“Dandan yang cantik, biar dokter ingat terus sama dek Nomi,” kekeh Lukas menggoda Naomi yang sedang berias diri di depan cermin. “Apaan sih, jangan ganggu deh!” “Hmm, sekarang udah gak boleh diganggu ya. Gimana kalau nikah beneran? Apa aku gak boleh wa kamu lagi?” Naomi menghentikan menyapu wajahnya dengan kuas. Kemudian menatap Lukas dari pantulan cermin. “Aku merasa ada yang beda sama dokter sekarang, Lukas.” Lukas mendekat, menyandarkan bokongnya di meja rias. “Beda dalam segi apa?” “Dia lebih banyak ngomong sekarang, gak seperti dulu irit ngomong, ketus juga. Nah, yang bikin aku terkejut itu, setiap ketemu sama orang pasti dia bicaranya menjurus. Oke sih, orang-orang pada mengira aku pasangan, tapi setidaknya dia jelasin dong bukan, tapi dia malah mengatakan seolah-olah kami ini

