Zena menatap bangunan rumah mewah itu dengan kening mengerut. Pasalnya sedari tadi Zena bertanya kepada lelaki yang memegang kemudi itu tidak kunjung mendapat jawaban. Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Danu berniat untuk mengantarkannya pulang, tapi ini bukan rumahnya. Rumahnya tidak sebagus ini. “Pah, ini rumah siapa?” kali ini kinan yang membuka pertanyaan yang sama seperti Zena. Danu menatap putrinya dengan senyum. “Kamu akan tahu nanti dan kamu …” Danu sengaja menggantung ucapannya ketika tatapannya tertuju pada Zena yang tengah mencebikkan bibirnya. “Jangan manyun, nanti tambah cantik,” sambung Danu yang langsung keluar dari dalam mobil. Zena mendelik tajam ketika Danu secara terang-terangan menggodanya di hadapan Kinan. “Puas menertawakan mama?” tanya Zena ketus. “Perut

