PART 10: Close Sekarang?

1169 Kata
Sejenak aku tidak mendengar apa-apa sampai kemudian suara langkah-langkah kaki diiringi pintu yang dibuka terdengar. "Anjir capek banget gue rasanya pengin resign aja." Kata sebuah suara di balik pintu, yang kukenali sebagai suara Audrey si barista. "Memang udah ada backup kerjaan lain lo?" sahut suara lain yang terdengar familier, suara Tata. "Belum sih, tapi gampang itu bisa dipikiran nanti. Taruh sini aja ya, Ta?" Suara barang-barang kemudian diletakkan. "Bentar, gue touch up dulu." Aku menahan napas. Ruangan ini sempit, isinya berupa persediaan kopi dan peralatan membuat kopi, aromanya pun didominasi kopi. Sementara Ran yang bertubuh serba lebar seperti memenuhi nyaris setengah ruangan, menyisakan celah sedikit untukku nyempil di antara dirinya dan rak di belakangku. Kenapa kami harus sembunyi coba? "Ran?" Laki-laki itu mendesis seolah menyuruhku diam, tapi aku merasa tingkah kami sangat konyol, maksudku kafe ini kan miliknya, dan seperti kata Tata, dia berhak melakukan apapun yang dia mau. "Kita ngapain, sih?" bisikku heran. Ran mendengus. "Kamu sih, ajak saya ribut terus." Kocak banget kenapa malah salahin aku? "Kamu duluan yang mulai." Lesung pipi andalannya muncul. "Mia." "Apa?" "Jangan bergerak." "Aku nggak bergerak kok." "Ada cicak di atas kepala kamu." Aku melotot, dia membekap mulutku agar tidak keceplosan menjerit sehingga yang keluar di bibirku hanya embusan napas panik. "Diam, cicaknya sudah lewat." Ya ampun, aku stres banget! Bisa-bisanya Ran bersikap tenang sementara binatang melata itu melewati kepalaku, membayangkannya saja membuatku merinding! Ran tahu aku sangat benci cicak, bahkan zaman sekolah dulu aku paling ogah kalau disuruh duduk dekat tembok karena takut hewan itu akan tiba-tiba lewat. Tapi tampaknya Ran sangat menikmati ketakutanku itu, dilihat dari lesung pipinya yang bertambah dalam serta tangannya yang sengaja pelan-pelan baru diturunkan. Aku tidak membiarkan dia mundur sebelum menginjak sepatunya dengan tumit heelsku, Ran seketika memekik. "Si--" "Ssttt!" kataku gantian menyuruhnya diam. Sepertinya rasa sakit yang kuberikan tidak sebesar yang kuharapkan karena Ran hanya mengibaskan kakinya sebelum kembali berdiri tegak dan memelototiku. "Apaan tuh?" Kudengar Audrey bertanya. "Tikus?" sahut Tata tidak yakin. Ruangan ini sebenarnya memiliki kunci, tapi sudah terlambat kalau aku memutar kuncinya sekarang karena itu akan semakin menarik perhatian. Lagipula, sudah terlambat juga untukku tiba-tiba muncul keluar dan menyapa mereka, karena kalau mereka menemukan kami ada di dalam sini, sangat kecil kemungkinannya mereka tidak akan curiga. Semuanya gara-gara Ran, dengan bengis aku balas memelototinya, Ran mendengus. "Kalau mereka nemuin kita di sini terus mikir macam-macam kamu harus tanggung jawab." Ran membuat gerakan seperti meritsleting bibir. "Apa maksudnya itu? Kamu nggak mau tanggung jawab? Kamu kan bos!" Ran memutar bola mata. "Apaan, sih?" Ran menggertakkan gigi. "Kamu--" "Gue takut ada penampakan deh," lanjut Audrey paranoid. Keran diputar. Suara air mengalir di westafel berhenti. "Lo dengar nggak sih kayak ada yang mendesis?" tanyanya. "Gue inget kata Mas Iqbal pas dia cerita dengar ada suara cewek lagi nangis itu, loh. Merinding gue!" "Ya udah buruan ambil tisunya!" perintah Tata. Kemudian dua orang itu keluar dengan bantingan pintu dan langkah kaki yang terburu-buru. Aku seketika mengembuskan napas lega. "Jangan ..." cegahku saat Ran akan memutar knop pintu. "Aku duluan yang keluar, tunggu lima menit baru kamu yang keluar. Oke?" "Kenapa saya yang harus nunggu?" Ya iyalah, bukannya dia duluan yang awalnya takut terlihat berduaan bersamaku seolah aku adalah aib lalu memutuskan untuk sembunyi? Sekarang setelah mereka pergi, dia ingin meninggalkanku dengan penampakan yang dikatakan Audrey? Tidak sudi! Ran tampaknya menyerah saat aku hanya menatapnya datar. "Oke, oke, saya terakhir kamu duluan," katanya lalu membuka pintu lebar-lebar seperti pramuniaga dengan gerakan dibuat-buat. "Silakan." Aku merapikan rambut sebahuku, melicinkan rok celemek dan kemejaku sebelum melenggang keluar, celingak-celinguk di koridor ketika membuka pintu pantry, memastikan keadaan aman sebelum memutuskan untuk pergi. Heran, kenapa kafe ini besar sekali? Saat kembali pada posisi di meja kasir, aku segera lanjut melayani pelanggan. Beberapa menit kemudian barulah kulihat Ran megikuti jejeakku, berjalan sangat santai sambil mengancingkan kerah di lengan kemejanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Lucu bagiamana beberapa menit lalu kami masih menempel satu sama lain, tangannya di tumpangkan di pinggulku lalu tanganku di dadanya. Sementara di sisi lain ruangan semua orang berkumpul dalam keramaian. Situasi ini membuatku merasa sangat ... "Kenapa lo senyum-senyum?" Astaga, senyum-senyum aja enggak! Pikiranku langsung ambyar, aku mendelik pada Tata yang sedang menatapku curiga. "Abis dapet jatah, ya?" Ya ampun bahasanya, apa-apaan? "Gue lihat loh," lanjutnya cengengesan. Tubuhku membeku. "Li-lihat apa?" "Lo kemarin teleponan senyum-senyum di sini." Tele ... pon? Aku tertawa sumbang, lega karena ternyata yang dia maksud bukan aku dan Ran melainkan telepon yang kemarin kucoba saat menghubungi Aksa. Walaupun perempuan itu sebenarnya salah, sebab aku senyum karena menjawab DM dari Aksa, bukan saat tidak bisa menghubunginya, saking jeli mata manusia satu ini sampai hal sekecil itupun tak luput dari penglihatannya. Fix, Tata ternyata lebih menakutkan dari Marin, aku harus lebih berhati-hati. "Itu bukan senyum-senyum Ta, justru sebaliknya." Itu awal mula serentetan kejadian tidak mengenakan dari hidupku. Karena banyaknya hal yang sudah kulalui kejadian yang baru terjadi kemarin jadi terasa seperti sudah lama sekali. "Terus kenapa seharian muka lo asem banget sekarang berubah jadi kelihatan berseri-seri? Kayak tiba-tiba keinget kenangan indah gitu?" Oh ya sangat indah, Ran dan kenangan indah adalah kombinasi yang mustahil terjadi. "Lo kayaknya harus cuci muka sekalian cuci otak deh Ta, biar agak kinclong gitu pikiran lo." "Lah? Memangnya gue lagi ngomongin apaan? Memangnya lo mikir ke mana?" cecarnya. "Lo kali yang mikir jorok, kenangan indah kan punya banyak makna bukan sekedar yang aneh-aneh." "Iya, tapi sejak kapan ada hubungannya sama dapet jatah? Konotasinya kan jadi nggak banget." "Konotasinya biasa aja, tapi lo yang keburu sewot, kenapa sih? Atau malah lagi PMS ya?" Aku mendengus. "Tuh kan. Suasana udah panas banget seharian ini di kafe tambah lagi si Pak Bos mondar-mandir mulu, berasa lagi zaman romusa gue." Pusing banget aku dengarnya. "Kenapa sih dia?" "Siapa?" "Tuh." Dagu Tata menunjuk ke arah Ran, benar yang dikatakannya laki-laki itu sekarang sedang mondar-mandir di area outdoor, ponsel menempel di telinganya, dia tidak bicara, hanya mendengarkan, tapi sesuatu yang mungkin didengarnya di seberang telepon itu jelas membuatnya gelisah, karena laki-laki itu terlihat bolak-balik mengembuskan napas panjang, lalu mengacak rambutnya, sebelum menarik kerah kemeja. Sikapnya yang selalu tenang terkendali lenyap dalam sekejap. "Apa apa lagi sekarang?" Jawabannya datang ketika laki-laki itu mendekat, langkahnya yang panjang membawanya ke hadapan kami hanya dalam sekedipan mata. "Kita close Koji sekarang," perintahnya tiba-tiba. Tata melongo. "Gi-gimana, Pak?" "Don't make me repeat myself." Kepada Tata dia bicara. "Wait okay, I'll be right there in thirty minutes." Dan kepada ponsel yang masih di telinganya dia menjawab. "Apa maksudnya itu?" Mas Iqbal yang mendengar pun hanya mengangkat bahu bingung, aku pun bingung, Karin si pramusaji yang lewat pun bingung. Semua bingung. Mungkin kami tidak akan bingung kalau sudah di surga. "Pak!" tegurku akhirnya memberanikan diri saat laki-laki itu mematikan sambungan telepon. "Gimana caranya tutup kafe padahal pelanggan masih rame gini?" "Ada yang lebih urgent daripada mikirin pelanggan." "Apa?" "Jessica." Rasanya aku bisa mendengar detak jentungku sendiri yang mendadak memburu. "Memangnya kenapa dengan dia?" Ran mendongak, matanya beradu dengan mataku sejenak sebelum dia mengembuskan napas berat. "Jessica," katanya. "Kecelakaan." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN