Deal, Kita Menikah!

1692 Kata
April menggigit bibir bawahnya setelah mendengar persyaratan terakhir yang diajukan oleh Januari. Seharusnya sebagai wanita, dialah yang harus mengatakan hal itu. Akan tetapi, pada kenyataannya malah Januari yang menyebutkan syarat tersebut. Jujur, April merasa harga dirinya sebagai wanita sudah tersentil. Namun, karena dia adalah pihak yang membutuhkan pertolongan, maka ia harus bisa mengalah kepada lelaki berkaca mata ini. Apalagi waktu yang tersisa baginya tidaklah banyak. “Aku…sepakat dengan semua syarat yang kamu berikan, karena kita sepemikiran. Tidak boleh ada kontak fisik, karena kita bukan suami istri sungguhan. Hanya saja selama pernikahan, aku minta tolong supaya kamu jangan berhubungan dengan wanita lain.” Satu alis Januari terangkat ke atas, pertanda pria itu sedang mempertanyakan sesuatu. Khawatir bila Januari akan berpikiran macam-macam tentang dirinya, April buru-buru memberikan penjelasan. “Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk melarangmu, tetapi kita perlu meyakinkan pihak pengadilan dan juga ayah kandung Zayn, bahwa pernikahan kita bukan rekayasa. Setelah kontrak berakhir, kamu bebas berpacaran atau menikah dengan siapa saja,” terang April mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman. Januari menatap langsung ke netra April, seolah ingin menggali kebenaran yang masih disembunyikan oleh wanita itu. “Kalau sekedar menelepon atau chat, apa nggak boleh juga?” “Boleh, kalau sebatas itu,” jawab April singkat. Lagi pula ia yakin tidak akan ada wanita yang mau repot-repot mengejar Januari, mengingat tampang dan dompetnya yang pas-pasan. “Baguslah, aku harus memastikan semuanya dulu sebelum kita menikah. Jadi, misalkan minggu depan atau bulan depan ada wanita yang suka padaku, aku nggak perlu menjauhinya,” ucap Januari penuh percaya diri. Januari lantas mengulurkan tangannya kepada April sebagai pertanda diresmikannya kesepakatan antara mereka berdua. “Ini adalah pertanda dimulainya perjanjian kita, Pril. Deal, kita akan menikah!” tegas Januari. “Deal!” jawab April menyambut uluran tangan Januari. Ia tidak mungkin mundur setelah melangkah sejauh ini. Januari adalah pilihan yang paling tidak beresiko di antara jutaan laki-laki di muka bumi. Lagi pula kebaikan hati lelaki ini sudah terbukti dengan bersedia menolongnya secara suka rela. “Kalau begitu kita pulang sekarang sebelum Pak Sastro mencari kita,” ajak Januari lantas beranjak dari bangku taman. April pun mengikuti langkah Januari, tetapi mendadak ia teringat akan sesuatu. “Tunggu, Janu, bagaimana dengan kontrak pernikahan? Jika kamu yang mengaturnya, otomatis kamu harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar pengacara. Aku…nggak mau merepotkan kamu lagi,” tanya April merasa tidak enak hati. Januari hanya mengedikkan bahu dengan santai. Tentu saja bagi anggota keluarga Raharja, urusan menyewa pengacara adalah hal yang mudah. Namun, ia tidak mungkin mengatakan jati dirinya kepada April atau penyamarannya akan terbongkar. “Itu soal mudah. Aku punya kakak yang memiliki teman seorang pengacara. Dia pasti mau menolongku tanpa meminta bayaran,” jawab Januari sekenanya. “Kamu yakin?” tanya April ragu. “Iya, pengacara itu tahu kalau aku berasal dari keluarga yang sederhana. Jadi, dia nggak akan tega membebani aku dengan tarif yang mahal. Sudahlah, jangan memikirkan itu lagi, lebih baik kita pulang supaya nggak kesorean sampai di kantor.” Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan taman itu tanpa membahas tentang pernikahan lagi. Ada rasa lega sekaligus gelisah di hati April sesudah Januari bersedia untuk menjadi suami kontraknya. Ia tidak tahu keputusannya ini benar atau salah, apalagi mereka baru kenal dua hari yang lalu. Namun, April tidak ingin berpikir terlalu keras, karena yang terpenting adalah melindungi Zayn dari cengkeraman ayah kandungnya yang jahat. *** Karena motor bebek yang dikendarai Januari sempat mogok di jalan, mereka berdua baru tiba di kantor sekitar pukul enam sore. Alhasil kantor sudah sepi dan hanya tertinggal Joko yang bersih-bersih dan akan mengunci pintu. “Joko, Pak Sastro dan yang lainnya sudah pulang?” tanya April melihat sekeliling pelataran yang kosong. “Iya, Mbak, Pak Sastro pulang duluan karena lagi diare. Pak Sastro bilang Mbak April dan Mas Janu disuruh langsung pulang ke rumah,” jawab Joko. “Terus motor ini gimana?” tambah Januari. “Dibawa pulang dulu, Mas, besok baru dikembalikan ke kantor. Saya pamit, ya, sudah dipanggil Ibu buat cuci piring di rumah,” ujar Joko buru-buru naik ke atas motornya. April dan Januari hanya bisa menarik napas lelah secara bersamaan. Seharian ini hanya mereka habiskan dengan berputar-putar mencari pembeli lukisan Guru Semar. Namun, mereka belum mendapatkan hasil apa-apa, dan saat tiba di kantor semua orang malah sudah pulang. “Pril, aku antarkan kamu pulang. Ini sudah malam, aku khawatir kamu diikuti lagi oleh penguntit itu,” ucap Januari khawatir. “Nggak usah, aku akan naik taksi online. Kamu pulanglah dan istirahat.” “Kalau begitu aku akan menunggumu sampai taksinya datang,” ujar Januari. Melihat Januari bersikeras untuk menunggunya, entah mengapa hati April merasa tersentuh. Baru sekali ini, ia mendapati seorang pria yang tulus memberikan perhatian tanpa meminta imbalan apa pun. Melihat sifat Januari, April semakin yakin bahwa keputusannya sudah tepat. “Janu, aku pulang dulu. Terima kasih banyak atas semuanya,” ucap April sebelum masuk ke taksi. Januari hanya membalas dengan senyuman, memamerkan deretan giginya yang dihiasi behel berwarna perak. Kemudian setelah taksi yang ditumpangi April berlalu, barulah ia mengendarai motor untuk pulang ke kosnya. Sepanjang jalan, Januari terus memanjatkan doa karena motornya seringkali mengeluarkan suara-suara aneh. Dan benar saja motor itu kembali mogok tatkala dia memasuki jalan kecil menuju kos. Dengan sangat terpaksa, Januari menuntun motor bebek itu hingga memasuki pagar kosnya. Sungguh, tidak akan ada yang menyangka jika putra keluarga Raharja lontang-lantung di jalan dengan ditemani sebuah motor butut. Begitu tiba di kamarnya, Januari langsung melepas kaca mata dan mengelap seluruh dahinya yang berkeringat. Kemudian, ia duduk di lantai sambil mengipasi dirinya sendiri dengan buku. Entah apa dosanya di masa lalu, sehingga ia mengalami semua ujian kesabaran ini. Padahal sejak kecil ia tidak pernah mengejek teman, taat pada nasihat guru dan orang tua, bahkan pernah menyeberangkan nenek di pinggir jalan. Lalu perbuatan buruk apa yang pernah ia lakukan? Januari pun menyugar rambutnya sendiri sambil mendengus kesal. Penyebab semua bencana ini tidak lain dan tidak bukan adalah wanita bernama April. Namun, bodohnya ia malah terus-terusan menolong wanita itu untuk keluar dari kesulitan. Setelah keringatnya berhenti mengalir, Januari mengambil ponselnya dari dalam tas. Malam ini juga, ia harus menelepon tiga orang sekaligus, dan akan dimulai dari Gilang. “Halo, Tuan, apa Anda menugaskan saya untuk menyelidiki seseorang lagi?” tanya Gilang sok tahu. “Bukan, aku ingin kamu datang ke Jogja hari Kamis bersama dengan Tuan Zahir, pengacaraku. Lakukan semua ini dengan diam-diam, jangan sampai ada anggota keluargaku yang tahu,” tukas Januari. Seketika nada suara Gilang yang cempreng berubah menjadi lemah lembut. “Saya harus ke Jogja dua hari lagi? Tapi untuk apa, Tuan?” tanya Gilang bingung. “Untuk menjadi kakakku sekaligus saksi pernikahanku,” jawab Januari dengan enteng. Di seberang sana, mata Gilang melotot sampai akan keluar dari tempatnya. Ia tidak menduga jika tingkat kehaluan bosnya kian bertambah parah setelah berubah menjadi rakyat jelata. “Maaf, Tuan, satu ditambah satu jadi berapa?” tanya Gilang memberikan tes sederhana. Dia berpikir mungkin saja kepala tuan mudanya terantuk sesuatu, sehingga mengalami amnesia seperti dalam skenario sinetron. “Sebelas,” jawab Januari. “Ya ampun, Tuan, Anda benar-benar amnesia sampai tidak bisa menjawab soal matematika anak TK,” sahut Gilang mengelus dadanya sendiri. “Kamu yang amnesia, satu ditambah satu jadi sebelas. Kalau pertanyaanmu satu ditambah satu sama dengan berapa, itu baru jawabannya dua,” jawab Januari kesal. Gilang hanya diam di seberang sana, karena ia sedang menerapkan prinsip bahwa orang yang lebih waras harus mengalah. “Baik, Tuan, saya akan ke Jogja bersama Tuan Zahir. Namun, sebelumnya saya harus mengatakan kebenaran ini meski nantinya terasa pahit untuk Anda. Pertama kakak Anda adalah Tuan Jonathan Raharja, bukan saya. Kedua, Anda belum punya pacar, bahkan calon istri Anda telah melarikan diri. Lalu Anda mau menikah dengan siapa?” “Gilang!” bentak Januari geram. Kepalanya serasa mau pecah setiap kali bicara dengan asistennya yang lemot ini. “Sabar, Tuan, jangan pingsan dulu. Tadi saya sudah mengatakan kalau kebenaran itu menyakitkan. Jangan khawatir, saya bersedia menjadi kakak angkat Anda. Saya juga akan segera mencarikan wanita cantik yang bisa menjadi istri Anda.” Januari mengetatkan rahangnya, kemudian berbicara dengan nada rendah kepada Gilang. “Dengar Gilang, kamu hanya akan menjadi kakakku selama proses pernikahan. Setelah itu, kembalilah ke tempat asalmu di alam sana. Soal wanita yang akan aku nikahi, kamu tidak perlu mencemaskannya, karena aku akan menikah dengan calon istriku sendiri, April Ardinata,” tukas Januari dengan sorot mata yang berkilat. “A-anda mau menikahi…Nona April? Apa Anda memberikan mantra pelet kepada Nona April supaya jatuh cinta kepada Anda, Tuan?” tanya Gilang tidak percaya. “Hush, sembarangan kamu bicara! Aku hanya akan menikah kontrak, nanti akan kujelaskan semuanya saat kamu sampai di Jogja. Sekarang aku harus menelepon Tuan Zahir dan Pak Farel,” ucap Januari mengakhiri panggilannya. *** Suara erangan dan desahan memenuhi sebuah kamar apartemen yang luas. Di atas peraduan terdapat sepasang anak manusia yang sedang tenggelam dalam jurang ilusi. Setelah puas mereguk kenikmatan yang terlarang, sang wanita buru-buru turun dari tempat tidur. Sementara si pria masih berbaring dengan sebelah tangan yang terlipat untuk menopang kepalanya. Pria dengan fisik nyaris sempurna itu tersenyum smirk melihat wanitanya langsung membersihkan diri. Tak berselang lama, sang wanita keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe putih. “Baby, kenapa kamu nggak berbaring dulu bersamaku, hem? Aku masih ingin memelukmu,” rayu si pria. “Aku harus membersihkan jejakmu dulu, Sayang, seharusnya tadi kamu memakai pengaman,” tandas wanita itu dengan bibir mengerucut. “Kenapa harus takut, bukankah kita akan menikah sebentar lagi?” “Ck, jangan bilang kamu berubah pikiran, Sayang, bukankah kita sudah sepakat untuk childfree? Melahirkan anak hanya akan membuat tubuhku jelek dan menghambat karierku sebagai model. Kamu sendiri adalah seorang CEO yang sangat sibuk. Apa kamu mau bila waktumu yang berharga terganggu oleh rengekan anak kecil?” Mendengar tunangannya merajuk, pria itu segera bangun dari tempat tidur, lalu mengaitkan dagunya di bahu sang wanita. “Mana mungkin aku berubah pikiran, tetapi kamu tahu sendiri bagaimana kedua orang tuaku. Mereka sangat menginginkan seorang pewaris. Kalau mereka mengetahui keputusan kita, mereka pasti akan sangat marah.” Wanita berkulit putih itu membalikkan punggungnya lantas menatap sang calon suami dengan sendu. “Lalu aku harus bagaimana?” “Jika kamu setuju, kita bisa mengadopsi seorang anak laki-laki, Zavia.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN