PART 2: Kesukaan Mama

1024 Kata
Sepanjang keluar dari ruangan tersebut, aku tidak henti-hentinya mengembuskan napas panjang. Mengabaikan pesan masuk yang dikirim berkali-kali dari Aksa yang menanyakan posisiku dan langsung menyongsong tempat parkir sekaligus mengetuk kaca mobilnya, hingga membuat laki-laki yang tengah duduk di kursi pengemudi itu terlompat sejenak seperti melihat hantu. "Kamu ngagetin aku!" katanya kesal sementara tangannya memegang d**a. "Aku pikir tadi beneran lihat hantu." Yang kulihat bahkan lebih gawat daripada hantu! Tapi aku enggan menjelaskan dan tetap membisu memintanya untuk menjalankan mobilnya setelah duduk di kursi penumpang. Namun baru saja mesin menyala, sebuah ketukan di kaca jendela kembali mengagetkan kami, kali ini aku pun ikut terlonjak di kursi. "Sial!" Aksa merutuk, wajahnya sudah pucat pasi. "Ada apa sih, sama orang-orang hari ini?" "Maaf Mba," kata Mba-Mba pramusaji yang mengagetkan kami ketika Aksa menurunkan kaca jendela. "Mba yang namanya Mba Mia, kan? Saya disuruh Pak Ran untuk panggil Mba karena ada yang ketinggalan." Hah? Aku segera celingak-celinguk, seingatku aku bahkan tidak mengeluarkan apapun. Lantas apa? "Tasnya Mba." Si pramusaji mengingatkan. Sial, gara-gara ingin cepat kabur dari Ran aku jadi lupa membawa totebagku kembali. "Sebentar." Aku segera keluar dari mobil setelah meminta izin pada Aksa tapi sepertinya aku tak perlu repot-repot karena Ran sudah menunggu, berdiri di depan pintu masuk, membawa serta totebagku yang berwarna peach di tangannya, sangat kontras dengan tubuhnya yang menjulang dan matang. Pemandangan ini justru mendadak menghantamku pada ingatan di masa lalu, di mana dia pernah melakukan hal yang sama, menenteng tasku sementara aku berjalan manja di depannya ... “Itu yang namanya Pak Ran? He's so adorable and responsible. Pake bawain tas kamu segala." Aku mendengar Aksa berkomentar, tiba-tiba kini sudah berdiri rapat di sampingku. "Tapi kalau aku sih, nggak mau kayak gitu.” Aku menoleh seketika. "Kenapa?" "Kelihatan aneh Mia, apalagi di tempat seramai ini." Tapi Ran tidak terlihat aneh, tas feminin di tangannya tidak lantas membuat aura mengintimidasinya luntur begitu saja justru laki-laki itu terlihat semakin ... manis. Bahkan ketika aku mendekat dan laki-laki itu mengulurkan tasku, Ran tidak terlihat canggung. Membayangkan dia sudah melakukan ini melewati pelanggan di Kotak Imaji Cafe membuatku tersipu. "Makasih," kataku tulus. "Kebiasaan kamu yang ceroboh nggak berubah." Aku ingin menjawab bahwa dia pun sama saja, sikapnya tidak sepenuhnya berubah seperti penampilannya, tapi aku menahan lidahku, takut komentar itu akan membuat kami sama-sama berada dalam masalah. Ran kemudian memandang melalui atas kepalaku. "Itu pacar kamu?" tanyanya saat melihat Aksa. "Bukan urusan Bapak nanya-nanya kehidupan pribadi saya." Rahang Ran mendadak mengetat. "Saya bukan sedang bertanya sebagai interviewer, jadi stop panggil saya Bapak." "Terus nanya sebagai apa?" tanyaku berani. Ran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sebelum menjawab. "Teman." Idih, teman? Teman? Aku paham aku memang menyebalkan, dan selalu ada alasan kenapa mantan bisa menjadi mantan, apalagi dalam kasus Ran, bukan dia yang meninggalkan semacam trauma tapi akulah yang mungkin membuatnya sengsara. Mungkin aku seharusnya merasa lega saat dia mengatakan itu, tapi entah kenapa harga diriku justru terluka. "Mungkin Bapak lupa, jadi dengan senang hati saya ingatkan lagi. Kita nggak pernah jadi teman." Aku tidak perlu menunggu reaksinya untuk segera berbalik badan dan kembali pada Aksa yang menungguku, saat aku menoleh, Ran sudah tidak terlihat lagi. Secepat itu dia pergi. *** "Lah nggak bawa apa-apa?" Aku kontan mendengus mendengar komentar pertama dari Mama ketika menyambutku di depan pintu. Lucu bagaimana beliau selalu mengharap aku akan membawa sesuatu saat pulang bersama Aksa. Sikapnya itu lebih mirip bocah daripada wanita paruh baya. Bahkan adikku Gege terlihat jauh lebih dewasa. "Memangnya ngarep aku bawa apa?" tanyaku berusaha sabar. Mama berdecak sebal. "Ya apa gitu, kan tau Mama suka banget soto Lamongan, atau nasi kebuli ... dibawain kue cubit pun Mama nggak nolak," katanya mulai mendaftar makanan yang dia suka. "Atau itu tuh kebab kesukaan Gege juga nggak pa-pa, ya kan Ge?" Gege yang ikut disebut hanya mengangguk tidak peduli, duduk di depan televisi dengan ponsel di tangan, tetap fokus bermain game. "Jangan bawa-bawa Gege padahal itu kesukaan Mama semua." "Iya." Mama tidak repot-repot membantah. "Memang habis dari mana aja? Kalau jalan-jalan berdua tuh mbok ya ingat keluarga, Mia." "Aku abis interview Ma, bukan jalan-jalan." "Ya memangnya nggak bisa mampir sebentar? Di jalan kan, banyak yang jualan maka—“ "Nggak bisa," selaku cepat. "Jangan kebiasaan, kalau Aksa sendiri yang inisiatif beliin oke, tapi aku nggak mungkin minta-minta beliin sesuatu sama dia." "Kenapa?" Astaga, kenapa malah ditanya kenapa, sih? "Dia kan pacar kamu." Nah itulah masalahnya, dia pacarku bukan suamiku apalagi ATM berjalanku. Jangan mentang-mentang Aksa sudah bekerja, Mama jadi semena-mena memanfaatkannya. Aksa tidak memiliki kewajiban apapun untuk menuruti kemauan keluargaku. "Kalau kamu udah kerja Mama juga nggak bakal kayak gini Mia." Tuh kan, aku lagi yang disalahkan. "Lihat tuh anaknya Bu Lena yang cuma tamatan SMA sekarang udah jadi supervisor, udah bisa beliin keluarganya apa aja." Oh here we go, mulai lagi. "Nggak perlu pake kuliah segala!" lanjut Mama. "Kalau kamu dari dulu udah kerja, mungkin sekarang kamu udah jadi manajer." "Aku juga lagi usaha, Ma." "Usaha apa?" Mama meradang. "Dari dulu nggak ada perubahan, berarti usahamu belum maksimal kalau masih jadi pengangguran." Demi kewarasan aku diam saja. "Atau kamu mending cepat-cepat deh nikah sama Aksa, daripada nanti dia keburu diambil perempuan lain, mending kamu ajak dari sekarang!" Sebagai orang yang tahu betul Aksa bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja, Mama jelas tidak ingin kehilangan kesempatan. Berkata kalau laki-laki itu serius denganku, dia harus royal terhadap calon keluarga. Kadang-kadang aku merasa malu kalau beliau sudah bertingkah berlebihan. Contohnya seperti sekarang ini, beruntung tadi Aksa langsung pergi setelah mengantarku pulang atau aku akan malu setengah mati. "Begitu tuh kalau diomongin, pura-pura budek. Mama belum selesai ngomong loh, Mia!" bentak Mama ketika melihatku mengabaikannya dengan segera masuk ke kamar berniat menyudahi ocehannya. "Aku udah tau, Ma, aku bakalan kerja, nggak usah ngomong ngelantur mulu!" Mama terdengar menyumpah serapah, sementara aku menyumpal telingaku dengan headset tak ingin mendengar seluruh kata kasarnya. Dalam hati aku berdoa semoga lamaran hari ini akan membuahkan hasil. Aku sudah lelah ya Tuhan, aku butuh pemasukan. Dan semoga masa lalu kami tidak akan mempengaruhi penilaian Ran, meski aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku bekerja bersama dengannya nanti. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN