berpamitan, Januari malah maju untuk mendekati manajer resort tersebut. “Mas, boleh kami melihat-lihat di sekitaran resort? Saya mau mengambil beberapa foto untuk kelengkapan artikel wawancara dengan Pak Hasto,” ujar Januari meminta izin. “Tentu saja boleh, Mas. Mau saya temani?” tawar Panji. “Tidak usah, kami akan berkeliling sendiri. Terima kasih banyak atas waktunya,” ujar Januari lantas berjabat tangan dengan Panji. April masih bingung kenapa Januari mendadak ingin berjalan-jalan di sekitar resort, padahal mereka seharusnya langsung pulang ke kantor. Terpaksa, ia mengikuti pria itu yang telah lebih dulu keluar dari lobi. Mereka berdua berjalan menuju ke taman belakang yang dilengkapi dengan kolam buatan dan jembatan kecil dari kayu. Seketika April dibuat takjub melihat banyaknya bunga teratai berwarna merah muda, biru, dan putih, yang mengambang di atas permukaan air. Dari kecil, ia memang sangat menyukai bunga yang berkelopak lebar itu, bahkan bermimpi untuk bisa menanamnya sendiri. Untuk sesaat, April bisa melupakan kesedihan yang tengah ditanggungnya. Ia menunduk ke arah kolam lalu menyentuh bunga yang melambangkan kemurnian dan kedamaian itu. “Indah sekali,” gumam April. “Kamu menyukai bunga teratai?” Januari turut berjongkok di samping April sambil mengambil beberapa foto. “Iya, teratai adalah bunga yang bisa tumbuh dengan baik meskipun dalam kondisi yang suram,” tutur April. “Kamu ingin menikah di antara bunga-bunga teratai?” April terkejut karena Januari tiba-tiba melemparkan pertanyaan yang menjurus ke hal pribadi. Namun kemudian, April mengingat ucapannya sendiri yang telah meminta pria itu untuk menjadi suaminya. “Pril, aku mengajakmu ke sini untuk menanyakan soal permintaanmu di warung bakso tadi. Ayo, kita duduk di bangku kayu sebelah sana.” Merasa dirinya yang membutuhkan bantuan, April pun menuruti ajakan Januari. Mereka berdua duduk bersebelahan di bangku kayu yang terletak di sudut taman. “Sekarang katakan apa alasanmu meminta aku untuk menjadi suamimu?” Ditanya seperti itu, April menundukkan kepala sembari menggenggam telapak tangannya. Sebenarnya, ia keberatan untuk menyingkap masa kelam kakak kandungnya sendiri kepada orang asing. Namun, ia harus berkata jujur kepada Januari jika ingin meminta bantuan pria tersebut. Melihat April tak kunjung menjawab, Januari berinisiatif untuk memberikan pilihan. “Oke, aku akan memberikan tiga opsi seperti soal pilihan ganda. Jawaban yang pertama, karena kamu ingin aku membayar utangmu kepada pinjol, yang kedua karena permintaan dari Zayn, dan yang ketiga karena kamu jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Terus terang, jika alasannya yang ketiga, aku harus pikir-pikir dulu karena cinta itu nggak bisa dipaksakan,” papar Januari sembari menegakkan kerah kemejanya. Sontak saja April menggelengkan kepala, karena ketiga alternative jawaban itu tidak ada yang sesuai. “Bukan ketiganya, tetapi aku punya alasan lain. Aku membutuhkan suami supaya…Zayn nggak diambil oleh ayah kandungnya,” jawab April. “Apa mantan kekasihmu ingin merebut Zayn?” tanya Januari dengan alis tertaut. April semakin mengeratkan genggaman tangannya. Di saat ia merasa gugup dan tersudut, telapak tangannya selalu saja berkeringat biarpun berada di tempat yang dingin. “Bu-kan, Zayn sebenarnya…bukan anak kandungku.” Lagi-lagi Januari dibuat tertegun oleh fakta yang diungkapkan April. Semula ia berpikir bahwa April menolaknya karena memiliki anak di luar nikah. Namun, ternyata dugaannya salah karena Zayn bukanlah anak kandung April. “Kalau bukan anakmu, lalu anak siapa? Tolong bicaralah dengan jelas, Pril. Anggap saja aku ini adalah reporter dan kamu adalah narasumberku,” tanya Januari sangat penasaran. Sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut, April menelan ludah beberapa kali. Wanita itu memilih untuk menjatuhkan pandangannya ke hamparan rumput hijau daripada bertatapan langsung dengan lawan bicaranya. “Zayn adalah keponakanku, anak dari kakakku yang sudah tiada. Aku yang merawatnya sejak bayi. karena ayahnya adalah…seorang pria pecundang. Dia nggak pernah muncul sama sekali sampai Zayn berusia lima tahun, bahkan identitasnya pun aku nggak tahu. Tetapi setelah aku datang ke Jogja, tiba-tiba dia menerorku lewat telepon. Dia bilang aku harus menuruti semua keinginannya, bila tidak dia akan merebut hak asuh atas Zayn melalui jalur hukum. Karena itu, aku harus segera menikah dan mengadopsi Zayn secara resmi,” terang April dengan suara parau. Mendengar perkataan April, Januari mengetatkan rahangnya. Ia tidak percaya bahwa ada pria sebrengsek itu di dunia. Sudah menghamili wanita tanpa mau bertanggung jawab, menelantarkan anaknya sendiri, dan sekarang hendak mengambilnya setelah anak itu tumbuh cerdas dan sehat. Andai dia bertemu dengan lelaki pengecut itu, sudah pasti dia akan mengajaknya berduel. “Setahuku seorang lajang pun bisa mengadopsi seorang anak. Selama kamu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pengadilan negeri, permohonanmu bisa dikabulkan. Tetapi mungkin prosesnya agak lebih lama,” cetus Januari. Meski matanya masih terasa perih, April memberanikan diri untuk menatap Januari secara langsung. Sekali ini dia harus merendahkan harga diri, supaya pria ini bersedia memberikan pertolongan. “Janu, kamu nggak perlu khawatir, karena kita hanya akan menikah kontrak selama satu tahun. Setelah posisi Zayn aman, kita akan berpisah tanpa adanya kewajiban apa pun. Pernikahan ini juga akan kita rahasiakan dari orang luar, terutama Pak Sastro dan teman-teman kantor. Aku berjanji nggak akan mengganggu atau mencampuri urusan pribadimu.” April menarik napas panjang sebelum menyampaikan penawaran pamungkasnya kepada Januari. “Jika kamu bersedia, aku akan memberikan kompensasi sebesar sepuluh juta. Anggap saja ini sebuah pekerjaan sampingan. Aku akan memberimu waktu dua hari untuk mempertimbangkannya.” Mendengar ucapan April, Januari serasa ingin tertawa sekaligus menangis. Tertawa karena secara tidak langsung ia berhasil membuat April bertekuk lutut, bahkan sampai memohon-mohon kepadanya untuk dinikahi. Namun, di sisi lain ia juga merasa miris dengan nasibnya sendiri. Bayangkan, seorang Raskal Januari Raharja, pewaris Mega Media Corp, dilamar seorang wanita di warung bakso hanya untuk dijadikan suami kontrak dengan bayaran sepuluh juta. Sungguh bila ada keluarga besarnya yang mendengar kenyataan ini, mereka bisa pingsan akibat terkena serangan jantung. Belum lagi jika ada karyawan Mega Media yang memergoki dirinya menjadi suami bayaran. Entah mau ditaruh di mana mukanya yang super ganteng ini. Namun, bila dipikir ulang menikah kontrak dengan April akan menjadi tantangan tersendiri baginya selama menjalankan misi penyamaran. Tanpa iming-iming uang maupun wajah yang rupawan, ia akan melakukan permainan hati untuk menjerat April Ardinata. “Aku nggak perlu waktu dua hari untuk berpikir,” ucap Januari. “Lalu kamu butuh berapa lama? Aku harus menikah dalam minggu ini juga karena….” “Ssshh, tenang, Pril. Pada hari, jam, menit, dan detik ini, aku sudah mengambil keputusan untuk menjadi suamimu. Kamu nggak perlu membayar aku sepeser pun, karena aku melakukannya untuk menolongmu dan Zayn. Tetapi sebagai gantinya, kamu harus memenuhi enam persyaratan penting dariku. Jika kamu setuju, maka kita akan menikah besok Sabtu.” Beban yang menghimpit pundak April serasa lenyap seketika. Jangankan enam, puluhan syarat pun akan ia penuhi selagi Januari mau menjadi suami pura-puranya. “Selama persyaratan itu nggak melanggar batas moral, hukum, dan harga diri wanita, aku akan menerimanya. Katakan saja apa syarat yang kamu ajukan, Janu,” ucap April harap-harap cemas. Januari pun memaparkan satu per satu persyaratan darinya, layaknya orang yang membaca undang-undang sebuah negara. “Baiklah, Pril, dengarkan baik-baik. Pertama, aku yang akan mengurus kontrak pernikahan kita, dan kamu tinggal menandatanganinya saja. Kedua, jangan pernah menanyakan tentang orang tua maupun keluargaku yang lain, karena aku nggak akan melibatkan mereka dalam pernikahan kita. Ketiga, buku nikah, surat perjanjian pernikahan dan dokumen lainnya yang terkait, aku yang akan menyimpannya.” Januari nampak berpikir sebentar sebelum mengatakan tiga persyaratan yang terakhir. “Keempat, aku harus tinggal di rumahmu selama masa pernikahan kita, tetapi kita akan tidur di kamar yang terpisah. Kelima, kamu harus menghormati aku sebagai suami dan kepala keluarga di depan Zayn. Dan untuk syarat keenam, inilah yang paling penting.” April mengerutkan dahinya saat mendengar kalimat terakhir Januari yang masih menggantung. “Apa itu?” “Kamu nggak boleh menyentuhku secara fisik, apalagi merenggut kesucianku. Karena pernikahan kita hanya bersifat sementara tanpa melibatkan perasaan,” tandas Januari dengan mata memincing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN