Aku benar-benar ikut merasa prihatin dengan berita yang Ran umumkan, jika dia sangat khawatir dengan keadaan Jessica dan ingin cepat pergi maka kami bisa mengerti. Tapi menutup Koji? Jelas itu adalah hal lain.
Apakah dia bahkan sedikit pun tidak memiliki kepercayaan pada kami sebagai karyawannya untuk menjaga usahanya ini? Bukankah ada Mas Iqbal, Tata, lalu Danang. Yang semuanya adalah karyawan senior, yang menurut cerita sudah bekerja bersamanya sejak dia masih merintis?
Aku rasa mereka adalah orang-orang yang capable, jadi tanpa kehadiran Ran semua tetap bisa berjalan. Dan kurasa Ran pun menyadari itu, tapi ketika aku mengutarakan pendapat ini, Ran segera menjawab dengan tegas bahwa Jessica juga bagian dari Koji dan pantas diberi simpati. Jadi rasanya wajar saja jika kami menghentikan aktifitas kerja untuk sementara, seolah dunia hanya boleh berputar jika Jessica baik-baik saja dan begitu pun sebaliknya.
Mendengar itu rasanya aku ingin memuji sekaligus memakinya.
"Lo nggak keliahatan senang," komentar Mas Iqbal saat kami sama-sama membersihkan counter top di area pastry display. Kami membutuhkan waktu selama dua jam untuk menunggu semua pelanggan pergi, tidak menerima pelanggan lain dan hanya melayani take away sebelum akhirnya benar-benar close sesuai kemauan Ran.
"Siapa yang senang kalau dengar ada orang kecelakaan, Mas?" balasku lesu. Mas Iqbal pun sudah menghubungi Zona Nyaman, sebuah band indi yang biasa manggung live music di Koji untuk mengcancel jadwal nanti malam sekaligus reschedule di lain hari.
Kepalanya terangguk kecil. "Iya sih," katanya. "Apalagi Ran sampe kayak orang linglung gitu, pasti dia shock."
Seumur-umur kenal Ran aku belum pernah melihatnya seperti itu, yah mungkin ada satu momen di mana dia kelihatan hancur tapi bukan yang seperti orang kehilangan arah. Jessica pasti bukan sekadar personal asistennya. Kalau dilihat dari reaksi Ran, dia pasti lebih dari itu.
Aku menumpuk nampan display dengan tangan mengentak-entak, Mas Iqbal meringis lalu mengambil alih pekerjaan itu. "Sini Mia, biar gue aja yang ngurusin, tinggal ini doang kan, lo mending buang sampah aja ke belakang."
Kemudian Mas Iqbal menunjuk sebuah gumpalan plastik hitam yang sudah diikat rapi dan disandarkan di pojok tembok. Aku nurut.
Plastik itu tidak berat bahkan cenderung ringan, tapi entah kenapa ketika berhasil melemparnya ke dalam trash container aku merasa ngos-ngosan. Napasku tidak beraturan.
Kamu nggak pernah puas dari dulu.
Sial.
Kata-kata Ran seketika melintas di benakku. Kenapa dia harus mengatakan itu? Kenapa dia harus mengungkit masa lalu?
Dengan hati berat kuputuskan untuk kembali ke dalam dan mulai mengganti seragam dengan pakaian biasa. Aku harusnya bersyukur karena bisa sedikit beristirahat setelah semua gonjang-ganjing kaburnya Mama. Tapi Ran benar, dia selalu benar, aku merasa tidak puas dengan situasi ini. Laki-laki itu terlalu mengenal diriku dengan baik.
***
"Kecelakaan tunggal, kakinya digips, terus lengannya dijahit tujuh belas jahitan." Pagi-pagi Tata sudah heboh membagikan breaking news kronologis kejadian kecelakaannya Jessica.
Sementara para karyawan lain berdiri melingkar mengerubunginya. "Parah dong kecelakaannya?" Karin salah satu dalam lingkaran perghibahan itu pun bertanya.
Tata mengangguk semangat. "Parah, katanya sih dia itu abis mabora makanya bisa oleng terus nabrak pembatas jalan di jalan tol. Untung sepi, kalau nggak udah beda alam."
Mereka serempak mengembuskan napas ngeri.
"Lo dengar dari mana?" Kini Audrey yang angkat suara.
"Masa sih orang lagi kerja malah mabok-mabokan?" sahut Karin.
"Bukannya kejadiannya sore ya?" tambah Audrey.
Tata berdecak. "Namanya udah hobi mau pagi, siang, sore, malam pun tabrak gas aja. Gue dapet info langsung dari orang dalam. Dijamin valid!"
"Halah." Mas Iqbal yang sedang mempersiapkan mesin coffeenya menyela. "Paling-paling info lo dari Mas Eko kan? Supir pribadinya Ran?"
"Justru itu makanya gue bilang ini info valid. Siapa lagi coba yang bisa tau segalanya tentang majikan kalau bukan supir pribadinya?"
Dayang-dayang perghibahan yang melingkarinya mengangguk setuju. Mas Iqbal berdecak. "Kalian mau aja dikibulin si Tata tulalit, mending pada siap-siap opening sana, nanti Pak Ran tiba-tiba nongol pada kayak tipes semua."
Merasa nasihat Mas Iqbal ada benarnya, para dayang-dayang itupun bubar meski dengan ogah-ogahan. Mendengar gosip dari Tata memang lebih menyenangkan daripada bekerja.
"Nanti kita lanjut di grup," kata Tata sambil menggoyangkan ponselnya. "Gue juga punya foto-foto mobilnya si Jessica yang ancur."
Kemudian perempuan itu menatap Mas Iqbal dengan sengit. "Lo ini pagi-pagi udah ganggu aja."
"Istighfar Ta," sahut Mas Iqbal. "Kasian orang lagi kena musibah masih aja lo julid-in, kayak nggak ada empatinya sama sekali."
Tata mendengus. "Ngapain kasian sama Jessica? Dia aja nggak kasian waktu maki-maki gue perkara telat karena harus nganter nyokap gue ke RS! Kata gue sih dia kualat ya sekarang, ibaratnya lo menuai apa yang lo tabur, jadi pelajaran kalau hidup ini masih ada yang namanya karma."
Aku meringis mendengar ocehannya yang seperti keluar dari hati. Jadi itu alasannya kenapa Tata bisa sebal dan kemusuhan pada Jessica. Aku tidak bisa menghakimi ataupun membenarkan tindakannya. Mungkin saja selama ini Tata sudah berusaha bersabar dan akhirnya meledak ketika ada kesempatan.
Aku memilih untuk tidak ikut berkomentar, dalam diam menghitung jumlah pecahan uang yang bisa digunakan di mesin kasir sebagai pengembalian.
"Bersyukur masih dikasih kesempatan sama Tuhan buat tobat," tambahnya.
"Ck lo juga tobat!"
"Lah gue kan ngomongin fakta." Dengan ceria kemudian gadis itu menempel padaku, lalu menggelayut di lenganku. "Ya kan, Mia? By the way Ran nggak bakal ke Koji hari ini."
Aku mengernyit, lalu memundurkan kepala untuk menatapnya. "Ya terus?"
"Nggak pa-pa ngasih tau aja."
"Udah tau," jawabku menutup mesin kasir dengan gerakan tidak santai. "Gue malah heran kalau hari ini dia udah langsung kerja berhubung reaksinya kemarin heboh banget."
"Itu belum seberapa tauuu."
"Masa?" Aku tidak percaya.
Tata mengangguk. "Dia pernah tantrum pas resort atau entah apanya di Bali nggak dapet izin pembangunan, segini doang belum apa-apa, sih. Walaupun gue tetap belum terbiasa ya dengan keanehannya."
Apalagi aku?
Tentu ini adalah informasi baru bagiku, karena Ran yang kukenal dulu terlihat sangat normal, hampir miriplah dengan Ran yang sekarang yang selalu tenang terkendali. Bedanya dulu dia selalu mengalah, tipikal yang tidak ingin menarik perhatian. Tapi sekarang kebalikannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rupa Ran saat dia kehilangan kendali.
"Bener kok, tanya aja Iqbal kalau nggak percaya," kata Tata seolah bisa membaca raut skeptis di wajahku. "Dia tuh malah lebih parah, dia udah lihat semua jenis reaksi Pak Ran dari zaman jahiliyah. Dari mulai kerjaan sampai percintaan pun dia udah laluin."
Aku menatap Mas Iqbal. "Makanya lo yang paling vokal ngebantah Ran bukan gay ya, Mas?"
"Memang bukan," sahut Mas Iqbal. "Si Tata tulalit ini aja yang nyari perkara."
"Memang dari kapan lo kenal Ran, Mas?" Aku penasaran karena ini bukan pertama kalinya Tata mention soal kedekatan mereka.
"Lo teman sekolahnya, nah ini perkenalkan adik tingkat di kuliahnya Pak Ran." Tata yang menjawab.
Mulutku membentuk O kecil.
"Kerja sama Ran sejak?"
"Sejak Koji debut, ya kan, Bal?"
Mas Iqbal membenarkan. "Enam tahun, dulu gue iseng doang kerja sama dia karena sambil kuliah buat nambah uang jajan, malah betah dan keterusan."
"Lo nggak ada niatan buat cari kerja lain gitu, Mas?"
"Ya ada sih, tapi belum nemu yang cocok aja."
Lagi-lagi aku hanya ber-oh panjang.
Berarti meskipun galak secara etika kerja Ran pasti sangat jempolan karena rata-rata yang bekerja bersamanya pada bertahan lama. Bahkan Audrey yang kemarin berkata ingin resign pun sudah lima tahun bekerja dengannya. Mungkin itu sebabnya di awal wawancara dia menanyakan tentang statusku, jelas dia takut aku akan tiba-tiba menikah lalu memutuskan untuk berhenti sementara Ran harus repot mencari karyawan lagi.
Aku jadi penasaran bagaimana dengan Jessica? Sudah berapa lama perempuan itu bekerja dengannya? Dan sekarang jika yang dikatakan Tata tadi benar, sudah pasti Jessica harus beristirahat untuk waktu yang cukup lama sampai bisa pulih kembali. Ran pasti kerepotan mencari penggantinya.
***