Nyeri

1158 Kata

Pagi ini aku terbangun kala mendengar suara kokok ayam saling bersahutan. Tubuhku urung menggeliat kala melihat sosok lelaki yang kini telah menjadi suamiku masih terlelap di bawah alam sadar. Aku tidak menyangka jika kami telah melakukannya semalam setelah gagal dengab beberapa kali percobaan. Perlahan aku menyingkirkan tangan Gus Azam dari perutku. Aku harus segera mandi sebelum orang rumah bangun. Di sini hanya ada sebuah kamar mandi, jadi kami harus bergantian. Namun, suamiku sepertinya terusik. Dia menggeliat dan mengerjapkan mata. “Kamu sudah bangun, Sayang?” tanyanya kemudian beranjak duduk. “Sudah, Mas.” “Mau kubantu ke kamar mandi? Ada yang sakit, nggak?” tanyanya sambil menguap. Aku malu menjawabnya. Ini adalah pengalaman pertamaku dan mungkin suamiku sudah tahu jawabann

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN