“Fia! Kamu kenapa?” Aku mendongak mendengar suara seorang laki-laki yang pernah kukagumi, Gus Anam, adik iparku. Segera kuseka sisa air mata di pipi. Aku tidak mau terlihat lemah di mata orang lain. Mereka hanya akan merasa kasihan padaku karena kekurangan yang kumiliki. “Em, enggak apa-apa, Gus. Mataku tadi kelilipan.” Aku berpura-pura mengucek mata supaya terlihat lebih meyakinkan. “Bukan habis nangis ‘kan?” Dia berdecak kesal. “Jelas nangis, mataku perih banget.” “Aku bisa bedain kelilipan sama menangis sungguhan. Bahkan aku bisa melihat ingusmu sampe keluar.” Menyebalkan sekali dia. Apakah adik iparku ini tidak menyukaiku? Mungkin mereka tidak mengharapkanku hadir di keluarga ini. “Ada apa, Nam?” Terdengar suara Umi menyahut dari dalam. Gus Anam hendak berbicara, tetapi aku

