"Lo mau resign juga kayak si Audrey?"
Sambil menguap lalu menutupnya dengan telapak tangan aku mencoba menjauhkan ponsel dari jangkauan penglihatan Tata meskipun terlambat dan perempuan itu keburu mencuri pandang pada layar di ponselku yang menampakkan sebuah loker di salah satu website.
Dari semalam aku memang tidak berhenti mencari pekerjaan sampingan sesuai saran Marin, sibuk memfilter mana yang sesuai jurusanku, hasilnya tidak banyak tapi aku enggan menyerah begitu saja.
Mataku sampai terasa kebas seharian, beruntung itu tidak mempengaruhi performa kerjaku, mungkin adrenalin dan sikap optimislah yang membuatku terpacu.
"Kenapa sih semua orang mau resign?" Merasa tidak mendapat jawaban, Tata kembali bertanya. Raut wajahnya kelihatan bete. Aku tertawa dan menyimpan ponselku untuk sementara.
"Memang siapa aja selain gue sama Audrey yang mau resign?" tanyaku.
Tata meringis. "Ya kalian berdua aja sih, tapi itu aja udah bikin kayak separuh Koji menghilang."
"Lebay."
"Serius, nanti kalau kalian pada pergi gue sama siapa? Masa Iqbal lagi, Iqbal lagi yang gue pandangin? Kan dosa mandangin laki orang mulu!"
Aku kembali terkekeh, lalu menutup lemari loker setelah memastikan seragamku sudah terlipat rapi. "Enggak kok, gue nggak mau resign, ini cuma lagi cari kerjaan sampingan aja."
"Kerjaan sampingan?" tanyanya heran. "Koji aja libur cuma sehari, gimana mau cari kerja sampingan? Kenapa lo nggak nambah shift sampe malam aja kayak gue?"
Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku? Lantas bagaimana dengan gajinya, apakah akan sepadan?
Menyadari apa yang kupikirkan, Tata segera menyahut. "Lumayan kok, hitungannya dari sore ya, berarti sekitar empat jam, itu dihitung setengah dari gaji kita."
Kepalaku langsung penuh dengan hitung-hitungan. Dan hasilnya ... masih belum cukup jika digabung dengan uang pensiunan bulanan Papa untuk biaya hidup sehari-hariku dengan Gege, belum lagi biaya sekolah dan hutang Mama.
"Memang lo butuh buat apa, sih?"
Aku hanya tersenyum enggan menjawab jujur. "Buat biaya hidup gue dan adik gue lah, Ta."
"Oh lo masih punya adik," gumam Tata mengerti. Aku mengangguk lalu segera pamit undur diri.
Dalam perjalanan menuju pos satpam, aku kembali membuka ponsel dan menscroll loker yang baru diupdate hari ini. Aku sibuk menunduk dan menandai mana yang bisa kuajukan lamaran hingga tidak menyadari langkah kakiku, sampai ketika menuruni undakan di depan pintu masuk aku merasa menabrak sesuatu yang keras dan membuatku nyaris terpental. Beruntung sebuah tangan kokoh dengan cekatan langsung menangkap lenganku menjaga tubuhku agar tidak oleng dan menjatuhkan ponsel.
Hal pertama yang kulihat adalah sebuah d**a berbalut kemeja putih diikuti leher dengan kalung berbandul box. Saat mendongak aku menemukan sepasang mata hitam tengah balas menatapku.
"Kenapa main ponsel di jalan?"
Aku sudah tidak bertemu dengannya selama tiga hari, dan selama itu pula aku merasa kehilangan sosoknya, tapi begitu melihatnya yang kelihatan rapi seperti biasa dan langsung mengeluarkan komentar pedasnya, aku merasa kekhawatiranku padanya adalah hal yang sia-sia.
Dengan lembut aku berusaha melepaskan diri lalu berdiri tegak di kedua kakiku sendiri.
"Sorry."
"Tingkah kamu ini membahayakan pelanggan."
Dengar kan? Semuanya hanya tentang pelanggan, belum apa-apa dia sudah bertingkah menyebalkan.
"Memangnya apa yang penting sampai kamu harus main ponsel di jalan?"
"Bukan apa-apa," sahutku malas berdebat.
Ran mendengus. "Lain kali ..."
"Saya janji nggak akan mengulanginya lagi, Pak."
Itu kan yang ingin dia dengar? Nah, aku sudah menyampaikannya jadi tidak ada alasan Ran untuk merasa tersinggung apalagi mengerutkan dahi seolah aku membantah atau berusaha melawannya.
"Permisi."
"Kamu pulang sendiri?"
Aku baru berniat akan melewatinya saat laki-laki itu kembali bertanya. Dengan kesabaran yang dipaksakan aku menjawab. "Iya, Pak."
Satu tangannya masuk ke dalam saku celana. "Di mana laki-laki yang mengantarkan kamu waktu itu?"
Berani sekali dia bertanya tentang Aksa, memang apa pentingnya informasi itu untuk kelangsungan bisnisnya?
"Sorry, memang kenapa ya, Pak?"
Bahunya terangkat. "Saya cuma nggak pernah melihatnya lagi," katanya. "Kenapa? Kamu sudah bosan dan meninggalkan dia atau dia yang sudah bosan dan meninggalkan kamu?"
Telingaku terasa berdenging panjang, sepertinya sekali saja laki-laki ini tidak memancing perkara mungkin badannya akan gatal-gatal.
Melihat aku hanya diam saja dan memandangnya datar, Ran dengan santai justru memamerkan lesung pipinya. "Nggak perlu marah Mia, saya kan cuma nanya."
Ya nanyanya itu loh Pak Ranjero Sima yang terhormat!
"Pertanyaan Bapak nggak relevan sama pekerjaan."
"Sekarang sudah bukan jam kerja kamu, kan?"
Apa? Apa dia mau bilang sekarang harusnya kami mengobrol selayaknya teman? Apa dia tidak sadar pertanyaanya itu bahkan terdengar keterlaluan untuk seorang teman?
"Kalau nggak ada yang penting, saya boleh permisi, Pak?"
Malas memperpanjang bahan perdebatan aku memilih untuk mengalah, Ran segera mengangkat bahu, lalu bergeser untuk mempersilakanku pergi.
Tidak perlu berkecil hati Mia, waktuku akhir-akhir ini terlalu berharga untuk dihabiskan sekadar untuk bertukar cibiran dengannya, belum lagi laki-laki itu kelihatan sehat sentosa, tidak ada raut lelah atau kesedihan di matanya yang seperti kulihat beberapa hari lalu, itu tandanya ...
Mendadak aku terpikirkan sesuatu, aku sontak berbalik badan tepat ketika Ran akan mengayunkan pintu kaca supaya terbuka.
"Pak?"
Dia menghentikan langkahnya.
"Gimana keadaan Jessica?"
Kebingungan di wajah Ran saat menoleh sama sekali tidak ditutup-tutupi. Dia jelas merasa heran dengan pertanyaan yang kuajukan, tapi tidak keberatan untuk menjawab.
"She's okay, the accident was pretty bad, but now she's okay."
Aku mengangguk simpati, artinya yang dikatakan Tata kemarin mungkin saja mendekati benar.
"Why do you ask?" tanyanya.
"Nggak apa-apa, Pak." Aku terdiam sebentar sengaja memberi jeda. "Kalau gitu apa Jessica nggak bisa lanjutin kerja?"
"Untuk sementara Jessica memang harus banyak istirahat agar pemulihannya bisa berjalan cepat, dan dokter juga belum memperbolehkan dia untuk beraktifitas berat," jelasnya. Tatapan matanya memperlihatkan kecurigaan. "Kenapa, Mia?"
Aku ingin berdecak dengan reaksinya yang langsung berubah defensif, setiap kali membahas Jessica entah kenapa Ran mendadak sensitif. Tapi aku menahan diri dan sebagai gantinya hanya tersenyum manis.
"Salam untuk Jessica kalau Bapak nanti menjeguknya lagi," kataku. "Semoga dia cepat sembuh."
Ran terlihat seperti tidak puas dengan jawabanku, tapi aku tidak membiarkannya untuk kembali bertanya dan segera pergi dari sana karena mendadak aku memiliki rencana. Rencana-rencana yang mungkin bisa membawaku melunasi hutang Mama.
***