PART 12: Side Job?

1290 Kata
"Kenapa lo baru ngabarin gue?" Sesuai dugaan, Marin langsung mencak-mencak begitu tahu tentang masalah yang sedang kuhadapi. Sebenarnya aku enggan memberitahunya, berhubung reaksinya bisa lebih dahsyat dari reaksiku seperti saat ini. Masalahnya adalah dia sahabatku, dan kami sudah bersahabat sejak SMA, ibaratnya saling tatap pun kami sudah saling mengerti pikiran masing-masing, jadi kalaupun aku tidak memberitahunya kuyakin Marin bisa dengan mudah menebak ada sesuatu yang salah, apalagi di bawah hidungnya yang selalu bisa mengendus kebohongan sekecil apapun, jadi dengan bijak aku memilih untuk jujur sekalian. Sekarang perempuan berambut pixie yang dicat merah menyala itu tersinggung karena merasa dialah yang paling akhir tahu tentang masalahku, padahal kenyataannya dialah satu-satunya yang kuberi tahu di luar anggota keluarga, bahkan Aksa pun tidak, laki-laki itu hanya tahu Mama menghilang tapi tidak secara detail dan selama dua hari ini aku belum bicara lagi dengannya. "Lo udah nggak anggap gue sahabat apa, gimana?" Tuh kan. "Atau udah ngerasa nggak butuh gue?" Mulai drama. "Apa udah punya sahabat lain?" "Bukan gitu Rin." Aku menjawab dengan sabar, berusaha menenangkannya. "Gue aja sampe sekarang masih nggak paham sama apa yang terjadi sama diri sendiri, gimana gue mau cerita sama lo?" "Minimal kan lo bisa minta tolong gue," selak Marin emosi. "Memangnya gue separah apa sampai dianggap nggak bisa bantu?" "Gue nggak anggap lo nggak bisa bantu kok." "Tapi kenapa kesannya kayak gitu, Jamilah?" balasnya gemas. "Hubungin gue gratis dan nggak ada lima menit doang apa susahnya, sih?" "Who's Jamilah?" Marin berdecak lalu memberengut. "Nggak usah sok mau alihin pembicaraan. Itu nggak penting, yang penting itu sekarang gimana sama keadaan lo." Aku terkekeh mencoba mencairkan suasana. Merasa sudah lelah menangis, duduk, rebahan, ngelamun seharian di hari libur ini. Aku sudah ditahap pasrah karena percaya Mama akan pulang di saat beliau ingin pulang. Meskipun tiap menarik napas rasanya tetap nyesek. Dan Marin yang kuberi tahu jadwal libur kerja, mendadak mampir karena merasa sudah lama kami tidak berjumpa, sayangnya aku tidak bisa menyembunyikan masalahku padanya. "Gue baik-baik aja kok." Raut wajah Marin menunjukkan keraguan. "Sounds fishy for me." "Ya mau gimana lagi, Rin? Semuanya harus dijalanin kan, dan lo lihat sendiri gue berusaha yang gue bisa." "Kalau dari awal lo hubungin gue lo nggak bakal jalananin ini sendiran, setidaknya gue bisa nemenin lo, Mia." "Kata siapa gue sendirian?" balasku. "Gue sama Gege kok." Kami sama-sama menoleh ke arah Gege yang sedang membuat minuman di dapur, karena rumahku menganut sistem open space, sosoknya yang jangkung langsung terlihat oleh kami. Dia meringis saat tiba-tiba diperhatikan, enggan ikut campur dalam perdebatan. Marin sontak mendengus. "Jadi gimana sekarang Tante May beneran kabur?" Aku mengangkat bahu. "Kayaknya sih gitu." "Gue nggak paham sama jalan pikiran nyokap lo," katanya gusar. Persis seperti yang kupirkan. "Niatnya memang baik, tapi caranya itu loh malah bikin tambah masalah, sekarang malah nimpahin semuanya ke kalian." Kuangkat bahu acuh tak acuh. "Sekarang gimana, Mia?" "Gue harus lunasin pinjaman bank." "Terus?" "Nemuin pelaku investasi abal-abal Mama." "Udah sejauh apa?" "Sejauh laporannya mandek di kantor polisi." "As always," balasnya kembali mendengus. Lama-lama perempuan itu bisa menyemburkan api dari hidungnya. "Skip yang nggak bisa diandalkan, cari cara lain yang lebih efektif." "Aku udah coba telusuri alamat perusahaannya." Gege tiba-tiba menimpali, berjalan mendekat dan membawakan mug teh hangat untuk Marin. "Dan alamatnya memang fiktif tapi Mama bukan satu-satunya korban mereka, ada yang lain juga, kami akhirnya bikin grup, dan salah satu dari keluarga korban ada yang berusaha melacak salah satu pelakunya," jelas adikku itu panjang lebar. Posturnya saat membungkuk entah kenapa terlihat lebih kecil dari biasanya, bukan hanya karena belakangan ini dia sibuk memikirkan tingkah Mama, tapi juga karena Marin, tiap kali sahabatku itu main ke rumah, adikku itu seperti berusaha untuk mengerutkan tubuh jadi mini agar tidak kasatmata. "Nah itu bagus," kata Marin sambil mengangguk berterima kasih menerima minuman yang dibawakan Gege. "Berarti kamu sekarang lagi nunggu hasilnya?" Gege menggaruk tengkuknya salah tingkah sebelum mengangguk. "Aku keluar dulu ya Mba, mau beli toiletries." Aku hanya mengiyakan, saat sosoknya menghilang dari pandangan, Marin langsung mendesah. "Adik lo dari dulu nggak berubah Beb, masih aja takut sama gue." "Muka lo nyeremin, sih." Gimana tidak takut, Gege kenal Marin dari dia masih bocah berumur delapan tahun yang dikerjai petasan oleh sahabatku itu, kesan pertamanya saja sudah kena mental, jelas meninggalkan semacam trauma. "Makanya kalau ke sini tuh biasa aja." "Lah ini udah biasa kali," bantah Marin sambil meraba-raba wajahnya yang kali ini terpoles makeup bold. "Malah paling biasa di antara malam-malam gue." Lalu dia tertawa, tawa cekikikan khasnya yang juga membuat Gege dulu sangat ketakutan karena dikira penampakan. Lagipula kalau penampilan biasanya saja seperti bintang penyanyi rock begini, lantas bagaimana luar biasanya? "Anyway gue punya tabungan," katanya tiba-tiba, alisku terangkat. "Ya nggak banyak sih, tapi gue yakin bisa dipake untuk lo, terus ini ..." Dia menunjuk cincin ala Hotman Paris di jari-jarinya. "Kalau dijual lumayan, dan ini ..." Kali ini sebuah kalung berbandul tengkorak yang melingkar di lehernya. "Kalau dibawa ke toko perhiasan minimal bisa dapet beberapa juta. Semuanya kalau dijumlahin mungkin cukup untuk bayar setengah hutang lo." Kepalaku sudah menggeleng kuat-kuat. "Dengerin gue, Beb." "Lo yang dengerin," potongku. "Makasih banyak gue seneng banget lo mau bantu, tapi gue tau itu duit yang udah lo tabung buat bisa berangkatin umroh nyokap lo, terus perhiasan-perhiasan ini," kataku sambil menunjuk seluruh tubuhnya. "Gue tau ini KW, lo mau nipu tukang perhiasan yang berpengalaman? Lah, gue yang awam aja sekali lihat udah paham, Rin." Marin meringis karena kupaparkan niat terselubungnya itu. "Kok bisa tau, sih?" katanya bete. Dasar sahabat laknat, untung sayang. "Terus gimana dong? Duit segitu kan nggak mungkin tiba-tiba jatuh dari langit, masa mau lo biarin aja orang bank sita rumah ini?" Itu juga yang selalu kupikirkan sampai insomnia, dan sebenarnya alih-alih mengkhawatirkan Mama aku lebih takut rumah ini disita. "Gimana sama kerjaan lo, Beb?" "Kenapa sama kerjaan gue?" "Lo kan bilang gaji lo kecil, tapi masa sih si Ran lo itu nggak mau nambahin dikit, minimal di atas standar yang lain lah atas nama masa lalu atau jatah mantan." Astaga, sama aja bahasanya sama si Tata! Aku mendengus kesal. "Pertama," kataku. "Dia bukan Ran gue lagi, terus kedua," lanjutku tidak terima. "Dia tuh udah berubah, perkara kerjaan ya kerjaan nggak ada urusannya sama masalah pribadi, dan ketiga," kataku saat melihatnya akan menyela. "Apa itu jatah mantan? Kesannya gue kayak lagi menyerahkan diri, padahal gue kerja capek-capek dan halal gini." Marin berdecak. "Dulu aja dia ngejar-ngejar lo kayak kambing dicucuk hidungnya, ke mana pun lo pergi diikutin, sekarang bener kan kata gue, kayaknya dia memang dendam sama lo." Lagi-lagi aku merasa seperti ada yang menendang-nendang rongga dadaku, membuatku merasa sesak. Yah masa-masa itu sudah lama berlalu, Ran adalah Ran sekarang yang kukenal, yang menakutkan dan menyebalkan. "Kayaknya lo harus cari side job, Beb." "Side job?" "Kerja sampingan." Ya aku tahu apa itu artinya side job, tapi di mana aku bisa mendapatkannya? Dan bagaimana aku akan mengatur waktunya jika semua waktuku terasa seperti habis di Koji? "Cari yang freelance aja yang bisa lo handle dari rumah, atau lo mulai cari loker lain, yang gajinya lebih meyakinkan." Marin mengernyit. "Lo sih nggak mau kerja di tempat gue." Soal yang itu, aku tidak bisa berkomentar, walaupun kelab tempat Marin berkerja sebagai waitress tergolong kelab yang aman, tapi aku tetap menolak untuk apply lamaran di sana karena tidak tahan dengan kepulan asap rokok yang menggila serta bau alkoholnya. Tapi kuakui saran Marin ada benarnya karena aku tidak bisa berpangku tangan saja dan mengandalkan gajiku yang tidak seberapa. "Oke nanti gue coba cari secepatnya." Kalau perlu malam ini juga aku akan lembur membuka semua website loker dan freelance lalu mulai memasukkan lamaran ke mana pun yang bisa kulamar. Harapan itu masih ada sekalipun pijarnya sangat kecil dan terasa nyaris mustahil. Aku yakin aku akan berhasil. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN