“Nin, kamu tahu nggak kalau yang angkat telepon suamiku?” “Apaaa?” Anin membuka cadarnya kemudian segera minum es teh yang dia beli dari warung. “Kamu nggak bercanda, kan?” “Aku tadi ketiduran. Gus Azam yang angkat telepon, katanya takut kalau aku terbangun. Memangnya kamu ngomongin apa aja?” “Astaghfirullah, Gus Azam pasti berpikir yang tidak-tidak. Kamu belum baca pesanku, Fia?” Aku menggeleng, memang tidak membaca pesan dari Anin dan langsung ke pondok untuk menemuinya. “Aku belum sempat baca.” “Ya sudah, baca sekarang!” Aku mengambil ponsel kemudian membacanya. Pantas saja Gus Azam tertawa. Ternyata yang Anin katakan adalah pengalaman kencannya dengan sang mantan. Aku ingin tertawa, tetapi takut jika dia tersinggung. “Nggak usah ditahan kalau mau ketawa, emang aku dulu kayak

