Enam

1748 Kata
Hunjae menghampiri Minjoo yang terduduk di bangku depan caffe. Pria itu tersenyum lembut sebelum mengusak surai si gadis. "Aish! Kau merusak tatanan rambutku," gerutunya kesal. Sementara Hunjae terkekeh kecil sebagai respon. Minjoo yang tengah merajuk adalah salah satu hal yang paling menggemaskan menurutnya. Meski terkadang ia mendapat pelototan juga tidak jarang pukulan, tapi hal itu tidak mengurangi rasa cintanya untuk gadis dengan surai sepundak itu. "Maaf, maaf." kata Hunjae masih dengan tertawa kecil. Minjoo mendengkus sebagai respon. Setelahnya hening, Hunjae diam memperhatikan Minjoo yang kini menunduk sembari bermain dengan kakinya sendiri membentuk pola abstrak di lantai. "Terjadi sesuatu?" Minjoo mendongak. Ia menatap Hunjae dengan pandangan polos, lalu menggeleng kemudian. Minjoo memilih untuk tidak memeberitahu Hunjae soal apa yang terjadi antara dirinya juga Chankyung beberapa saat lalu. Lagipula itu bukanlah hal besar menurutnya, mereka hanya kembali menjadi teman. Tkdak lebih dari itu.  Hunjae mengangguk sekilas. Sebenarnya ia kurang yakin dengan jawaban Minjoo, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Tapi ia membiarkan hal itu, dirinya akan menunggu sampai Minjoo  bercerita atas kemauannya sendiri. "Kajja," Hunjae mengulurkan tangan di depan Minjoo yang disambut baik oleh si gadis. Keduanya berjalan beriringan menuju mobil Hunjae yang diparkir tidak jauh dari tempat keduanya berada. Dengan segera Hunjae membuka pintu bagian penumpang dan menutup pintu setelah memastikan Minjoo duduk dengan nyaman, sebelum kemudian ia berlari kecil ke arah bangku kemudi. Mobil melaju perlahan dan tanpa disadari keduanya, dari seberang jalan tepat di depan toko roti, Chankyung memperhatikan mereka.  Ia mengamati dengan lekat bagaimana keduanya tertawa saat Hunjae membisikan sesuatu ke telinga Minjoo sebelum gadis itu memasuki mobil, juga Minjoo yang dengan manja bersandar sambil mengamit erat lengan Hunjae saat keduanya berjalan beriringan. Chankyung tersenyum miris, ia jadi teringat soal kisah masa lalu mereka. Di mana ia yang terlalu egois dan tidak menghagai seseorang. "Mereka terlihat seperti sepasang kekasih," ujarnya lirih sembari terkekeh miris. "Jika dulu aku memperlakukan mu dengan lebih baik, apa saat ini keadaan akan berubah?" gumamnya pelan. Ia menghela napas berat, menatap kosong ke arah mobil Hunjae yang sudah melaju. Rasa sesal itu masih dan akan terus ada sampai kapanpun. Meski Minjoo telah memaafkan, dan keduanya menjadi teman, Chankyung tahu gadis itu masih belum bisa menerima kehadirannya sepenuhnya. Pria bermarga Park itu juga tahu jika apa yang dilakulannya dulu sudah sangat keterlaluan, tapi ia hanya ingin membuktikan satu hal. Semua sudah berubah, segalanya sudah berubah untuk saat ini. Chankyung mengambil langkah pergi. Dirinya berniat untuk memulai menjalankan aksi untuk mendapatkan cintanya lagi, berusaha meyakinkan Minjoo jika ia benar-benar telah berubah dan ingin keduanya menjadi lebih dari sekadar teman. Semoga usahanya tidak sia-sia, batinnya berdoa. Sementara itu Minjoo tersenyum ramah pada seorang kasir setelah selesai membeli camilan. Ia menunggu dengan sabar Hunjae yang tengah membeli tiket bioskop. Tidak lama berselang Pria itu kembali, tapi tidak sendiri. Ada satu orang lain yang berjalan tepat di sampingnya, dan hal itu membuat senyum Minjoo yang sempat merekah menjadi surut seketika. Orang itu, yang berjalan tepat di samping Oh Hunjae adalah Park Chankyung. Iya, Pria itu ada di sana. Pria dengan sweater berwarna coklat s**u juga rambut poni itu berjalan tepat di sebelah Hunjae, tersenyum tipis ke arah Minjoo yang terdiam mematung di tempat. Bisa dirasakan tatapan tidak suka Minjoo akan kehadiran Chankyung. Chankyung sendiri sadar soal itu, tapi ia mencoba mengabaikannya dan tersenyum seolah tidak tahu apa-apa. "Hai," sapanya Chankyung kaku. Minjoo melirik Hunjae sekilas sebelum ia menggeret Hunjae untuk menepi sebentar. Minjoo membawa Pria itu ke salah satu sudut, ia menatap Hunjae dengan pandangan bertanya sebelum mengeluarkan apa yang sejak tadi ada dalam benaknya. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau bisa bersama dia, eoh," tanya Minjoo panik. Terlihat jelas raut tidak suka pada wajah Minjoo. Gadis itu juga tidak mengerti dengan apa yang tengah Hunjae lakukan, kenapa ia harus bersama Chankyung bersamanya? Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Hunjae hanya bisa tersenyum tipis. Melihat bagaimana raut panik juga tegang Minjoo membuatnya bisa menyimpulkan satu hal. Benar-benar telah terjadi sesuatu di antara mereka. Hunjae menepuk dua bahu Minjoo pelan. Ia meremat pelan bahu gadis itu dan menatap gadis itu dengan lembut disertai senyum tulus yang tersemat apik di wajahnya tampannya. "Minjoo-ya. Semua sudah terlalu lama, sudah saatnya kau berdamai dengan masa lalu. Bukan kah kalian sekarang berteman?" ujar Hunjae lembut. Minjoo mematung, bagaimana Hunjae tahu? "Kau ...." Minjoo tidak bisa melanjutkan perkataannya, otaknya mendadak blank. Ia tidak bisa berpikir jernih untuk sekadar menebak bagaima bisa Hunjae mengetahui hal itu. Lagi-lagi Hunjae tersenyum. Pria itu menyentil gemas hidung bangir Minjoo, membuat si gadis yang terdiam melamun sontak mendongak. "Aku tahu semua hal tentangmu. Kau lupa kita sudah berteman sejak dalam kandungan?" ujarnya terkekeh kemudian. "Tapi aku tidak mau bersama dengannya. Kau tahu aku ingin melupakannya," suara Minjoo mengecil, gadis itu menunduk dalam. Lagi-lagi Hunjae tersenyum. Ia bisa merasakan apa yang Minjoo rasakan, tapi ia juga berpikir jika Minjoo tidak bisa terus lari. Ia harus bisa menghadapinya apapun yang terjadi. "Kau sudah mencobanya hampir lima tahun, tapi nyatanya sama saja bukan. Mulai saat ini kau harus mencoba berdamai dengan hatimu. Jujur akan perasaan dan keinginanmu, tidak ada yang salah jika hatimu masih menginginkanya. Dia rumahmu." Ucapan Hunjae lagi-lagi menohok hati Minjoo. Apa yang dikatakan pria itu memang benar, tidak ada yang salah jika ia menerima Chankyung lagi. Tapi bagi Minjoo sendiri, ia belum yakin. Ia masih khawatir jika apa yang terjadi dulu akan terulang lagi. Ia masih belum siap untuk menerima penolakan ataupun menjadi satu-satunya pihak yang mencintai. "Lalu bagaimana dengamu?" Hunjae terdiam. Detik berikutnya pria itu menghela napas, ia mencoba tersenyum. Berusaha membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku? Aku bahagia saat kau juga bahagia. Kembalilah pada rumahmu, berhenti lari dan kabur. Rumahmu menunggu." Tidak dipungkiri Hunjae membuat kebohongan besar saat mengatakan demikian. Ia ingin egois dan menjadikan Minjoo miliknya tanpa perlu repot-repot membantu Chankyung mendapatkan hati gadis itu lagi. Tapi di satu sisi ia sadar, sekeras apapun ia menahan Minjoo untuk tetap ada di sisinya kelak hal itu takkan berhasil. Ia takkan bisa membahagiakan gadis itu sepenuhnya. Hanya Chankyung yang bisa melakukan hal itu, meski sekarang Minjoo membencinya tapi dalam lubuk hatinya ia masih begitu mencintai Chankyung. Mungkin apa yang dilakukan Hunjae terkesan bodoh, beberapa dari kalian mungkin akan berkata jika hal itu hanya ada dalam novel ataupun drama picisan saja. Tapi bagi Hunjae sendiri, kebahagiaan Minjoo adalah yang paling penting. Ia memang tidak bisa bersama gadis itu dalam satu perasaan yang sama, tapi ia masih bersama dengannya sebagai Teman, Kakak dan Keluarga. Karena menurut Hunjae, cinta yang tulus adalah saat kau bisa membiarkan ke mana cintamu memilih untuk  bahagia. "Bohong!" sahut Minjoo tegas. Ia tahu jika Hunjae terluka untuk itu. Ia tahu dengan jelas selama ini Hunjae sudah terlalu banyak terluka karena mencintai dirinya, dan hari ini ia melakukannya lagi. "Ya, aku memang berbohong. Aku memang berbohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja, tapi aku tidak berbohong saat aku mengatakan bahwa aku bahagia saat kau bahagia." "aku tahu jika mereka akan mengatakan aku bodoh menyiakan kesempatan yang ada. Tapi sungguh, aku hanya ingin melihatmu bahagia, aku mengatakan ini sebagai Sahabat, juga Kakakmu," terang Hunjae. Minjoo terdiam. Membuang muka, menghindari Hunjae yang menatapnya lekat. Sedikit dalam dirinya merasa kesal karena Hunjae memintanya untuk kembali menerima Chankyung. Bukannya Minjoo tidak bisa menerima pria itu lagi, hanya saja ia tak ingin. Ada rasa takut yang terus menyelimuti sudut hatinya, dan rasa itu juga yang terus membuatnya ragu. Pada akhirnya Minjoo hanya bisa menurut, ia tidak nbisa lagi mendebat Hunjae. Karena ia sendiri belum mengerti dengan perasaanya, ia mengaku masih mencintai Chankyung, tapi ia juga merasa takut disaat bersamaan. Keduanya kembali ke tempat awal di mana Chankyung masih setia menunggu mereka. Pria itu menggaruk tengkuk, tersenyum kaku karena suasana tiba-tiba menjadi canggung. "Ayo masuk. Filemnya akan dimulai," seru Minjoo cepat. Satu-satunya perempuan di antara tiga orang dewasa itu berjalan lebih dulu dari dua pria yang hanya menatapnya dari belakang. Hunjae dan Chankyung saling lirik, heran dengan tingkah Minjoo sampai kemudian Hunjae tersenyum kecil dan berjalan masuk ke dalam studio diikuti Chankyung di belakangnya. Sepanjang film berjalan Minjoo merutuk dalam hati. Itu bukan perkara film yang tengah diputar, melainkan lebih kepada sosok tinggi di sampingnya yang mengamit lengannya erat. Amat erat. Chankyung. Pria itu sejak tadi terfokus pada film yang tengah di putar. Sebenarnya ia paling benci dengan film horor, tapi demi menjalankan aksinya ia mencoba memberanikan diri. Mencoba menekan kuat-kuat rasa takutnya sendiri untuk mencapai tujuannya. Tapi sungguh! Mengamit lengan Minjoo, berteriak begitu hantu muncul ataupun bersembunyi di belakang tubuh gadis itun, semuanya hanyalah reflek. Itu hanya sebagai pelampiasan rasa takutnya semata, bukan untuk mencari kesempatan dalam kesempitan atau semacamnya. Tak ada modus, niat lain ataupu akal bulus. Chankyung melakukannya dengan tidak sengaja. Sementara Hunjae yang duduk di sisi lain Minjoo hanya memperhatikan sekilas. Sebenarnya ia sengaja membeli tiket horor untuk mereka. Sebelumnya, ia dan Minjoo berniat menonton salah satu film animasi yang dirilis belum lama ini. Tapi Hunjae beralasan jika tiket film tersebut telah habis terjual dan mereka terpaksa menonton film lain. Hunjae menyarankan satu judul pada Minjoo, Pria itu mengatakan jika film yang ia pilih memiliki rating bagus dan banyak rekannya yang juga merekomendasikan film tersebut. Minjoo menurut saja dan membagi tugas. Gadis itu akan membeli camilan sementara Hunjae mengantri untuk membeli tiket. Saat Hunjae tengah mengantri, ia secara tidak sengaja melihat sosok Chankyung yang beridiri di samping tembok tidak jauh dari tempatnya berada. Ia mengikuti arah pandangan Pria itu dan sadar jika ia tengah mengamati Minjoo dari jauh. Mengingat kembali apa yang dikatakan Jihoon beberapa hari yang lalu soal Chankyung yang menemui Minjoo dan keduanya berbicara bersama membuat Hunjae mengambil satu kesimpulan. Chankyung merasa menyesal, ia ingin kembali bersama Minjoo meski gadis itu terus menolaknya. Makadari itu Hunjae sengaja membeli tiga tiket. Pria itu tidak lantas kembali ke tempat di mana Minjoo tengah menunggunya, ia memilih untuk menemui Chankyung lebih dulu. "Park Chankyung?" Seperti maling yang tertangkap basah, Chankyung terkejut dengan kedatangan Hunjae. Pria itu sempat hendak melarikan diri sebelum tangan Hunjae mencekal lengan Pria itu. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hunjae basa-basi. Ia hanya penasaran alibi apa yang akan dikatakan Chankyung. "Bukan apa-apa, aku harus pergi." Tepat saat Chankyung akan melangkah pergi, suara Hunjae sanggup membuatnya berhenti seketika. "Aku tahu sejak tadi kau memperhatikan Minjoo." Chankyung berbalik, ia terlihat panik dan berjalan mendekat ke arah Hunjae. "Tolong jangan beritahu Minjoo, kumohon. Aku hanya ingin bisa dekat denganya lagi, aku hanya ingin membuatnya kembali percaya padaku, aku." "Aku tahu," Hunjae memotong perkataan Minjoo. "Aku tahu jika kau menyesal dan ingin agar Minjoo kembali padamu, bukan?" Anggukan Chankyung membuat Hunjae tersenyum kecil. "Aku akan membantu mu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN