“صدق الله العظيم." Aku menutup kitab suci yang baru saja k****a dan merapikannya ke tempat semula. Gus Azam sedari tadi sibuk dengan kitabnya. Entah apa yang dia cari hingga mejanya berantakan. “Mas cari apa?” “Buku Mas hilang, lupa naruhnya di mana,” jawabnya tanpa melihatku. Dia masih sibuk membolak-balik kitab yang ada di meja. “Buku apa, Mas? Aku bantu cari, deh.” Setelah merapikan mukena yang kupakai selepas salat Maghrib, aku membantu mencari buku suamiku. “Buku catatan, sampulnya warna biru,” jawabannya kemudian duduk di kursi. “Buku warna biru? Sepertinya aku pernah melihatnya.” Suamiku mengerutkan dahi. “Lihat di mana?” tanyanya sembari mengerser posisi duduknya saat aku mendekat. “Di meja, kemarin aku letakkan di dekat novelnya Anin.” Sudah tiga hari aku membaca n

