Empat Puluh Tiga

1894 Kata

Pertemuan kedua dengan Bu Rosa, jelas sesuatu yang tidak pernah Dini sangka. Perempuan itu adalah bentuk nyata bagaimana seseorang yang berasal dari keluarga konglomerat bersikap. Segala tindakannya menunjukkan aura berkelas dan tanpa sadar membuat Dini merasa segan setiap berinteraksi dengan perempuan tersebut. Namun, satu sisi ia menemukan sedikit kenyamanan akan bagaimana Bu Rosa mengajaknya berbicara. Entah itu soal pekerjaan atau sekedar berbagi resep rumahan sederhana saat Dini bilang dia kesulitan untuk tetap memasak makanan untuk dirinya sendiri karena bingung harus memasak makanan apa saja. Dini bahkan tidak bisa menahan tawa saat Bu Rosa menawarkannya sekotak martabak yang beliau beli. Sebuah martabak yang tidak ia sangka disukai oleh orang lain juga, setelah selama ini hanya di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN