“Pak Azam ngapain di sini?” Salah seorang gadis berkerudung merah mendekati suamiku. “Saya sedang makan bakso,” jawab Gus Azam ramah. Dua gadis lainnya juga semakin mendekat dan tampak antusias duduk di samping kanan dan kiri suamiku. Mereka sepertinya seusia denganku. Apa anak-anak pondok seagresif itu dengan ustaznya? “Kami boleh ikut gabung, Pak? Kita juga mau makan bakso.” Gadis berkerudung merah itu bertanya dengan mata berbinar. Gus Azam menatapku, dia menaikkan alisnya seolah meminta persetujuan. Namun, kugelengkan kepala. Aku tidak mau acara kencan kami rusak gara-gara gadis-gadis ini. “Masih ada tempat lain yang di sana,” ujar Gus Azam sembari menunjukkan beberapa meja yang masih kosong. Setelah mengatakan itu, ketiga gadis itu memelototiku. “Ada apa?” tanyaku keheranan

