Kinan begitu sabar menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Zena. Ke dua mata wanita itu tidak lepas memandangi wajah putrinya yang selama ini dirindukannya. Senyum Kinan mengembang ketika Zena mengusap pipinya lembut. “Mama kenapa sih?” tanya Kinan sembari menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Zena. “Allah begitu adil dengan hambanya. Begitu banyak liku perjalanan yang kita hadapi, akhirnya menemukan titik terang yang begitu manis,” ucap Zena bibirnya sedari tadi tak henti bercap syukur. Kinan meletakkan mangkuk bubur itu yang sudah tidak berisi lagi itu ke atas meja. “Mama benar, rasanya Kinan tidak tahu lagi harus berucap apa sealin rasa syukur atas kesembuhan mama yang semakin nyata di depan mata. Rasanua Kinan bahagia tiada tara.” Kinan meluapkan segala kebahagiaanya. Zena tersenyum

