Sementara di malam yang sama, di sebuah Club malam terbesar di ibu kota, disana farel sedang asik menikmati musik dan minuman alkohol bersama teman-temannya.
Para anak orang kaya itu berjoget mengikuti irama musik yang keras sambil di kelilingi wanita cantik.
Seorang Dj Sexy yang terkenal memanggil nama Farel agar naik ke panggung untuk berjoget bersama nya.
Siapa yang tidak kenal dengan pria itu, semua wanita berlomba ingin menjadi kekasih nya, banyak Wanita dari kalangan atas berusaha ingin masuk ke dalam keluarga samuel.
"Temani aku malam ini ya tampan!" Kata Dj sexy itu di tengah suara musik yang berdentum kencang, tangan nya terus merangkul pundak Radan.
"Dengan senang hati cantik"
Mereka pun terbuai dengan permainan musik Dj yang membawa mereka terbang tinggi dan membuat mereka lupa dengan dunia nyata.
Malam ini kesenangan Farel berakhir di ranjang putih, ia terkulai lemas bersama Soraya.
Soraya adalah nama Dj itu, kecantikan dan kepiawaian nya bermain Audio Mixer membuat nya terkenal sampai Negara tetangga. Sudah lama dia menjalin hubungan tanpa status dengan Farel, tidak di beri kepastian walau berkali-kali ia menyatakan cinta tapi Farel tidak pernah mengatakan hal yang sama, ia hanya menjadi peneman sepi saja dan menemani pria itu bersenang-senang.
Pagi hari nya, Farel pulang dengan penampilan kusut, disaat kedua orang tua dan Kakaknya akan berangkat ke kantor dia malah baru pulang.
Terlihat dari meja makan, Brama melihat anaknya berjalan akan naik ke lantai atas menggunakan lift.
"Farel !" Panggil brama.
Farel pun menghentikan langkahnya "Iya pi"
"Apa-apan kamu jam segini baru pulang? Apa kamu lupa dengan pekerjaan kamu?" bentak brama.
"Iya pi aku ke kantor tapi aku tidur dulu ya sebentar, ngantuk" Farel pun berlalu pergi ke kamar.
"Dasar anak itu!"
"Sudahlah pi, farel butuh waktu untuk bisa bekerja di perusahaan" Ucap Kila.
"Mami selalu memanjakan farel jadi nya seperti itu, dia tidak memiliki tanggung jawab"
"Pi, Mi aku berangkat duluan ya" Potong revan, seperti dia ingin menghindar dari perdebatan kedua orang tua nya. ia beranjak setelah menyelesikan sarapannya, ia mencium kedua orang tuanya sebelum pergi.
"Lihat revan dia berbeda sekali dengan farel"
"Karena revan lebih dewasa pi"
"Mereka hanya berbeda dua tahun, bagaimana dia mau meneruskan perusahaan kalau kerjanya pulang pagi terus? "
"Papi sabar, nanti mami bicara dengan farel" kila hanya bisa mengelus lengan sang suami yang selalu darah tinggi kalau melihat anak bungsunya itu.
Dari kecil revan dan farel memang selalu di manjakan dengan Fasilitas yang luar biasa dari kedua orang tua nya.
Tapi seiring berjalannya waktu, farel yang sudah berusia 25 tahun harus sudah bekerja di perusahaan, tapi pria itu lebih suka bersenang-senang dengan teman-temannya di luar, bahkan kadang dia pergi ke luar negeri liburan bersama teman-temannya berminggu-minggu tanpa memikirkan bagaimana caranya bekerja.
Sementara revan dia memang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan walau brama tidak langsung memberikan jabatan tinggi, walau anak dari pendiri samuel group tapi brama memposisikan revan sebagai karyawan biasa, begitu juga dengan farel.
Awalnya farel tidak mau menjadi karyawan biasa seperti kakaknya, tapi karena ancaman dari kedua orang tua untuk tidak memberikan Fasilitas kalau dia tidak mau bekerja, farel pun akhirnya mau, walau dia bekerja sesuka hati.
brama dan kila melakukan itu agar revan dan farel bisa belajar bekerja dari bawah, agar nanti saat mereka sudah bisa duduk di atas mereka sudah siap dengan segala kondisi, karena mereka lah yang akan mewarisi Perusahaan.
Tapi bagi farel itu tidak penting, karena tanpa dia masuk kantor pun uang masih mengalir ke rekeningnya.
Berbeda dengan revan yang serius belajar dan bekerja karena dia akan memegang tanggung jawab besar suatu hari nanti.
Siang hari di kantin perusahaan Aulia berdiri di depan kedai, ia sedang menunggu si bawang putih datang, ia terus melihat pintu masuk kantin berharap pria itu muncul.
"Sepertinya hari ini dia tidak makan soto" Gumam Aulia.
"Sepertinya begitu" marni menjawab seraya membawa mangkuk kotor masuk ke dapur.
Aulia pun hilang semangat, dia lalu duduk seraya menopang dagunya.
"Hai cantik" Sapa radit, ia berdiri di depan Aulia.
"Iya Pak radit" segera Aulia menegakkan tubuhnya.
"Jangan panggil bapak dong! Panggil radit saja, biar akrab"
"Hmmm, maaf pak saya tidak enak dengan yang lain"
"Santai saja"
"Aulia, adik aku membutuhkan guru privat matematika yang bisa datang ke rumah, apa kamu bisa jadi guru privat adikku?" Tanya radit.
"Sepertinya jadwal aku sudah full Pak"
"Tolong lah Aulia ! Adikku akan ujian, aku sudah mencari guru privat yang lain tapi tidak ada"
Aulia nampak berpikir "Hmmm, nanti aku lihat kembali jadwal ku pak"
"Aku tunggu segera kabarnya ya"
"Iya pak"
radit pun pergi dengan penuh harap, semoga Aulia mau menjadi guru privat adiknya sehingga dia bisa bertemu aulia di rumah.
Hari ini Aulia kurang beruntung karena revan tidak makan soto di kantin, terasa ada yang kurang kalau tidak melihat wajah si Bawang putih itu.
Setelah selesai membantu marni di kantin, Sebelum kantin tutup Aulia pulang lebih dulu karena dia harus mengajar privat di rumah muridnya.
Karena hari ini dia tidak mengendarai motor, Aulia pun pergi menggunakan transportasi umum angkot. Ia mengganti pakaian dengan kemeja dan celana panjang dengan rambut di kuncir kuda lalu tas di pundak.
Di perumahan mewah sekarang Aulia berada, setelah berjalan kaki cukup lama dari pos Security hingga rumah muridnya, dia pun tiba.
"Tunggu ya anak saya sebentar lagi datang" Ucap Seorang wanita muda.
Dalam hati Aulia tidak menyangka wanita semuda itu sudah memiliki anak, umur wanita itu masih 26 tahun. Lalu siapa anak laki-laki umur 8 tahun itu, apa benar anaknya? Tanya Aulia dalam hati.
Anak laki-laki itu muncul dari lift di rumah itu, anak tampan dan sangat sopan, ia langsung mencium tangan Aulia.
"Hai siapa nama kamu?" Tanya Aulia, ini pertama kali dia akan mengajar privat anak itu.
"Namaku Shaka" jawab anak itu dengan senyum manis.
"Halo Shaka, nama ku Aulia kamu panggil aku Kakak ya!" Ucap Aulia.
"Shaka belajar yang baik dengan Kak Aulia, Mama mau keluar sebentar dengan teman mama" Kata Wanita berkulit putih itu, suara nya sangat lembut dan kecantikan nya seperti bidadari.
Shaka mengangguk mengerti, lalu wanita itu pun pamit pergi.
Begitu wanita itu meninggalkan mereka, Aulia segera mulai mengajar. Shaka terlihat sebagai seorang anak yang cerdas dan mampu memahami materi dengan cepat. Aulia merasa senang karena tak menemui kesulitan dalam mengajar.
Tanpa disadari, satu setengah jam telah berlalu. Pelajaran telah usai, namun saat Aulia ingin pamit, ia merasa bimbang. Pasalnya, wanita tadi belum kembali, dan rumah ini tampak sepi, sunyi seperti tak ada kehidupan. Aulia pun merasa gelisah, matanya mengamati sekeliling, berharap menemukan tanda-tanda kehadiran seseorang.
"Shaka, kalau kakak pulang kamu dengan siapa disini?"
"Dengan bibi" kata anak tampan itu.
"Oh, ya sudah kakak pulang dulu ya, sampai bertemu Minggu depan" Aulia pun lega karena ternyata ada orang di rumah itu.
Saat dia berjalan akan keluar kompleks tidak sengaja ia melihat mobil yang tidak asing menurut nya.
"Mobil itu sama seperti mobil Tuan Revan" Mobil sport warna merah, jelas dia tahu mobil si bawang putih itu, karena di parkiran gedung hanya mobil Revan dan Farel yang paling mencolok, tentu karena hanya dua orang itu yang mengendarai mobil sport ke kantor.
"Ah, yang memiliki mobil itu bukan hanya tuan revan, apa lagi di sini kompleks rumah orang kaya" Aulia menepis pikirannya, ia lalu lanjut berjalan kaki ke depan kompleks.