PART 7: Keputusan Gege

1239 Kata
"Mati gue, pasti mati!" "Bisa diem nggak? Lo bikin gue tambah pusing." Untungnya Tata nurut, di berhenti mondar-mandir lalu duduk di sebelahku. "Gimana ini?" Ya mana kutahu! Wajahku pun sudah pucat pasi, sejak kejadian kemarin sore itu, seharian kami benar-benar tegang, khawatir Ran akan memanggil lalu akan menatar kami di ruangannya. Kami baru bisa bernapas lega saat Ran dijemput Jessica dan pergi dalam waktu yang lama. Tapi tidak ada yang tahu kapan laki-laki itu akan kembali. Masalahnya meski sekarang shiftku sudah selesai, di hari weekend shift Tata masih harus lanjut sampai pukul sembilan malam. Yang artinya dia masih harus menghadapi Ran kalau laki-laki itu mendadak kembali ke Koji, oleh sebab itu dia merasa ketar-ketir sekarang. "Kemarin lo gimana?" "Pak Bos nggak bisa diajak ngomong." Aku pengin ngakak. "Kayak sehari-hari dia bisa diajak ngobrol aja!" "Ihhh." Tata mengusap poni doranya ke samping dengan gemas. "Seenggaknya kemarin-kamarin tuh dia kalau ditegur masih jawab, sekarang enggak, asem banget mukanya. Duh, mana mulut gue kemarin yang paling kenceng bilang dia gay lagi." Dan karena itulah gosip menyebar ke sepenjuru karyawan Koji kalau laki-laki itu memang penyuka sesama jenis, walaupun kebanyakan tidak percaya, tapi beberapa ada yang setuju dengan rumor itu hingga tiap gerak-gerik Ran sekarang menjadi pusat perhatian, seakan selama ini dia diabaikan saja. Maksudku dia kan bos kehadirannya saja sudah jelas mencuri atensi. "Gue nggak nyangka ocehan ngasal gue malah dipercaya sama orang-orang." Tata meratap. "Duh, tolong gue Mia, gue belum mau jadi pengangguran, please bantu gue lo kan mantan teman sekolahnya." Aku kontan mendelik. "Nggak, sekarang gue udah nggak temenan sama dia!" "Lah gimana, sih?" "Mending lo cari Mas Iqbal, gue yakin lo bakal aman sama dia, soalnya nggak mungkin dua cowok itu bakal ribut." "Nggak mau!" raungnya sengit. "Lo tau Iqbal itu udah nikah? Gue nggak mau digosipin suka sama dia karena nempel terus, gue belum mau dicap sebagai pelakor!" Dahlah capek aku. "Makanya kalau nggak mau digosipin jangan gosipin orang." Dengarlah kata-kataku itu sudah seperti orang benar, padahal karena mulut laknatku juga semua kekacauan ini bisa terjadi. Lama-lama aku curiga tempat ini sebenarnya bukan kafe tapi sekolah, karena tiap hari ada saja pelajaran baru yang bisa kami petik. "Pokoknya lo jangan pulang dulu Mia, tungguin gue, oke? Tungguin sampe Pak Bos fix nggak akan ke sini." Yang benar saja! Kupikir Tata ini tipikal perempuan kalem ketika membantuku menghadapi customer, tapi kalau sudah berhubungan dengan Ran, sepertinya sikap tenangnya pun hanya tinggal mitos. "Ta, mohon maaf nih, bukannya gue nggak setia kawan, masalahnya daritadi adik gue udah nelponin mulu, nih." Aku tidak berbohong, karena sejak sepuluh menit yang lalu, Gege spam miscall ke nomorku, saat akan diangkat Gege sengaja mematikannya. Sikapnya ini membuatku khawatir dengan keadaan di rumah, terlebih keadaan Mama. "Jadi lo mau ninggalin gue?" Tata merajuk. "Padahal lo belum cerita gimana lo dulu sama Pak Ran, terus kenapa dia bilang kita harus nanya sama lo kalau dia bukan gay? Memangnya kalian dulu seakrab apa?" Astaga, bisa-bisanya Tata masih ingat soal itu! "Lo sebenarnya takut sama Ran apa nggak, sih?" Kok ya nggak ada kapok-kapoknya, malah mau nambah gosip! Sikapnya ini mengingatkanku dengan Marin. Kenapa di mana-mana aku selalu bertemu teman seperti mereka? "Tuh, tuh." Tata menunjuk hidungku dengan heboh. "Ini kedua kalinya ya gue dengar lo nyebut nama Pak Bos tanpa embel-embel Pak atau Mas," katanya curiga. "Pasti ada apa-apanya, kan?" "Lo sendiri manggil Mas Iqbal nggak ada embel-embel Masnya kok." Tata berdecak. "Ya karena kita seumuran!" "Gue juga sama Ran seumuran." Yah, lebih tua Ran setahun sih, tapi itu tidak penting karena kami seangkatan, bahkan pernah sekelas. "Ya udah sekarang gue temenin lo setengah jam deh, nanti kalau nggak ada tanda-tanda Ran bakal balik, gue pulang, dan lo nggak usah nyari alesan lagi biar gue di sini terus." Senyum semringah Tata menunjukkan persetujuan. "Makasih bestie," katanya manis. *** Firastku ternyata terbukti benar karena begitu sampai di rumah, kulihat Gege sedang merokok di depan teras dengan pandangan kosong yang sama sekali tidak terlihat seperti kebiasaannya. "Mba," sebutnya saat melihatku turun dari ojol. Dia menyentil rokok di jarinya sebelum melumatnya dengan sendal. "Tumben pulangnya lama, ada lembur?" Di hari biasa aku pasti sudah mengomelinya, tapi karena beberapa hari terakhir sangat berat untuk kami, aku tidak bisa menunjukkan taringku dan sedikit memberinya keringanan untuk melampiaskan emosi, terlebih rambutnya kelihatan berantakan seakan dia sudah sengaja mengacak dan menariknya beberapa kali. "Nggak, cuma ada masalah dikit, tapi udah beres," jawabku seadanya. "Kenapa?" "Orang bank baru aja dateng lagi, Mba." Perutuku langsung mulas, aku duduk di kursi teras supaya tidak lemas. "Gimana, Ge?" "Masih sama kayak kemarin Mba, minta secepatnya dicicil atau bunganya makin membengkak. Mba tau Mama pinjam bank pakai jaminan apa?" "Apa?" "Sertifikat rumah." Entah sudah berapa kali aku nyebut karena tingkah Mama. "Serius kamu?" Gege mengangguk. "Orang bank yang kasih tau tadi, makanya mereka dateng terus hampir tiap hari, kayaknya mereka tau kita nggak bisa bayar." "Terus gimana?" "Mereka sengaja mantau, biar bisa sita rumah kita." Sial, aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mama. Rumah ini adalah satu-satunya warisan Papa dan harta paling berharga yang masih kami miliki. Kenapa beliau bahkan tidak bisa berpikir jernih? Maksudku lebih baik kami kesusahan makan daripada kami harus jadi gelandangan, meskipun keduanya adalah mimpi buruk yang tidak bisa kubayangkan. Tapi rumah ini jelas berharga lebih dari hutang Mama, aku tidak akan ikhlas kalau mereka berani menyitanya. Dan dilihat dari alis Gege yang mengerut sepertinya dia juga sedang memikirkan hal yang sama. Aku merasa sedih untuknya, tidak seharusnya dia memikirkan masalah keuangan keluarga. "Apa sebaiknya aku nggak usah--" "Jangan aneh-aneh," kataku menyela. "Kamu harus tetap sekolah, nggak ada alasan apapun buat putus sekolah, Ge. Mba masih bisa usaha buat bayar uang sekolah kamu." "Bukan itu." Gege menggaruk kepalanya dengan gemas, membuat rambutnya yang sudah kusut semakin awut-awutan. "Aku mau bilang, aku mending berhenti les taekwondo dan fokus sekolah aja." Oh astaga, aku sudah takut dia akan ketularan Mama dengan berpikir tidak waras. "Lagian aku udah sabuk hitam sekarang, jadi nggak ada kewajiban buat lanjut lagi." Tapi aku tahu taekwondo adalah hobi sekaligus dunianya. Keputusan ini meski terlihat sepele pasti sangat sulit untuk Gege, karena itu sama saja dia juga harus merelakan impiannya yang ingin menjadi Grand Master. "Sekarang Mama mana?" tanyaku akhirnya. "Tidur, Mama nggak mau nemuin orang bank." "Udah makan?" "Udah, tadi aku masakin--" "Bukan Mama," kataku menyela. "Kamu, kamu udah makan belum?" Gege meringis lalu menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Udah kayaknya, Mba." "Kok kayaknya, sih? Terus sekarang malah ngerokok." Niatku yang tidak ingin mengomel jadi menguap. Sambil berdecak aku mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari dompet. "Nih, beli makan sana untuk kamu aja. Mba udah makan di tempat kerja." Wajah Gege kelihatan tidak enak saat menyimpan uang pemberianku itu. "Apa nggak ditabung aja, Mba?" "Kamu sendiri beli rokok dari mana?" "Dikasih teman." Mataku melotot. "Teman kamu ngajarin nggak bener nih, pasti. Jangan aneh-aneh, Ge." "Nggaklah Mba," jawabnya sewot. "Mikirin Mama aja kepalaku udah mau pecah apalagi mau aneh-aneh?" Bagus, setidaknya Gege harus menjadi anak yang bermartabat dan yang paling penting menyelesaikan sekolahnya, saat masalah ini kelar nanti yang aku tidak tahu kapan mungkin dia bisa melanjutkan les taekwondonya. Aku berjanji dalam hati bahwa ini hanya untuk sementara. "Ya udah sana," kataku mengusirnya. "Mba mau ngecek Mama dulu." Aku segera masuk ke rumah dan meninggalkan adikku itu. Saat di kamar Mama, kuketuk pintunya dua kali sebelum membukanya. "Ma, Mia udah pul--" Namun kata-kataku berhenti di udara. Apa yang kulihat di kamar Mama membuat mataku membulat seketika. "Mama!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN