"Aku nggak yakin, ini rencana yang bagus deh Mas." Thalia menghela napas, melirik ke arah kakak iparnya lantas memandangi pria itu dari atas hingga ke bawah. "Setidaknya kalau kamu mau pura-pura ke sini buat nyobain bubur dengan alasan penasaran sama rasanya. Harusnya kamu nggak muncul dengan setelan lengkap begini." Sebuah helaan napas keluar dari celah bibir Elang yang terbuka. Menatap Thalia tenang. "Habis ini Mas harus langsung ke bandara buat kasih sambutan acara di Hongkong." "Ya makanya itu," balas Thalia semakin tak habis pikir. "Kenapa sekarang? Kamu nggak bisa tunggu sampai balik dari Hongkong apa?" "Dua hari lagi Papa pulang ke Jakarta. Aku mau setidaknya Dini sedikit nyaman ketika ngobrol sama Mas, sebelum besok Mas dan Ardi ngobrol sama dia soal tes DNA." Mendengar kesung

