PART 8: Mama Menghilang?

1211 Kata
Tidak ada Mama di kamarnya, sementara tempat itu sudah berubah seperti habis diserang tornado. Baju-baju bertebaran di kasur, beberapa pasang sepatu berceceran di lantai dan laci-lacinya terbuka membuat kertas dan beberapa makeup yang tersimpan di dalamnya berhamburan keluar. "Ada maling?" Gege yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku saat mendengar teriakanku tadi berkomentar, mengatakan apa yang sedang kupikirkan. Kami sudah kena tipu, terancam rumah disita bank, dan sekarang dimaling? Apakah ini yang disebut dengan sudah jatuh, ketimpa tangga, lalu ketiban atap juga? Tapi ada yang janggal dengan situasi ini. "Mama mana, Ge?" Minimal kalau tidak bisa melawan, beliau harusnya berteriak, bukannya kabur entah ke mana dan membiarkan maling masuk mengobrak-abrik kamarnya. Gege maju lebih dulu, lalu menguak lemari yang sudah terbuka lebih lebar sehingga tampaklah isinya yang nyaris kosong. Melihat situasi ini aku ingin menangis sekaligus tertawa. "Apa coba yang bisa diambil dari rumah kita? Kurang kerjaan bener malingin baju-baju Mama." Tapi Gege tidak ikut tertawa, situasi ini sudah membuatnya sangat stres hingga adikku itu terdiam cukup lama. "Mba," tegur Gege akhirnya. Aku merapikan kembali sepatu-sepatu di lantai sambil mengusap air mataku yang mendadak merembes di sudut mata. "Ya?" "Kayanya ini bukan maling." "Terus apa? Mama sengaja acak-acak kamarnya sendiri karena udah terlalu pusing?" "Mama mana, itu pertanyaan yang harusnya kita jawab," kata Gege seakan dia sedang berusaha memecahkan sebuah teka-teki. "Tapi Mama nggak ada." "Apa maksudnya Mama nggak ada?" Gege menoleh, matanya mengunci mataku. "Mama kabur, Mba." *** Ada alasan kenapa kata-kata Gege terdengar masuk akal selain pakaian di lemari Mama yang menghilang, kopernya pun tidak ada, hand bag-nya dibawa serta. Mama hanya meninggalkan barang-barang yang menurutnya tidak penting untuk ditinggal di kamarnya. Hal masuk akal kedua adalah ponselnya yang mendadak tidak aktif, kami bolak-balik mencoba menghubunginya secara berkala tapi hasilnya percuma. "Coba kita tenang," kataku padahal sebenarnya akulah yang sedari tadi mondar-mandir panik. "Mungkin Mama cuma pergi sebentar dan bakal balik lagi, kamu inget Mama pernah ada acara sama teman arisannya pas nginep di puncak, kan? Nah mungkin Mama lagi ada acara itu." Sambil mengusap wajah kasar, Gege mengembuskan napas berat. "Kita lapor polisi?" katanya menyarankan. Aku bingung. "Alasannya apa? Mama hilang? Diculik? Kabur dari rumah?" Kalau beliau memang ingin pergi, bahkan polisi pun tidak memiliki alasan untuk mencarinya. Laporan kami hanya akan dianggap bercanda. "Mba jangan nangis dong," kata Gege sambil mendekat lalu berlutut di kakiku, menangkup kedua tanganku. Aku bahkan tidak sadar bahwa pandanganku sudah berembun lalu tetes-tetes air mata jatuh membentuk polkadot di rok celemekku yang belum sempat kuganti, yang sebenarnya kuniatkan akan kucuci pagi nanti. "Kita usaha cari, pasti Mama juga nggak pergi jauh-jauh." Tapi ke mana? Mama tidak memiliki siapa-siapa, beliau anak tunggal dan nenek kakekku juga sudah lama meninggal, bisa disimpulkan Mama sebatang kara, kami adalah satu-satunya keluarga yang Mama punya, dan hanya karena masalah penipuan serta pinjaman bank, beliau bisa-bisanya bersikap tega meninggalkan kami juga. Benar-benar keterlaluan! "Kalau nggak ketemu gimana, Ge?" Di satu sisi aku pun takut beliau kenapa-kenapa. "Aku coba tanya ke tetangga siapa tau ada yang lihat, Mba hubungin teman-teman arisannya, gimana?" Dengan sabar Gege kembali memberikan arahan. Idenya itu tidak terdengar buruk jadi aku pun menyeka air mataku sambil mengangguk. "Oke." Situasi ini seperti terbalik, harusnya aku sebagai yang lebih dewasa menenangkan dan menjaganya, tapi justru Gege lah yang bersikap lebih tabah dan menguatkanku. Kami akhirnya mengerjakan tugas masing-masing. Tapi sampai langit mulai gelap, aku tidak mendapatkan hasil apa-apa, semua teman arisan Mama yang kutahu berkata mereka sudah tidak bertemu Mama sejak bulan kemarin. Dan terakhir Mama bahkan masih menunggak biaya arisannya. Gege juga belum kembali, dia pergi dengan jalan kaki karena motor kami sedang mogok, sekarang langit semakin pekat, aku khawatir dengan adikku itu, aku sudah kehilangan Mama, aku tidak ingin Gege pergi juga. Dan karena tidak tahan berdiam diri saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengunci rumah dan keluar. Seorang tetangga yang melintas menyapa begitu melihatku. "Baru pulang kerja, Mba?" "Iya," jawabku tersenyum seadanya, sadar aku masih mengenakan pakaian kerja. "Mas, ada lihat Gege nggak?" "Wah nggak lihat loh Mba, coba tanya ke depan, di depan masih rame pada nongkrong sambil gitaran, maklum malam minggu," katanya sambil tertawa. Aku mengangguk berterima kasih. Tapi sampai di depan yang maksudnya adalah depan gang dan sebuah jalan besar, semua anak-anak muda yang kutanyakan menjawab tidak melihat keberadaan adikku itu. Sambil berkacak pinggang kutatap lampu jalanan dengan pandangan nanar, di saat seperti ini tidak ada satupun yang bisa kuandalkan, mendadak aku jadi teringat Papa, saat beliau masih ada aku bisa bergantung padanya, sekarang aku dan Gege hanya tinggal memiliki satu sama lain dan juga ... tiba-tiba aku teringat seseorang. Dengan jantung berdebar, kusingkirkan anak rambut yang beterbangan terkena angin malam ke balik daun telinga lalu menelepon laki-laki itu. "Halo, Mia?" Syukurlah langsung diangkat. "Aksa!" sahutku mendesah lega, lalu berbalik badan memungungi jalan agar tidak berisik. "Kamu lagi di mana? Sibuk nggak sekarang?" "Kenapa, Mia?" Aksa balik bertanya, suaranya yang lembut nyaris membuat pertahanan diriku ambyar. Aku ingin menangis lagi tapi berusaha menahan diri. "Mamaaa," sahutku serak. "Mama?" "Mama hilang nggak tau ke mana, terus Gege coba nyari tapi dia malah ikutan hilang dan belum pulang-pulang." "Sebentar Mia, aku nggak paham." "Aksa aku mau minta tolong kamu ke rumahku sekarang bisa nggak?" Aksa terdengar mendesah. "Aduh Mia," katanya. "Bukannya aku nggak mau ke sana, tapi aku lagi di bandara sekarang." Hatiku mencelos. "Bandara?" "Aku harus berangkat ke Singapore malam ini juga karena ada kerjaan mendadak di sana, dua hari lagi baru balik, itu pun kalau kerjaannya nanti bisa selesai tepat waktu." "Kamu nggak ngabarin aku." Aku tahu ini terdengar kekanak-kanakan atau aku hanya merasa marah karena dia tidak bisa membantuku. Suara Aksa benar-benar terdengar menyesal. "Maaf Mia, aku buru-buru, rencananya kalau udah sampe di sana aku baru mau kasih tau kamu." "Oke, aku paham." "Kamu nggak marah, kan?" Tentu saja aku tidak bisa marah, aku tidak memiliki hak untuk marah. Bukan salahnya jika dia tidak bisa membantuku dan Aksa tidak memiliki kewajiban untuk melaporkan semua kegiatannya padaku. Aku mengembuskan napas berat. "Take care, ya." "Makasih Mia." "Soal Mama aku yakin dia bakal pulang kok, Gege juga. Kamu fokus sama kerjaan aja." "Iya Mia, jangan panik, oke? Terus hubungin aku kalau ada apa-apa, aku berdoa dari sini semoga Mama kamu cepat ketemu, ya?" "Iya, bye Aksa." "Bye Mia, aku sayang kamu." Entah kenapa aku tidak sanggup membalas dan hanya mampu menyahut 'iya' sebelum mematikan sambungan telepon. Lemas. Siapa lagi yang bisa kuhubungi untuk membantuku? Ponsel Gege tidak aktif, ini pasti karena baterainya habis sebab dia berusaha bolak-balik menghubungi Mama. Sambil menggulir nama-nama kontak di ponsel, mendadak jariku berhenti di satu nama. Aku menggingit bibir lalu menimbang-nimbang. Semenjak kematian Papa hubungan keluarga besar Almarhum dengan kami agak merenggang, sekarang mereka adalah satu-satunya keluarga yang kupunya, dan tidak menutup kemungkinan Mama ada di salah satu rumah keluarga saudara Papa, meskipun kemungkinan itu sangat kecil, tapi tidak ada salahnya mencoba apalagi jika mereka bisa membantuku. Dengan perasaan was-was aku pun menghubungi nama itu. Setelah lima kali nada sambung suara seorang perempuan akhirnya menyambutku. "Mba Mia," sahut wanita di seberang sana ceria. "Ke mana aja? Mba pasti mau ngasih aku selamat, ya?" Aku meneguk ludah dengan sapaan tanpa basa-basinya. "Selamat apa, Pris?" Priska sepupuku itu tertawa merdu. "Aku bakal lamaran, Mba." "Kapan?" tanyaku, jantungku bertalu-talu. "Besok." Dan begitu saja, aku menelan kembali kabar burukku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN