Gavin sampai di rumahnya degan keadaan lemas, entah mengapa sedari tadi kepalanya berdenyut dan badannya sedikit panas. Gavin menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu sembari memijit pelipisnya pelan untuk meredakan nyeri yang menyerang. “Sayang, kamu duah pulang?” tanya Saira yang baru saja muncul dari belakag. Gavin membuka sedikit kelopak matanya. “Udah mah,” jawab Gavin lirih. “Kamu kenapa?” tanya Saira menghampiri Gavin. “Ya ampun, kamu panas sayang.” Wajah Saira berubah khawatir ketika mengetahui ankanya diserang demam. “Gavin nggak pa-pa kok mah, jangan khawatir.” Gavin memegang tangan Saira agar wanita itu tidak cemas. “Bagaimana mama bisa tetang jika anak mama sakit, Gavin? Sekarang kamu istirahat ya, mama bikini kamu bubur abis itu minum obat.” Saira beranjak dari dudu

