Agatha teringat akan ayahnya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Agatha tidak lagi menyimpan kesedihan yang terlalu dalam, wanita itu memilih untuk mengikhlaskan ayahnya kembali kepada Tuhan. Akan tetapi, rindu terhadap pahlawannya tidak masalah, bukan? Ya, lebih tepatnya Agatha merasakan kangen yang mendalam. Apalagi, dia merasakan kesepian berada di rumah yang hanya ditempati berdua. Tangan Agatha melipat kain panjang yang sudah tidak lagi menutup kepalanya. “Ma, Papa lagi apa, ya, di sana?” jawab perempuan itu sembari menatap ibunya dengan penuh kerinduan. “Hm, Ma, kalau Agatha memutuskan sesuatu hal yang besar, Papa marah enggak?” “Memang kenapa, Tha? Kamu mau memutuskan apa, sih?” tanyanya. “Enggak, Ma, hanya semisalnya saja.” Beberapa waktu kemudian, Agatha memilih untuk pam

