PART 6: "Saya Normal"

1185 Kata
"Saya butuh kamu untuk konfirmasi penjualan hari ini." Tadi saja dia tidak memandangku sama sekali, sekarang matanya tajam menatap mataku. Gelembung hiburan Jessica sudah pecah ternyata. "Kenapa ada minus di not--" "Saya bisa jelasin, Pak," selaku cepat. "Saya bisa jelasin kenapa bisa minus." Ran seketika menyandarkan punggungnya di kursi, kakinya terlipat dengan gaya yang mengintimidasi lalu menggerakkan tangan seolah mempersilakanku menjelaskan. Aku menunduk, memandang karpet di ruangannya sebelum mengembuskan napas dan perlahan berkata. "Maaf saya melakukan kesalahan, Pak." Tidak ada jawaban. "Ada nota pelanggan yang nggak sengaja tertukar dan Tata bantu saya kasih solusi dengan memberikan kompensasi berupa mengembalikan semua uang mereka. Jadi ..." Bapak bisa potong gaji saya. Tapi aku tidak sampai hati mengatakannya, dan mengulum lidahku. Ran pasti marah, aku tidak akan heran kalau laki-laki itu meneriakiku, atau mengutuk kebodohanku. Apalagi kecerobohanku itu membuat Koji terancam diberi rating satu dan ulasan buruk. Aku benar-benar pasrah. Namun sampai lima menit berlalu, aku tak kunjung mendengar jawabannya, alisku mengerut, saat mengangkat pandangan kulihat Ran sedang memperhatikanku dalam diam. "Pak?" "Kamu tau, kamu sudah bermasalah dari awal?" kata Ran akhirnya. Aku mengangguk sambil meneguk ludah. "Sejak hari pertama kamu hampir pingsan, dan sekarang ini, padahal kamu belum ada seminggu kerja di Koji." "Bapak mau pecat saya?" "Belum." Ouch, aku benar-benar halu kalau sempat berpikir Ran akan memaafkan kesalahanku. "Terserah Bapak mau kasih saya hukuman apa." "Kamu yakin?" Entah kenapa kata-katanya terdengar seperti memiliki makna lain, seolah dia tidak sedang membahas kesalahanku saat ini melainkan yang jauh di masa lalu. Aku mengembuskan napas berat. "Kamu nggak yakin," katanya menjawab pertanyaannya sendiri. "Saya siap bertanggung jawab, Pak." "Memang sudah seharusnya begitu," katanya tajam. "Berarti kamu sudah paham sanksinya sesuai dengan kesepakatan saat kamu tanda tangan kontrak?" Sambil meringis aku mengangguk. "Iya, Pak" "Good." Ran kembali mentap dokumen di mejanya sambil membuka laptop. "Jangan diulangi lagi. Kalau ada masalah di luar jangan dibawa ke tempat kerja. Profesionalitas sangat penting di Koji." Benar, masalahku bukan alasan untuk bersikap teledor. Sekalipun sangat sulit aku tidak mau kehilangan pekerjaan ini, Mama dan Gege bergantung padaku sekarang. "Kamu masih mau di sini?" Kepalaku terangkat lalu menggeleng. "Ya sudah keluar." Semudah itu? Kupikir dia akan marah, kupikir dia akan menceramahiku dengan penjelasan kontrak-kontrak yang tidak kupahami, tapi buru-buru aku ngacir dari sana takut Ran akan berubah pikiran. *** "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. The number you're calling is not active--" Aku memutus sambungan tersebut sambil mendesah, lalu menatap pasangan kekasih yang duduk di sudut Koji dengan pandangan menerawang. Mereka mengingatkanku dengan Aksa dan sudah beberapa hari terakhir ini laki-laki itu sulit dihubungi. Chat di w******p-nya selalu ceklis satu, chat terakhir kami saat aku memberitahunya tentang keterimanya aku di Koji, Aksa ikut berbahagia bahkan sempat berkata dengan bercanda memintaku untuk mentraktirnya saat mendapat gaji pertama nanti. Pertemuan terakhir kami bahkan lebih lama lagi, saat dia mengantarku wawancara di sini. Sekarang nomornya mendadak tidak aktif, padahal dia baru saja mengupload story di Instagramnya sekitar dua puluh menit yang lalu. Kuembuskan napas berat lalu membuka IG dan membalas story yang baru diunggahnya itu. [@lakmia: sayang kamu lg dmn? aku kangen.] Direct message itu langsung dibaca, balasan Aksa datang tidak sampai semenit kemudian. [@aksamahawira: aku jugaaa kangen :')] Huhu, kenapa baca gini doang aku langsung melankolis? Jujur aku sangat merindukannya, aku ingin menceritakan semua hal yang belakangan terjadi dengannya. Aksa adalah satu-satunya orang yang pasti akan mengerti dan menyemangatiku, selama aku menjadi pengangguran pun dia yang bertahan dan menemaniku tanpa lelah, dia adalah satu-satunya hal terbaik yang kumiliki saat ini. Jari-jariku pun dengan cepat mengetikkan balasan. [@lakmia: ketemu yukk?] Sepuluh menit menunggu tidak ada balasan. Sampai waktu istirahat singkatku berlalu, Aksa justru offline. Dengan perasaan kebas aku pun memutuskan kembali ke meja kasir untuk melayani pelanggan. Aksa pasti sangat sibuk, pekerjaannya sebagai programmer yang jam kerjanya kalong pasti membuat laki-laki itu kerepotan, ini bukan pertama kalinya dia mendadak hilang, beberapa kali Aksa juga sulit dihubungi dan nongol dengan wajah cerah setelah berhasil menyelesaikan satu project. Aku tak perlu khawatir, tidak apa-apa, untuk sementara dia mungkin memang tidak seharusnya tahu tentang masalahku. "Terima kasih Kak, datang kembali ya, Kak." Pasangan kekasih itu tersenyum lebar, dan mengucapkan terima kasih kembali. Menuju weekend tidak heran kalau Koji begitu ramai dengan pasangan, atau sekedar melepas penat bersama teman-teman untuk menikmati live music yang akan dimulai malam nanti. Tapi meski ramai, keadaan di Koji cenderung tenang mungkin efek tidak adanya Ran sehingga tidak ada yang membuatku merasa tertekan. Laki-laki itu hanya muncul pagi tadi untuk mengecek kami lalu dijemput Jessica dan mereka berdua pergi entah ke mana. Sekarang sampai menjelang shiftku berakhir belum ada tanda-tanda dia akan kembali. Aku sih senang-senang saja ya, kurasa karyawan lain pun begitu, Tata bahkan berseru, "Sering-sering deh dia pergi sama Jessica, kalau bisa nggak usah ke sini lagi, toh senin besok Mas Benji udah balik, jadi kita bisa bebas." Yang kuaminkan dengan sepenuh hati sementara Tata tertawa puas. "By the way kemarin lo diapain?" tanyanya setelah tawanya mereda. Aku hanya menggeleng. "Hm, nggak diapa-apain sih--" "Nggak diapa-apain?" Tata heboh. "Gue pikir dia bakal nyuruh lo untuk ganti ke shift malam biar bisa lebih fokus atau biar lo kerja rodi." "Memang gitu sanksinnya?" "Enggak, tapi Pak Ran kan suka absurd, kafe punya dia, kadang kasih sanksi karyawan sesuka hati dia juga," katanya sambil berdecak. "Bener kata si Iqbal pengaruh Jessica ke suasana hati Pak Bos memang nggak main-main." Mendengar namanya disebut Mas Iqbal pun menoleh. "Apaan? Jessica? Memang kuat peletnya." Kutepuk bahunya pelan. "Bule gitu mana ngerti pelet sih, Mas?" "Hm ..." Mas Iqbal mendecapkan lidah sok misterius. "Belum tau dia." "Kasih tau dong!" Berhubung Ran cupu zaman masih pacaran denganku dulu, jelaslah aku penasaran. Memang gimana kisah percintaannya sekarang? "Gue satu sekolah sama dia pas SMA dulu, dan Ran dulu nggak begitu banyak deket sama perempuan, ya maksud gue ..." Sekarang Mas Iqbal dan Tata yang balik melotot padaku. "Apa kata lo tadi?" "Lo satu sekolah sama Pak Bos?" "Satu SMA?" "Jangan-jangan sekelas?" "Kok bisa, sih?" "Dia nggak dekat sama perempuan?" "Dia gay?" Aku menatap Tata dengan alis mengerut karena pertanyaan terakhirnya, Mas Iqbal pun kaget dan menjitak kepalanya. "Ada tanda-tanda selama ini Pak Bos gay?" tanya Mas Iqbal sewot. Tata meringis. "Ya siapa tau kan, bisa jadi plot twist kalau beneran. Gue yakin Jessica pasti bakalan tantrum." "Hadeh." Aku pusing. "Bukannya lo yang bilang selama ini dia gonta-ganti pasangan mulu?" "Lah itu," lanjut Tata bersemangat. "Mungkin itu buat kedok doang biar nggak ketahuan, jadi kesannya dia suka sama perempuan, padahal ..." "Saya normal." Bulu kudukku sontak merinding, Tata mematung, Mas Iqbal langsung mengerut seolah berharap tubuhnya yang besar akan menciut. Aku tidak berani menoleh, kuyakin Tata juga, hanya Mas Iqbal yang pelan-pelan berbalik lalu pura-pura batuk untuk menyamarkan wajahnya yang merah padam. "Sore Pak," sapanya yang jelas diabaikan. Saat aku melirik, Ran tampak sendirian, rambutnya berantakan, lengan kemejanya sudah digulung sampai siku, dua kancing atas kemejanya terbuka serta ada noda aneh di kerahnya. Aku menatap noda pink itu, lalu naik menatap matanya ... yang juga sedang balas menatap mataku. "Saya bukan gay," lanjutnya berkata. "Kalau kalian nggak percaya, silakan tanyakan ke Mia." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN