Amarah Farel

1259 Kata
Brrrrr.. "Nah gitu dong!" Aulia senang mendengar suara motornya, ia pikir motor jadulnya akan mogok lagi. Ia pun lega hari ini bisa mengendarai motor ke perusahaan. Walau motor itu sudah ketinggalan Zaman tapi Aulia bangga mengendarainya, motor jadul itu adalah saksi bisu perjalanan hidup nya dari SMA sampai kuliah, motor itu setia menemani. Angin menerpa wajahnya saat kini Aulia sedang mengendarai motor menuju gedung Samuel group, ia meletakan keranjang nya di belakang, dia ikat sedemikian rupa agar keranjang itu tidak jatuh. Setelah sampai di parkiran ia berusaha membuka pengait Helm jadulnya. "Ih, ayo dong terlepas!" Ia kesulitan melepaskan helm itu. Ceklek... Setelah susah payah pengait helm itu pun terlepas "Hu! dasar Motor sama helm sama-sama jadul, tapi aku sayang kok sama kalian" Ucap Aulia bicara pada motornya. Saat berjalan di parkiran Aulia memicingkan mata melihat mobil merah berhenti di lobby Kantor. "Mobil itu mungkin banyak yang memiliki nya" ia jadi ingat kemarin melihat mobil yang mirip dengan mobil Revan. Pria itu terlihat keluar dari Mobil mahal itu "Tuan, ketampanan anda melewati batas wajar" Ucap Aulia, ia kembali berkhayal. Aulia lanjut berjalan seraya menenteng keranjangnya, ia terus membayangkan sosok tampan Revan yang selalu membuat jantungnya berdebar "Semoga hari ini dia makan soto" Waktu makan siang pun tiba Aulia merapikan rambutnya yang di kuncir dua, ia pun sudah mengenakan apron berwarna hitam, dia sudah bersiap menanti kedatangan si bawang putih. Ia berdiri di depan kedai menyambut para karyawan yang akan datang untuk makan soto Bunda Marni. Mata nya selalu tertuju pada pintu masuk kantin ia berharap Revan hari ini datang makan soto. Bawang putih yang sedang di nanti tapi malah Bawang merah yang datang, Aulia pun tersenyum kecut. "pesan soto 1, kali ini harus enak! Kalau tidak enak aku tidak mau bayar lagi!" Ucap Farel. Aulia mengangguk paham, ia pun masuk ke dapur untuk menyiapkan pesanan si Bawang merah. Tidak lama Aulia datang membawa Soto pesanan Farel. Tidak ada kalimat yang terucap, dia hanya meletakan pesanan pria itu lalu pergi. "Eh kenapa pergi?" Kata Farel. Aurin pun berbalik badan, ia melihat Farel bingung. "Kamu tidak ada sopan santunnya, apa mulutmu tidak bisa bicara? Kenapa kamu tidak mengatakan, silahkan tuan atau ini pesanan anda tuan, apa tidak bisa ha ?" Kata Farel lagi, suara nya yang tinggi mengundang perhatian banyak orang. "Kamu lupa aku ini siapa?" Farel berdiri menatap tajam ke arah Aulia yang masih diam. Baru saja Aulia akan berkata tiba-tiba marni datang. Pemandangan yang membuat semua orang berhenti dari aktivitas mereka, semua mata yang melihat ikut merasakan takut karena mereka tahu siapa Farel. "Maaf tuan, maafkan anak saya mungkin dia sedang tidak enak badan" kata Marni beralasan, ketika mendengar kegaduhan itu ia langsung menghampiri mereka. "Bunda, aku..." "Sudah Aulia kembali ke dapur!" Kata Marni memotong ucapan Aulia. Tatapan mata Aulia tidak kalah tajam pada pria itu, dengan kesal dia pun pergi. "Tolong ajarkan anak ibu sopan santun! Aku masih berbaik hati hari ini jadi aku maafkan!" "Iya tuan terima kasih, sekali lagi saya minta maaf" Dari jauh Aulia melihat sang Bunda yang terus menunduk kepala meminta maaf pada Farel, ingin rasanya dia memberontak dan melawan pria itu tapi pasti Bundanya akan lebih marah kalau dia melawan. Ia hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Bersamaan dengan itu sosok pria yang Aulia tunggu datang, kehadiran nya langsung menyejukkan hati Aulia yang sedang panas membara. Di bibir nya mengukir senyum saat Revan berjalan ke arah kedainya. "Soto satu ya!" Kata Revan, suara nya yang lembut membuat Aulia refleks menjawab. "Iya tuan" seperti kalimat itu mengalir saja keluar dari mulutnya. Dari kejauhan, ujung mata Farel melihat bagaimana Aulia memperlakukan kakaknya, sangat berbeda ketika kepadanya. "Silahkan tuan" Aulia meletakan mangkuk di meja Revan, senyum ramahnya ia pasang hingga membuat Farel merasa kesal dari kejauhan. "Terima kasih" kata Revan, ucapan terima kasih dari pria itu saja bisa membuat Aulia berbunga-bunga. Apa lagi kalau ungkapan cinta? Ah, ayolah Aulia bangun dari khayalan mu! Ucapnya dalam hati. Aulia meletakan nampan di meja depan kedai dengan bahagia, akhirnya si bawang putih muncul juga. "Auliaa !" Panggil marni membuat Aulia menoleh ke arah dapur. "Sini!" Katanya lagi, Aulia pun mendekat. "Ada apa Bunda?" "Tolong jaga sikap kamu pada tuan Farel, Bunda tahu kamu tidak menyukai nya tapi tetaplah sopan kepada dia" " Tapi bunda, dia duluan yang tidak sopan" "Kita masih perlu kerja di kantin ini Aulia" Seketika Aulia menunduk, ia sadar keluarga nya hanya orang kecil yang harus mengalah kepada mereka yang memiliki uang walau dia benar. "Baik, bunda" Kata Aulia lirih. Hari-hari berikutnya Aulia pun harus bersikap sopan kepada Farel yang berlaku seenaknya, ia menahan kesal dan memaksa tersenyum walau hatinya enggan melakukan itu pada si bawang merah. Tapi untung saja di setiap rasa kesalnya ada Revan yang menjadi obatnya, seperti melihat surga dan neraka secara bergantian ketika ada Panas ketika melihat Farel dan sejuk ketika melihat Revan. Sore hari Aulia sudah menutup kantinnya dan akan pulang ke rumah, saat dia baru keluar dari lift karyawan dia berpapasan dengan Revan yang sedang sibuk telepon. "Iya aku sana sekarang, kamu jangan terlalu cantik ya nanti banyak orang yang melihat mu" Kata Revan kepada seseorang di telepon. Aulia yang di dekatnya mendengar itu bersamaan dengan Revan yang lewat di depannya. "Cantik" Ucap Aulia di dalam hati. Seketika hatinya seperti terbelah dua, ia mematung sejenak seraya menenteng keranjang di tangan. "Aulia, kok begong? Ayo kita pulang!" Kata marni saat dia menoleh malah melihat Aulia berdiam diri. Ia berjalan lemas, seperti tidak memiliki tenaga saat dia mendengar Revan bicara seperti itu di telepon, Rasanya seperti patah hati. Saat di rumah, ia menceritakan apa yang terjadi tadi pada anhar sang Ayah, Seperti yang dia lakukan setiap hari nya ketika pulang bekerja. "Hahaha, kenapa kamu cemburu? Dia kan bukan milikmu" Kata Anhar. Aulia malah cemberut "Iya ya, mana boleh aku cemburu, memangnya aku ini siapa?" "Tidak usah berkecil hati" Kata Anhar. Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan tapi terkadang dunia memang terasa tidak adil untuk seorang Aulia yang mengagumi sosok pria seperti Revan. Anhar membuka sedikit pintu kamar Aulia, di lihatnya gadis itu sudah terlelap di balik selimut. Rasa iba dan sesal pun di rasakan Anhar "Seandainya orang tuamu masih hidup nak, mungkin hidup mu bisa setara dengan pria itu" Kecelakaan itu meninggalkan luka di hati yang sampai hari ini tidak akan pernah sembuh. Kehilangan dan pengkhianatan yang di rasakan Anhar membuatnya menaruh dendam. Anhar menutup pintu kamar Aulia perlahan. Ceklek... Kila menghampiri Farel yang sedang merokok di balkon, dengan balutan gaun tidur satin dan rambut tergerai indah, wanita itu masih terlihat sangat cantik di usia yang tidak lagi muda. "Farel " sapa Kila. "Eh Mami" Segera Farel membuang puntung rokok nya kemudian tangan nya di kibaskan untuk menghilangkan asap rokok yang mengepul. "Bagaimana tadi di kantor nak? Apa kamu ada kendala disana?" "Aman mami" "Papi menaruh harapan besar pada kamu dan Revan, jangan kecewakan papi ya nak" "Ada Revan mi, Papi lebih bangga pada dia" "Papi bangga pada kalian berdua" Farel bersandar di balkon, ia mendengar kan sang mami yang sedang memberikan nasihat padanya, tapi suara kila tidak terdengar ketika bayangan Revan yang pernah mengecewakan nya hadir kembali. Alasan yang membuat Revan dan Farel tidak pernah akrab adalah seorang wanita, mereka pernah jatuh cinta pada orang yang sama. Tapi sayang wanita itu lebih dewasa dari Farel dan dia lebih memilih Revan. Hati Farel sangat kecewa pada kakaknya, sejak itu hubungan mereka tidak pernah baik walau berkali-kali Revan ingin memperbaiki hubungannya dengan adiknya tapi pria itu tetap bersikap dingin. Di tambah sang papi yang ikut mendukung hubungan Revan dan wanita itu, menambah kekecewaan Farel, seperti dia telah di khianati oleh semua orang terdekat nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN