Aku meninggalkan Pak Rozaq yang mengaduh kesakitan. Aku melirik ke arah Gus Azam dan ingin menolongnya, tetapi dia menggeleng. Dari tatapan matanya, dia menyuruhku segera masuk ke rumah. Karena teriakan Pak Rozaq, salah satu pengawalnya mendekat dan hendak membantu. Saat itulah Gus Azam memiliki kekuatan untuk bangkit kembali. Dia mulai menghajar seorang pengawal yang telah dilumpuhkan. Aku meminjam ponsel kakek untuk menghubungi Pak RT. Ibu pernah menuliskan nomornya di kalender. Aku segera mencarinya kemudian lekas menelepon. “Assalamu’alaikum, Pak. Saya Fia putri almarhum Bapak Mujib. Di rumah saya sedang terjadi keributan. Mohon bantuannya, Pak.” “Keributan apa, Nak?” “Ada preman yang sedang menghajar calon suami saya. Tolong ke sini secepanya, Pak.” “Tunggu sebentar, Nak. Sa

