PART 5: Kesalahan Fatal

1298 Kata
"Lain kali lebih teliti dong, Mba!" Aku menunduk, meminta maaf berkali-kali pada customer di hadapanku. "Saya kan nggak pesan fettucini, kok bisa-bisanya di nota pembayaran saya ada pesanan itu, gimana sih?" lanjutnya ketus sambil mengibaskan kertas setruk yang dipegangnya. "Untung saya nggak nuduh Mbanya curang, loh." Tapi yang dikatakannya jelas menunjukkan yang sebaliknya. Matanya nyalang memindai penampilanku seakan ingin memastikan aku sadar apa yang sudah kuperbuat. Aku memang salah, bisa-bisanya nota yang kuberikan pada customer tertukar, sekarang ada dua pasangan yang menyerbu meja kasir karena merasa pembayaran mereka tidak sesuai yang dipesan. Padahal menurut penjelasan Ran tempo hari, POS itu serba otomatis hingga kemungkinan melakukan kesalahan sangat minim, tapi karena kebodohanku yang seharian ngeblank memikirkan Mama aku jadi sulit berfungsi normal. "Mohon maaf Kak, lain kali kami akan lebih teliti, sebagai permintaan maaf kami, Kakak tidak usah membayar dan kami akan mengembalikan semua uang Kakak." Tata ikut membantu, meminta maaf sekaligus menawarkan solusi karena teriakan si Mba itu lama-lama menarik perhatian customer lain. "Ini Kak, terima kasih sudah datang ke Kotak Imaji." "Nah, gini kan enak," kata si Mba sambil menerima selembar uang seratus ribuan yang tadi dibayarkannya. "Makasih ya, tapi tolong jangan diulangi lagi!" "Siap, Kak." Aku dan Tata serempak menyahut. "Udah santai aja nggak usah sedih," kata Tata ketika kami sudah menyelesaikan semua masalah sambil menepuk pundakku. "Beberapa customer masih ngelihatin kita tuh." "Sorry banget, Ta, lo jadi ikut turun tangan gara-gara gue," balasku meminta maaf sekaligus berterima kasih pada seniorku itu. Tata mengibaskan tangan santai. "Yang penting jadiin ini sebagai pelajaran, dan jangan sampe keulang lagi," katanya pengertian. "Lagian lo kenapa deh daritadi kayak orang ngelamun mulu. Lagi ada masalah, ya?" Aku meringis membenarkan. "Sedikit." "Kenapa?" Dia kemudian berbisik. "Pasti gara-gara cowok, ya?" Seandainya memang begitu, mungkin aku akan bersyukur, tapi masalahku bahkan lebih rumit dari tebakannya. Aku hanya tersenyum sendu. "Udahlah cowok di mana-mana tuh sama aja," katanya salah mengartikan senyumanku. "Nanti mereka bakal ngejar lagi kalau kangen. Kalau lo putus cari yang lain." "Sesimple itu?" "Iyalah ngapain ngegalauin cowok, kalau cowoknya macam Pak Ran boleh lah." Entah kenapa aku malah berjengit mendengarnya, Tata sontak tertawa. "Becanda Mia, orang judes kayak gitu siapa yang bisa tahan? Memang sih dia cakep banget, tapi lo tau kan dia tuh kalau udah ngomong mulutnya bisa lebih sadis dari piranha?" Wah, jangan ditanya! Aku mengangguk semangat seolah memiliki teman seperjuangan, karena ternyata bukan hanya aku yang jadi korban mulut sadis Ran. "Siapa coba cewek yang bakal tahan? Bukan rahasia umum kalau Pak Ran gonta-ganti pasangan mulu, mungkin Jessica doang kali yang tahan," lanjut Tata julid sambil menggidikkan kepala ke arah Ran yang kini tengah duduk ditemani seorang perempuan. Menurut desas-desus, perempuan itu adalah personal asistennya, namanya Jessica, sangat cantik, berambut pirang, bertubuh semampai, aku bahkan sempat melongo melihat kehadirannya tadi karena wajahnya yang super glowing dan jelas seorang blasteran. Sekarang kedua orang itu sedang mojok di area outdoor, sibuk berdiskusi entah tentang apa. Punggung Ran membelakangi kami sehingga mungkin dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi, sementara di sampingnya Jessica tampak sedang menjelaskan sesuatu dengan serius, duduk sangat rapat, bibirnya nyaris menempel pada telinga laki-laki itu, rambutnya yang pirang disingkirkan ke salah satu bahu. Mereka terlihat seperti pasangan alih-alih atasan dan bawahan. Terlebih Ran sama sekali tidak tampak risi meskipun Jessica terang-terangan menggerakkan tangan dengan sengaja agar bisa menyentuhnya. "Tuh kan, mesra banget berasa yang lain cuma numpang di bumi," kata Tata menambahkan. Dan seolah merasa sedang diperhatikan, tiba-tiba saja perempuan itu menoleh, matanya lurus langsung bersitatap dengan mataku. "Hei kamu," panggilnya padaku. "Bisa ke sini sebentar?" Aku menunjuk diriku sendiri. Dia memutar bola mata. "Iya kamu, memang siapa lagi?" Tapi untuk apa dia memanggilku? Dengan was-was aku pun mengganti sandal jepit yang kugunakan dengan heels di bawah meja. Karena pegal kalau seharian harus berdiri menggunakan heels. "Ada apa ya, Mba?" tanyaku saat mendekati mejanya. "Mba?" katanya mendadak sewot. "Don't call me like that, just call me Jess. Tolong bawakan saya frappuccino with less sugar but in heavy cream." "Itu aja?" "Iya sekarang ya, haus nih saya. Kenapa daritadi nggak ada yang kasih saya minum?" Ya mana kutahu? Memangnya dia minta? "Bapak mau sekalian saya bawakan minum, Pak?" Ran bahkan tidak repot-repot mengangkat kepala, dia tetap fokus memperhatikan ipad di tangan kanannya dan lembar dokumen di tangan kirinya. Sebelum kemudian tangannya bergerak mengusirku pergi. "Oke, ditunggu Jess," kataku pamit undur diri lalu mendengus begitu memberitahu Mas Iqbal si barista tentang pesanan Jessica. "Tumben," celetuk Tata saat melihat minuman yang akan kubawakan. "Biasanya dia minta bawain americano. Berarti moodnya lagi bagus kalau nggak minum yang pahit-pahit." Kuangkat bahu tidak peduli. "Pasti karena bisa nempel terus sama si Bos tuh," timpal Mas Iqbal. "Bos?" Jantungku berdebar. "Pak Ran." Mas Iqbal mengernyit. "Lah jangan bilang selama ini lo nggak tau? Lo ngapain aja, sih? Buset." "Bukannya dia manajer, ya?" "Kata siapa?" sahut Tata. "Yang manajer tuh Mas Benji, tapi dia lagi cuti seminggu ini karena istrinya ngelahirin makanya Pak Ran yang handle Koji buat sementara, biasanya sih dia jarang nongol, bisnisnya banyak di mana-mana, Koji aja udah punya beberapa cabang, dia nongolnya paling sebulan sekali, itu pun sambil marah-marah." Hah? Itu tandanya selama ini aku ... "Lo sial," jawab Tata seolah bisa membaca raut hororku. "Karena lo gabung pas dia lagi ngurusin Koji." Kenapa laki-laki itu bahkan tidak bilang sama sekali? Atau aku memang lamban dalam membaca situasi? "Udah sana buruan kasih ke si ular nanti dia keburu nyemburin bisanya lagi," tegur Tata saat melihatku kembali bengong. "Males banget berurusan sama dia." Ternyata memang ada alasan kenapa Tata menjuluki Jessica seperti itu, karena begitu kembali mendekat sambil membawa nampan, Jessica sudah menggelayut di bahu Ran, kali ini perempuan itu bahkan lebih berani, satu tangannya berada di paha Ran dan mengelusnya pelan. "Please Ran ..." Aku bisa mendengar suaranya yang manja. "Don't make me feel like this." Aku sontak berdeham agar mereka menyadari kehadiranku. Ran tidak bergeser sama sekali, kelihatan sangat menikmati, sementara Jessica menoleh dengan dahi terlipat. "Nggak sopan," katanya ketus. "Gimana kalau batuk kamu itu masuk ke minuman saya?" "Sorry." "Atau memang sengaja, ya?" tuduhnya. "Jangan disitu dong!" bentaknya lagi ketika aku akan menaruh nampan di meja. "Kalau nanti nyenggol terus tumpah kena berkas-berkas saya gimana? Geseran dikit." Aku nurut saja. "Sudah Mba." Jessica mendengus lalu memandangku, menilai penampilanku dari atas sampai bawah seolah baru menyadari sesuatu. "Karyawan baru, ya?" Aku mengangguk. "Pantes," katanya sambil berdecak. "Siapa nama kamu?" "Mia." "Mia," ulangnya mengejek. "Nggak bener nih karyawan kamu, Ran." Hatiku terasa panas karena kata-katanya itu yang seperti mengadu, sementara Ran masih sibuk dengan berkas-berkasnya. "Nggak perlu ribut-ribut, Jessica." Dengar, kan? Suaranya itu loh ... saat menyebutkan nama Jessica sangat lembut dan manis, tidak seperti saat dia menyembutkan namaku yang terdengar seolah mengandung racun. Jessica pun ikut melembut. "Kamu harus lebih teliti lagi kalau seleksi karyawan, Ran." "Hm-hm." Ran tidak membantah tapi juga tidak mengiyakan. Sialan. Aku meremas rok celemekku untuk menghapus keringat di telapak tangan. "Ada lagi, Mba Jess?" Lengan Jessica bergerak mengusir. "Nggak ada. Mia, kamu harus banyak belajar sama karyawan lain biar nggak sembarangan kalau serve customer." "Baik, Mba." Padahal aku bukan pramusaji, bukan tugasku untuk melayani, aku seharusnya di balik meja kasir. "Ambil positifnya buang negatifnya walaupun gue yakin si ular memang nggak ada positif-positifnya sama sekali." Tata segera menasehati saat melihatku kembali dengan wajah tertekuk. Tapi kata-katanya bisa jadi benar, karena seharian itu kehadiran Jessica memang membawa hal positif untuk Ran, setidaknya laki-laki itu jadi sibuk dan tidak mercoki pekerjaan kami. Aku pun sudah merasa lega dan bersiap berganti seragam dengan pakaian biasa saat seseorang menyebut namaku. "Mia?" Detak jantungku langsung memburu mendengar suara itu. "Bisa ke ruangan saya sebentar?" Sial, kenapa dia tidak bisa membiarkanku lolos begitu saja, sih? Dengan perasaan waspada aku pun menoleh. "Ada apa ya, Pak?" "Saya butuh kamu." A-apa maksudnya itu? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN