"Dia pasti dendam sama lo, Beb."
"Nggak usah nakut-nakutin."
"Siapa yang nakutin, sih? Lo memang nggak inget gimana mukanya dulu pas lo putusin dia?"
"Gimana?"
"Kayak mau mokat gitu."
Astaga, aku meringis mendengar pemilihan kata Marin sebelum mengoleskan lip tint berwarna nude di bibir lalu memastikan penampilanku untuk yang terakhir kalinya. Seorang perempuan berambut sebahu dalam kemeja putih dan rok celemek marun ber-name tag Laksita Mia balas memandangku melalui cermin.
Yah, aku akhirnya diterima kerja di Kotak Imaji, sebuah kafe trendi yang populer di kalangan muda-mudi.
Sekarang di hari pertamaku bekerja, aku mendadak demam panggung dan menghubungi Marin sebagai penghiburan dari Ran, namun alih-alih ditenangkan, sahabat laknatku itu malah membuatku semakin gelisah.
"Sialan lo, Rin."
Kudengar Marin di seberang sana tertawa, tawa teler karena dia pasti baru pulang dari kelab tempatnya bekerja.
"Ya udahlah, Beb, jalanin aja lo nggak mau jadi pengangguran terus, kan?" katanya seperti orang waras. "Lagian dia bisa apa, sih? Paling-paling mecat lo kalau kerjaan lo ternyata nggak bener."
Itulah masalahnya.
"Sama aja gue jadi pengangguran lagi dong?"
"Tapi kan, mustahil di hari pertama lo kerja, cantik."
"Hari sial siapa yang tau?" balasku membalikkan nasihatnya beberapa hari yang lalu.
Marin berdecak. "Zeyeng lo tuh kasir, percayalah lo nggak bakal banyak berinteraksi sama—siapa nama mantan lo itu?"
"Ran," sebutku membantunya.
"Nah iya," katanya. "Lo tuh bakal banyak berinteraksi sama pelanggan. Jadi stop overthinking dan sekarang mulai dengan 3S kayak template menghadapi pelanggan. Sapa, Senyum, Sopan. Okay?"
Tanpa sadar aku pun mengikuti arahannya.
"Jangan lupa Bismillah," tambah Marin manis.
Aku terharu karena bestie-ku itu mulai agamis, dan mungkin saja akan bertobat dalam waktu dekat, tapi aku tidak sempat membahasnya lagi karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, yang artinya shiftku akan dimulai, jadi aku memutuskan untuk menutup sambungan telepon setelah menyuruhnya tidur.
Aku mengembuskan napas panjang, lalu mempraktikkan saran dari Marin. Bibirku menyunggingkan senyum lebar ketika aku membuka pintu ruang khusus karyawan tersebut dan langsung menemukan Ran berdiri di hadapanku. Seperti biasa matanya yang sipit memicing begitu melihatku.
"Ditungguin lama banget, sebentar lagi kita ada briefing pagi. Ayo!"
Aku tak sempat membalas ketika laki-laki itu langsung melangkah pergi, buru-buru aku mengikutinya, berjalan cepat demi menyamai langkah-langkah panjangnya. Mana aku mengenakan heels tujuh senti!
"Memang briefingnya di mana?" tanyaku saat kami melewati ruang indoor yang dari jendela kacanya tampak beberapa karyawan lain sudah standby duduk di sana.
Ran diam saja, lalu berhenti di depan meja kasir.
"Saya ingat kamu belum punya pengalaman, jadi sebaiknya hari ini kamu nggak dilepas handle pelanggan sendirian. Kamu tau apa itu POS?”
Aku mengangguk. "Point Of Sales, kan?"
"Tau fungsinya buat apa?"
"Untuk mencatat dan memproses transaksi?" kataku ragu-ragu.
"Tau gimana cara mengoperasikannya?"
"Se-sedikit."
"Jawab yang jelas, tau atau enggak?"
"Enggak, Pak!" seruku kaget, kenapa tiba-tiba dia jadi galak?
"POS bukan cuma sekedar mencatat transaksi jual beli atau mencetak setruk," kata Ran menjelaskan. "Tapi juga melihat menu yang paling favorite dan yang tidak, menyimpan data pelanggan, menghitung keuntungan dan kerugian, juga menghasilkan laporan penjualan," tambahnya super lancar. Lalu kepalanya mengedik, memintaku untuk mendekat ke layar di depan kasir yang menyala.
Aku nurut saja takut tiba-tiba dia akan berteriak lagi sementara Ran berdiri di belakangku.
"Begini cara kerjanya." Dia kemudian mendemokan cara kerja aplikasi tersebut sampai kertas nota dan checker tercetak. Aku sih, senang-senang saja diajari seperti ini, apalagi Ran juga menjelaskannya dengan sangat detail dan mudah dipahami, tapi masalahnya dia sangat dekat, berdiri rapat di belakang punggungku.
Ditambah jari-jarinya bergerak lincah menekan beberapa hal yang harus kupastikan saat pelanggan melakukan pembayaran, dan tiap kali melakukannya, Ran harus menunduk sehingga dagunya hampir menyentuh kepalaku, lengannya bersinggungan dengan lenganku, wangi tubuhnya membungkus indera penciumanku.
Aromanya itu loh ... lembut seperti bayi. Dan mau tidak mau, aku merasa seperti dejavu. Mengingatkanku akan masa lalu saat kami berada di rumahnya, sementara dia menanggalkan pakaiannya dan aku berusaha ...
"Paham nggak, Mia?"
"Paham, Pak!" sahutku sudah seperti orang t***l. Wajahku terasa panas dan merah padam.
Ran mendengus, mundur selangkah ketika melihat reaksiku. "Kenapa? Saya bau?"
Astaga, aku baru sadar bahwa tanganku sudah terangkat untuk menutupi hidung seperti masker, sangat tidak sopan! Buru-buru aku menurunkannya dan menggeleng. "Sorry."
"Kalau sudah paham coba kamu ulangi, saya mau lihat apa penjelasan saya memang beneran masuk ke otak kamu atau cuma menguap jadi debu."
Aku tidak pernah menyangka kalau Ran bisa seserius dan setegas ini saat bekerja. Dengan perlahan aku pun menuruti perintahnya, tapi jari-jariku bergerak canggung di layar hingga beberapa kali melakukan kesalahan.
Ran di belakangku jangan ditanya. Laki-laki itu sudah mendengus-dengus frustrasi.
"Sabar dong saya bisa kok!" kataku saat Ran akan mengulurkan tangannya untuk mengoreksi. "Bapak geseran dikit makanya!"
Raut wajah Ran kelihatan tersinggung saat bergeser ke samping tubuhku. "Begini?"
"Iya diem di situ, Bapak kan tinggi jadi pasti kelihatan."
"Kamu terlalu banyak gaya."
"Saya nggak bisa konsen kalau dipepet terus."
"Karena aroma tubuh saya?"
Aku menduduk mencoba berkonsentrasi mencari resume payment yang tadi dijelaskannya saat akan melakukan closing. Ada di mana sih, tulisan sialan itu?
"Mia?"
Duh, kenapa tidak ketemu? Sembunyi di mana wahai kau resume payment? Kenapa mataku mendadak membayang dan sulit mencarinya?
Sambil mendengus sebelah tangan Ran terulur untuk menceklis tulisan yang terletak di sebelah kanan layar. Di situ ternyata!
Kenapa aku tadi tidak menemukannya!?
"Kita sudahi saja ini dan lanjut briefing, nanti saya minta Tata untuk bantu ajari sekalian temani kamu sebelum kamu bisa mandiri melayani pelanggan," kata Ran memutuskan. "Saya tau kamu nggak nyaman, tapi saya nggak bisa apa-apa. Kamu harus mulai terbiasa."
"Saya udah terbiasa kok!" jawabku entah kenapa malah keceplosan.
Sudut bibir Ran tertarik sedikit membentuk senyuman. "Gitu ya?"
Tiba-tiba saja dengan perlahan dia melangkah mendekat, memaksaku untuk mundur sampai aku bisa merasakan pinggangku membentur pinggiran meja. Sementara Ran semakin mendesak aku merasa seperti terjebak.
"Tapi kenapa yang saya lihat justru sebaliknya, Mia?"
"Bukan gitu." Aku nyaris panik ketika aroma tubuhnya kembali menyerbu indera penciumanku. "Mundur, Ran."
"Kenapa?" Sial dia malah tersenyum lagi, senyum yang memunculkan lesung pipinya. Tanpa sadar aku menatap ciri khasnya itu. Ran menunduk menyadari arah pandanganku dan senyumnya melebar. "Do you like what you see?"
Napas berat terembus melalui mulutku.
"Mia?"
"Kamu bikin aku nggak bisa bergerak. Kalau kamu nggak mundur aku bakal laporkan ini sebagai pelecehan terhadap karyawan," kataku berusaha melawan. "Mundur sekarang, Ran."
Rahang Ran mengencang mendengar perkataanku yang lancang, dengan keras kepala laki-laki itu menolak menuruti perintahku, lama dia tidak mau menyerah sampai ponsel di saku apronku berbunyi dan memutus aksi saling adu tatap kami.
Dengan terpaksa Ran akhirnya mundur dua langkah, aku langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, merasakan aliran darahku yang memburu, dan titik-titik keringat di keningku. Aku berusaha menetralkan degup jantungku sebelum menggulir tombol hijau.
Tapi kabar yang disampaikan dari seberang telepon membuatku mendadak kaku. Ran yang menyadari perubahan raut wajahku langsung bertanya.
"Ada apa?"
Aku tidak sanggup menjawab, kakiku terasa tak bertenaga, jari-jariku mendadak lemas seketika, tubuhku nyaris ambruk kalau saja Ran tidak segera menangkapnya.
***