Agatha melihat sebuah jam tangannya. Waktu yang terus berjalan menyadarkan Agatha agar segera membahas mengenai pekerjaan bersama dengan Rayhan. Agatha dan Rayhan memilih untuk berpindah ruangan yang lebih nyaman untuk mengobrol. Di ruang paling depan yang ada di kantor, mereka duduk ditemani dengan minuman kopi yang dibeli Rayhan sewaktu perjalanan. “Tha, gue perhatikan selama ini kaya ada yang aneh, lo enggak apa, kan?” tanya Rayhan masih disibukkan dengan laptopnya. Bahkan, tidak menatap Agatha sedikitpun. “Kalau lagi ada masalah atau lagi sakit, lebih baik diselesaikan sampai tuntas dulu.” “Enggak, Ray, gue hanya sedang overthinking saja sama sesuatu. Tapi, seharusnya gue bisa, sih, mengolah isi otak ini sebagai karya.” Agatha mengeluarkan ponsel. Membuka sebuah aplikasi untuk mencat

