"Aku udah kabarin Tante Maya dari minggu kemarin, memangnya Mba nggak tau kalau acaranya hari ini?"
"Mungkin Mama lupa, maklum udah tua, Pris. Suka banyak pikiran."
"Kirain Mba yang lupa. Salah aku juga sih nggak langsung kabarin Mba, hethic banget kemarin-kemarin sama persiapan lamaran, aku pikir kasih tau tante Maya aja udah cukup. Sini Mba, ayo masuk, Mba kan bukan tamu di rumahku."
Lalu dengan manis Priska menggandeng lenganku menuju ruang keluarga rumahnya, hingga tampaklah keluarga besar Almarhum Papa. Wajah-wajah yang terakhir kutemui saat beliau dinyatakan meninggal dunia.
Aku menyalami punggung tangan mereka satu persatu, beberapa ada yang menyambutku dengan pelukan, senyum tipis, atau pun sekadar basi-basi menanyakan kabar.
"Mama mana Mia?" Seperti salah satu adik Papa nomor dua, Tante Triana yang bertanya saat melihatku hanya sendiri.
Aku gelagapan. "Mama lagi nggak enak badan, Tante." Terpaksa aku harus berbohong karena tak mungkin aku memberitahu Mama kabur entah ke mana sementara keluarga besar Papa sekarang tengah berkumpul merayakan hari bahagia Priska.
Alasan itu justru membuatku seketika dikerubungi kerabat yang lain. "Sakit?" Tanya Om Sugih, seperti namanya Omku ini adalah yang paling kaya di antara anggota keluarga lain.
"Sakit apa?" timpal Tante Lusi.
"Udah dibawa berobat?" Sekarang sepupuku yang seorang perawat, Anggi pun ikutan bertanya.
Aku pringas-pringis lalu menjawab dengan cepat. "Sakit kepala biasa kok Om, Tante, udah dibawa berobat juga, sekarang lagi harus banyak istirahat di rumah." Keringat dingin mengalir di pelipisku saat memutuskan untuk jalan terus sampai di area belakang rumah Priska yang dipisahkan glass sleding door yang terbuka.
"Acaranya baru nanti siang Mba, Mba sekarang sarapan dulu aja, nggak usah bantu-bantu, semua udah diurus sama orang catering."
"Mba nggak bisa lama-lama Pris," kataku. "Mba harus kerja."
"Loh, weekend gini?"
Karena kafe biasanya justru ramai di saat weekend, Koji menerapkan kesepakatan hari libur untuk karyawan diambil saat weekdays. Itu sebabnya pagi-pagi sekali aku memutuskan mampir dulu ke rumahnya setelah membuatkan sarapan untuk Gege.
Ya adikku itu syukurlah sudah pulang, tengah malam dia mengetuk pintu dalam keadaan dekil dan tanpa hasil.
"Mama kayaknya naik bus antar kota Mba, ada salah satu penjual ketoprak yang bilang Mama sempat mampir dan makan di tempatnya sebelum pergi nenteng koper."
Hanya itu satu-satu informasi yang berhasil dia dapatkan. Sekarang kami hanya bisa pasrah selain menunggu Mama sendiri yang inisiatif menghubungi kami.
"Iya, liburnya pas weekdays aja."
"Jadi abis ini Mba mau langsung kerja?"
"Di mana?"
Aku menoleh, menemukan Tante Irma, Mamanya Priska ditemani seorang ART yang tengah membawa nampan berisi buah-buahan mendekat.
"Kamu udah kerja Mia?"
Aku segera menyalami punggung tangannya sambil menjawab. "Udah Tante."
"Syukurlah udah nggak jadi pengangguran lagi," katanya tertawa, tapi tawanya itu sejenak membuatku kaku. "Kerja di mana? Bukannya terakhir kamu bilang ada interview di perusahaaan finance? Nggak masuk?"
Terakhir itu maksudnya mungkin sudah dua tahun yang lalu, dan ya aku gagal. Kurasa Tante Irma pun sudah sering menanyakan itu saat kami bertemu.
"Iya Tante."
"Sayang banget, padahal bagus kalau kerja di sana." Lagi-lagi Tante Irma tertawa, tawa yang dipaksakan sehingga membuatku tidak nyaman. Dia menepuk pundakku dua kali sebelum pamit ke dalam rumah.
Priska meringis. "Ya udah Mba nggak pa-pa, Mba udah dateng ke sini aja aku udah seneng banget. Makasih ya Mba."
Kuulurkan padanya paper bag berisi hadiah yang kuberi kilat saat dalam perjalanan tadi. "Salam buat calon suami kamu, Pris."
"Ih Mba kok repot-repot sih, kan nikahnya juga masih lama tapi udah kasih hadiah dari sekarang," kata Priska saat menerimanya.
Aku hanya tersenyum. "By the way aku mau minta tolong kalau misalkan nanti kamu lihat Tante Maya ke sini, tolong langsung kabarin aku ya."
Priska mengernyit. "Kalau sakitnya parah nggak usah dipaksain Tante buat ke sini nggak pa-pa, Mba."
"Bukan." Aku melirik sekitar memastikan anggota keluarga yang lain tidak mendengar bisikanku. "Aku cuma nggak mau Mama bikin heboh soalnya dia lagi ribut sama Gege."
Maafkan aku Ge, karena namanya harus kubawa agar aku bisa membuat alasan yang masuk akal supaya Priska tidak curiga. Yah, walaupun seperti yang kubilang, rasanya tidak mungkin Mama akan kabur ke salah satu rumah keluarga Papa, tapi aku merasa perlu memastikan.
"Kenapa Mba? Gege bandel ya? Udah mulai pacar-pacaran dia?" tebak Priska. Tapi aku mengangguk saja agar obrolan ini segera berakhir. Priska berdecak. "Anak cowok ya kebiasaan nggak jauh-jauh dari cewek."
Setelah sekali lagi memberikan selamat padanya dan pamit dengan anggota keluarga lain akhirnya aku berhasil keluar dari rumah itu.
Priska lebih muda tiga tahun dariku, tapi dia sudah memiliki pekerjaan sebagai accounting di perusahaan swasta yang stabil dan sekarang akan menikah. Meskipun aku turut berbahagia untuknya, tapi tidak bisa dipungkiri diam-diam aku merasa iri juga. Apalagi makin ke sini hidupku bukannya membaik malah makin mengenaskan.
Kuembuskan napas panjang, bertemu keluarga besar meski hanya sebentar entah kenapa selalu menguras tenaga dan begitu sampai di Koji aku memilih untuk menutup diri.
Tata melihat wajahku yang kusut serta suasana hatiku yang gloomy, langsung pengertian, tidak mengajak bergosip ataupun bercanda, lagipula sesuai perkiraan hari ini Koji sangat ramai, hingga kami nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat, tapi itu justru membuatku bersyukur karena rasa sedih yang menggelayut di bahuku terlampiaskan dengan kesibukan.
"Awas, Dek!" Aku baru saja meninggalkan posisiku di kasir untuk membantu membawakan beberapa piring dan gelas kosong bekas pelanggan saat kurasakan sesosok tubuh mungil dan gempal menyerbuku dari arah samping membuat sebelah kakiku terlipat dan peganganku pada nampan goyah. Suara gelas dan lantai yang beradu membuat suasana kafe yang ramai mendadak hening seketika.
"Aduh adek kan udah Mama bilang jangan pecicilan!" Sang Mama langsung mendekati anaknya. Bocah laki-laki itu menatapku dengan polos, kedua matanya berkaca-kaca ketika menyadari tindakannya apalagi mendapat perhatian dari semua pasang mata. "Maaf Mba, ayo minta maaf cepat!"
"Nggak pa-pa Bu," kataku menenangkan saat melihat bocah itu merengek lalu mulai menangis kencang. "Adek sama Mama dulu ya takut kena pecahan kaca."
Cepat-cepat aku membereskan kekacauan itu dibantu dengan karyawan lain, saat sedang memungut pecahan kaca, kurasakan sepasang mata tengah memerhatikanku dengan tajam.
Ran berdiri di sisi ruangan kafe, sosoknya yang menjulang tidak bisa lebih mencolok lagi, lengan kemejanya digulung sampai siku, kedua tangannya berada di dalam saku. Posenya kelihatan tenang sekaligus menantang.
Kuraskan ada yang perih menjalar di jariku, saat menunduk, titik merah muncul di telunjuk karena pecahan yang tak sengaja menusuk. Dengan hati-hati aku menyelesaikan semuanya, membuangnya ke tempat yang aman sebelum membersihkan luka itu di westafel yang ada di pantry khusus karyawan.
Ran sepertinya tidak ingin membuang waktu, karena dari aroma tubuhnya aku tahu bahwa laki-laki itu langsung mengekoriku dan berdiri di belakang punggungku.
"Aku nggak sengaja," kataku lebih dulu memberikan penjelasan. "Kamu lihat sendiri kan anak itu yang nabrak aku bukan aku yang nabrak dia."
"Saya nggak ke sini untuk nanyain itu."
"Terus untuk apa?"
Aku berbalik, sedih dengan posisiku. Padahal dulu dia tidak pernah memberikan efek seperti ini, padahal dulu akulah yang memegang kendali. Sekarang laki-laki itu membuatku merasa tertekan. Kehadirannya selalu saja membuat jantungku berdebar berantakan.
"Tangan kamu."
"Cuma luka kecil, aku masih bisa kerja."
"Saya nggak minta kamu berhenti."
"Oh ya, kirain kamu bakal langsung mecat aku," kataku sarkas. Kalau tatapan bisa membunuh kuyakin aku sudah tewas saat ini juga. Tapi aku tidak peduli, hatiku sudah nyeri seharian ini karena Mama, sedikit konfrontasi saja pertahanan diriku bisa jebol.
"Saya nggak seburuk itu, Mia."
Ran kelihatan tersinggung tapi aku justru terkekeh.
"Iya, kamu lebih buruk dari itu." Aku berniat untuk melewatinya, namun tanpa diduga laki-laki itu justru mencekal lenganku, refleks aku langsung menepisnya. Ran makin menariknya.
"Apa sih mau kamu?" tanyanya, rahangnya mengetat. "Kamu selalu aja bikin saya bingung, Mia."
Nggak kebalik?
Bukannya selama ini dia yang selalu membuatku grogi sampai aku serba hati-hati?
"Kamu nggak pernah puas dari dulu," katanya menambahkan. "Semua hal harus tunduk buat kamu."
Tidak, tidak. Ini sudah di luar konteks pekerjaan, kata-katanya sudah ngelantur, dia sudah mulai mengungkit apa yang terjadi jauh sebelum ini. Aku tidak mau membahasnya, aku tidak ingin membahas masa lalu kami atau aku akan mulai kehilangan kendali.
"Kamu nggak pernah berubah, Mia."
"Kepribadian aku bukan urusan kamu."
"Jelas, sifat kamu yang paling sempurna."
"Jangan ngejek aku!"
"Harga diri kamu terluka sekarang?"
"Mirror please, ego kamu udah sebagus apa?"
"Apa yang salah dengan ego saya?"
Aku nyaris tertawa seperti orang gila. Dengan keras kepala aku menolak kalah menatap matanya. Apa? Dia bisa mengungkit masa lalu aku pun bisa, dia bisa melukai harga diriku, aku pun bisa, dia bisa bersikap kurang ajar, aku pun bisa!
"Kalau kamu nggak mau lepasin ..."
Raut wajahnya yang mengeras tiba-tiba melembut. Jantungku nyaris melompat saat tangannya yang semula menecekal lenganku kemudian mengalungkannya di pinggangku dan menariknya untuk membuat kami sama-sama mundur. Aku mengerjap saat dia membawa kami memasuki ruang storage di belakang punggungnya sebelum kemudian menutup rapat pintunya.
"Sstt," bisiknya dekat di telingaku. Tulunjuknya yang dingin menekan bibirku. "Ada yang datang."
***