PART 4: Berita Dari Mama

1253 Kata
Aku pernah menyaksikan Mama histeris saat adikku terjatuh dari sepeda ketika berumur sepuluh tahun, aku juga pernah melihat Mama berduka saat kami harus kehilangan Papa beberapa bulan setelah aku diwisuda. Tapi aku belum pernah menyaksikan Mama dalam dua kombinasi ekspresi tersebut sekaligus sehingga efeknya beliau sangat sulit untuk diajak bicara. "Yang bener dong, Ma. Ngomong yang jelas, gimana Mia mau paham kalau Mama nangis terus," seruku berusaha sabar dengan kembali mencoba mengajaknya berkomunikasi. Mama menyedot ingusnya menggunakan tisu, sebelum menggumpal benda itu dan melemparnya ke lantai, bergabung bersama gumplan tisu lain. "Mama kan udah bilang ini bukan salah Mama. Mama nggak ngerti gimana tapi Mama nggak salah Mia, uangnya nggak ada." "Terus gimana bisa nggak ada? Dibawa kabur? Yang jelas Ma, itu uang ke mana?" "Mama nggak tau, Mia!" "Stop bilang nggak tau mulu, Mama tau apa yang Mama lakukan. Mama nggak kasihan sama Gege?" Tangis Mama semakin heboh, beliau kembali menarik lembaran tisu di meja dan mengusap air matanya. "Mama cuma ikutin saran mereka, apalagi udah ada testimoninya, makanya Mama percaya dan berani coba investasi di sana." "Kenapa Mama nggak cek dulu testimoninya beneran atau nggak?" "Mana Mama tau kalau ternyata mereka penipu, Mia! Mama nggak nyangka Mama sebodoh itu!" Nyatanya itulah yang pertama kali muncul di kepalaku ketika beliau menelepon pagi tadi dan memberitahukan sudah ditipu oleh sejumlah komplotan yang mengaku sebagai perusahaan investasi emas. Korbannya pasti tidak jauh-jauh dari orang-orang seperti Mama, seorang pensiunan, ibu rumah tangga, single parent, atau orang-orang yang kurang berpendidikan, mudah dibujuk lalu diiming-imingi keuntungan dua kali lipat. Aku menelan ludah dengan susah payah. "Berapa banyak uang Mama yang udah terlanjur dikasih ke mereka?" Mama tersedu-sedu enggan menjawabku. "Ma?" "Mama takut, Mia!" "Berapa banyak, Ma?" "Lima puluh!" "Apa?" "Juta." Kepalaku langsung pening, dengan sempoyongan kakiku terduduk lemas di sofa, memijat kepala. "Dari mana Mama punya uang sebanyak itu?" Membayangkan sehari-hari kami hidup dalam kesulitan. Mengandalkan uang pensiunan Almarhum Papa sebagai PNS yang tidak seberapa, ditambah Gege masih kelas satu SMA dan membutuhkan banyak biaya. "Itu uang tabungan Mama rencananya untuk kuliah Gege," jawab Mama sambil menunduk dan meremas tisu yang sudah basah di tangannya. "Iya tapi dari mana, Ma?" "Mama pinjam bank." Allahu Akbar, aku nyaris mencekik lehernya kalau Gege tidak tiba-tiba nongol di depan pintu, membawa plastik berisi minuman dari IndoApril yang tadi kusuruh untuk dibelinya sementara aku ingin bicara berdua dengan Mama. "Udah minum dulu Mba." Gege mengulurkan sebotol coke untukku dan sebotol jus jeruk kemasan untuk Mama yang langsung kuteguk setengahnya. "Suara kalian kedengaran sampai luar." Yah, biar saja tetangga dengar, aku sudah tidak tahu bagaimana harus bereaksi dengan berita ini. "Kenapa aku bahkan nggak tau kalau Mama pinjam bank, bukannya harus ada persetujuan anggota keluarga juga?" Aku menoleh ke Gege. "Kamu tau soal ini?" Gege menggeleng. "Mama palsuin tanda tangannya karena Mama tau pasti kamu nggak akan setuju." Mama akhirnya menjawab. "Ya itu tau!" raungku jengkel. "Terus kenapa masih dilakuin loh, Ma!" Pinjam uang bank saja sudah aneh, ditambah untuk investasi abal-abal pula. "Jangan salahin Mama Mia!" balas Mama ikut meradang. "Mama cuma mau bantu keuangan kita karena kamu nggak kerja-kerja, kamu pikir dari mana lagi Mama bisa dapat tambahan uang buat sekolah Gege?" Oh ya, tentu saja semuanya adalah salahku, Mama sangat jago membuat orang lain ikut merasa bersalah. Dan kata-katanya tidak bisa kubantah. Akulah yang sebagai anak sulung tidak bisa diandalkan, akulah yang telah lama jadi pengangguran. Akulah yang memaksa Mama berbuat nekat, akulah yang sebenarnya jahat. "Kalau Mama mau sabar sebentar aja, semua pasti nggak bakal kayak gini." "Mama udah cukup bersabar, Mia." "Nyatanya sekarang aku berhasil dapet kerja." "Tapi gajinya nggak seberapa!" "Setidaknya aku nggak bikin kita sekeluarga dalam masalah." "Nggak usah bantu kalau nggak mau." "Aku nggak bilang aku nggak mau bantu." "Terus apa? Biarin aja Mama mat-" "Kalau kalian masih mau ribut terus aku boleh keluar aja nggak?" Gege menginterupsi aksi saling ngotot kami. Aku mendengus kembali memijat kepala, sementara Mama menyedot ingusnya. "Mama capek banget, Mama udah coba cari ke mana-mana, tapi orangnya beneran kabur dan udah nggak bisa dihubungi." "Udah coba laporin ke polisi?" tanyaku setelah berhasil mengendalikan diri. Beliau mengangguk. "Tapi kamu tau sendiri prosesnya selama apa, kan?" Itu mungkin artinya sama saja kami tidak memiliki harapan. Lalu bagaimana musibah ini bisa kami atasi? "Gimana sama kerja kamu, Mia?" "Apa?" tanyaku balik, bingung karena tiba-tiba beliau bertanya padahal baru saja menghina pekerjaanku itu. "Kamu bisa bantu Mama, kan?" Ya Tuhan, aku bahkan baru bekerja sehari, kenapa cobaan justru datang bertubi-tubi? Sekarang apa yang bisa kujanjikan pada Mama? Memangnya aku bisa melakukan apa? Tapi melihat matanya yang kembali berkaca-kaca, dan tatapan penuh harap dari Gege, aku tidak bisa tidak berkata. "Mia usahakan, Ma." Walaupun entah bagaimana caranya. *** "Mba pergi aja biar aku nanti yang jagain Mama." "Beneran nggak pa-pa?" Gege mengangguk lalu mengambil alih nampan berisi sarapan di tanganku untuk kemudian membawanya ke kamar Mama. Beliau sudah dua hari mengurung diri dan selama itu pula Mama kelihatan semakin murung dan enggan makan apapun. Aku khawatir beliau akan sakit, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan, sebagai karyawan baru penting bagiku untuk menjaga kepercayaan atasan. Jadilah pagi itu setelah memastikan Gege tidak akan kerepotan dan untungnya hari ini dia libur sekolah, aku bergegas menuju ke lokasi kerjaku. Ketika sampai, aku langsung melakukan absensi di mesin finger print, merasa lega karena belum terlambat meskipun hanya semenit. Begitu berbalik sambil mengembuskan napas panjang, kulihat Ran sedang berdiri di depan ruangan, tangannya terlipat di depan d**a, dia mengetuk-ngetukkan jam di pergelangan tangannya seolah memberitahuku hampir saja terlambat. Aku merapikan rambut sebahuku sambil mendengus. "Pagi Pak," sapaku padanya, berusaha ramah. Ran tidak repot-repot menjawab sapaanku. "Cepat ganti seragam, kalau telat briefing saya anggap kamu setuju untuk potong gaji." Ancaman macam apa itu? Aku mendelik sambil mengacungkan kepalan tanganku pada sosoknya yang sudah berbalik pergi. "Oh ya satu lagi." Buru-buru aku mengangkat kepalan tanganku ke udara seperti sedang berolahraga. "Tata bilang hari ini kamu sudah bisa dilepas handle pelanggan sendiri, jadi sekarang dia udah nggak perlu bantuin kamu lagi dan bisa fokus di bagian pramusaji. Ngerti?" "Ngerti, Pak." Senyumku kaku. Alis Ran tampak menyatu melihat gerakan tanganku. "Ngapain kamu?" "Olahraga, saya butuh banyak gerak biar nggak kram berdiri terus depan meja kasir." "Ini bukan saatnya olahraga, tapi kerja." "Memangnya Bapak nggak pernah olahraga? Kesehatan itu penting loh, Pak. Bapak nggak mau kan mati muda karena sibuk kerja terus dan nggak sempat olahraga?" "Dari mana kamu bisa simpulkan saya nggak pernah olahraga?" "Iya saya nanya aja, Pak. Kalau Bapak rutin olahraga ya bagus." Ran mendengus. "Kamu tau di dunia ini ada yang namanya deodoran, Mia?" Gerakan tanganku sontak berhenti. "Tolong dipakai selagi kamu kerja nanti." Apa-apaan dia? "Memangnya saya bau?" Dengan keki aku memastikan kedua ketiakku tidak basah dan menghirup aromanya bolak-balik. Tidak bau sama sekali. "Saya udah mandi kok!" "Nggak ada yang bilang kamu belum mandi, tapi saya nggak mau pelanggan saya kabur karena nggak nyaman harus mencium bau badan." Sial, rupanya dia masih dendam perkara aku tidak sengaja menutup hidung kemarin. "Saya selalu pakai parfum loh, Pak." "Saya tahu, tapi usahakan jangan yang menyengat." "Menurut Bapak wangi parfum saya menyengat gitu?" Aku meradang melihat hidungnya mengerut sambil mengibaskan tangan seolah ingin mengusir bau tidak sedap di udara. "Menurut Bapak saya-" Tiba-tiba dia maju beberapa langkah, memaksa kepalaku mundur dan punggungku membusur, wajah Ran persis di samping wajahku, dia mengendus tepat di samping leherku. Aku menahan napas sementara embusan napas Ran membuat rambut halus di tengkukku berdiri. "As I remembered, wanginya masih sama." Saat kembali berdiri tegak, lesung pipi di sisi kanannya terbit. "Saya suka." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN