Tujuh

1220 Kata
Film berakhir tepat pukul sepuluh malam, ketiganya melangkah keluar dari bioskop dengan ekspresi berbeda.  Minjoo cemberut dengan ekspresi kesal bukan main. Chankyung sendiri masih terlihat jelas ketakutan. Raut ketakutan masih terpampang dengan jelas di sana bahkan badan besarnya sesekali menggigil saat ia mengingat bagaimana rupa hantu dalam film. Sedang Hunjae, pria itu hanya tersenyum simpul melihat keduanya.  Pria itu menggeleng pelan dengan ekspresi mereka yang amat jauh berbeda. "Aku mau pulang," seru Minjoo tiba-tiba. Terlihat jelas gadis itu merasa kurang nyaman berada di sekitar Chankyung. Ia masih saja memasang wajah cemberut dan memalingkan wajah, seolah enggan untuk melihat Chankyung yang berdiri di sebelahnya. Chankyung sendiri hanya bisa tersenyum canggung, ia maklum dengan respon Minjoo terhadap dirinya meski dalam hati ia tetap berharap agar hubungan keduanya benar-benar bisa membaik. Dalam artian sebenarnya, jika bisa menjadi lebih dari sekadar teman ia lebih bersyukur. "Sebentar lagi tak apa?" Hunjae membujuk. Minjoo menggeleng kuat, ia benar-benar ingin pulang saat itu juga. "Jika kau ingin pulang sekarang, aku tidak bisa mengantarmu, ada urusan yang harus ku selesaikan dulu. Tapi jika kau mau pulang lebih dulu, kau bisa pulang bersama Chankyung," sahut Hunjae kemudian. Minjoo sempat melirik ke arah Chankyung dengan ekor mata, pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan berharap. Ia tersenyum kecil ke arah Minjoo begitu ia sadar gadis itu tengah meliriknya. Berpikir sejenak, Minjoo mengehela napas kemudian berkata. "Yasudah, aku ikut denganmu saja," putusnya terpaksa.  Bisa dilihat Chankyung yang tadinya tersenyum kecil langsung mengubah ekspresinya seketika, ia berusaha menerima dan memaklumi dengan keputusan yang Minjoo ambil. "Geurae, kajja." Mereka bertiga berjalan ke arah lahan parkir, dengan perasaan yang masih kesal Minjoo memasuki mobil Hunjae. Pada mulanya Minjoo mengira hanya mereka berdua yang akan pergi, tapi ternyata  tidak begitu.  Chankyung turut serta bersama mereka, ia mengikuti Hunjae dan Minjoo dari belakang dengan mobil miliknya. Ia melakukan hal itu tentu atas permintaan Hunjae. Pria itu berkata jika Chankyung bisa menjaga Minjoo sementara ia bertemu dengan seseorang. Menyebalkan, batin Minjoo kesal. "Kau kenapa sih? Tadi mengajak Chankyung tanpa memberitahuku sebelumnya. Dan sekarang, kau meminta pria itu untuk menjagaku? Aku bisa menjaga diriku sendiri," dumal Minjoo sembari bersedekap. "Maaf. Tapi aku tidak percaya kau bisa menjaga dirimu sendiri, bukankah lebih bagus jika kalian sering bersama."  Mendengar perkataan Hunjae membuat perasaan Minjoo kian kesal. Ia heran dengan apa yang sebenarnya tengah Hunjae lakukan, apa yang sebenarnya Pria itu rencanakan untuknya. "Hentikan omonganmu itu. Aku pusing mendengarnya," tukas Minjoo kesal. Hunjae tersenyum kecil menanggapinya. Sekitar tiga puluh menit kemudian ketiganya sampai di satu restoran China, Hunjae turun dan masuk ke Restorant lebih dulu bertanya ke arah resepsionis. Ia menanyakan soal ruangan yang telah ia pesan untuk urusan pentingnya. Hunjae kembali ke arah dua orang lainnya yang menunggu, ia tersenyum kecil saat mendapati jarak keduanya duduk amat jauh. Minjoo berusaha memfokuskan dan menyibukan diri dengan ponsel miliknya, ia terlihat benar-benar enggan untuk berurusan apapun dengan Chankyung. Sementara Pria itu sendiri hanya diam dengan sesekali melirik ke arah Minjoo, mencuri pandang ke arah gadis yang sama sekali tidak mau melihatnya. "Maaf membuat kalian menunggu," ujar Hunjae mendekat.  Dengan gerakan kilat Minjoo berdiri, ia menatap Hunjae dengan tatapan memelas. Berusaha membujuk lewat sorot mata agar Pria itu tidak meninggalkannya berdua saja dengan Chankyung. "Sepertinya kalian harus menunggu lagi. Aku masih harus menemui seseorang dan ku rasa akan membutuhkan waktu. Kalian bisa pulang lebih dulu jika ingin, Minjoo-ya kau pulanglah dengan Chankyung dulu." Perkataan Hunjae disambut pelototan tajam oleh satu-satunya gadis di sana. Ia benar-benar mengkode Hunjae untuk tidak mencoba mendekatkannya lagi dengan Chankyung. "Aku menunggu mu saja," sahut Minjoo final. Ia kembali teruduk dengan bersedekap dadaa, rautnya terlihat jauh lebih kesal dibanding beberapa saat lalu. Hunjae melihat ke arah Chankyung kemudian tersenyum kecil, tanpa perlu bertanya ia sudah tahu jawaban Chankyung. Ia takkan mau pulang lebih dulu sebelum Minjoo. Kemudian Hunjae melangkah kembali masuk ke dalam ruangan yang telah ia sewa.  Minjoo juga Chankyung ditinggal berdua selepas Hunjae berpamitan untuk menemui teman sekaligus rekan bisnis Sang Ayah yang kebetulan tengah berada di Korea. Awalnya Minjoo ingin menolak, tapi percuma. Pada akhirnya ia tetap berakhir berdua dengan Chankyung. Sia-sia saja ia tadi meminta turut serta, pikirnya. Suasana hening beberapa saat, hanya terdengar langkah kaki dari beberapa orang yang berlalu lalang di dekat mereka. Keduanya duduk di salah satu bangku ruang tunggu, posisi duduk keduanya terbilang cukup sepi. Chankyung berdehem, berusaha mengalihkan atensi Minjoo dari ponsel yang tengah dimainkan. Gadis itu melirik sekilas sebelum kembali pada kegiatan semula. Lagi-lagi Chankyung berdehem, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Minjoo masih berusaha mengabaikan apa yang Chankyung lakukan, ia masih mencoba bersabar. Tapi hal itu tidak lagi berlaku saat Chankyung masih saja berdeham, seolah mencoba menarik perhatiannya. Minjoo yang merasa jengah, mendongakan pandangan, gadis itu menatap langsung ke arah Chankyung dengan tatapan sengit. "Bisa jangan ganggu aku?" ujarnya dingin, terlihat raut kesal di sana.  Tapi alih-alih terlihat menyeramkan, Minjoo justru terlihat menggemaskan dengan wajah merah padamnya. Setidaknya itu yang Chankyung pikirkan, pria itu bahkan tersenyum bodoh yang dibalas kernyitan oleh Minjoo. "Maaf. Aku hanya ingin mengobrol, tidak ada salahnya 'kan. Lagipula kita sudah menjadi teman," ujar Chankyung ragu. Ia berujar tidak yakin untuk hal itu. Minjoo tidak menyahut, ia lebih memilih untuk kembali hanyut dengan permainan di ponselnya daripada harus menanggapi Chankyung. Awlalnya Minjoo ingin mengabaikan Chankyung, namun lagi-lagi pria itu terus saja membuat kegaduhan. Entah itu memukul-mukul meja layaknya drum, berdehem berkali-kali ataupun bergumam lagu-lagu. Membuat Minjoo benar-benar jengah dan kesal bukan main. "Apa maumu?" tanya Minjoo dengan suara agak keras. Ia mencoba untuk menahan diri, agar tidak meledak dan berteriak saat itu juga, ia tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Chankyung tersenyum tipis. Meski reaksi Minjoo bisa dibilang kurang baik, setidaknya gadis itu mau berbicara dengannya. Yah, meski terpaksa. "Mengobrol. Sebagai teman, mungkin," ujarnya tidak terlalu yakin. Minjoo akhirnya menyetujui dan bersedia menanggapi Chankyung meski dengan terpaksa. Ia hanya tak ingin Chankyung kembali membuat kegaduhan dan membuatnya semakin pusing. "Apa saja yang kau lakukan lima tahun ini?" buka Chankyung lebih dulu. Ia benar-benar penasaran dengan hari-hari Minjoo selepas ia memutuskan mundur. Apa mungkin sesekali gadis itu pernah merindukannya? "Harus ku jawab?" Chankyung mengangguk semangat. Kini ia tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Ia terlihat seperti anak anjing yang baru saja mendapat perintah. "Tidak ada. Hanya melanjutkan studi ke universitas juga membuka caffe seperti yang kau tahu," sahut Minjoo malas. "Kau sendiri?" Chankyung jelas terkejut. Minjoo bertanya padanya adalah hal di luar ekspektasi dari rencana mengobrol yang ia susun. "Tak jauh berbeda. Hanya saja aku juga mencarimu, merindukanmu dan makin merindukanmu tiap harinya," tidak ada niat menggombal, Chankyung menjawab apa adanya. Ia memang benar-benar merindukan Minjoo. Maka saat ia berhasil menemukan gadis itu tanpa sengaja, tekadnya kian bulat untuk kembali menggapai cinta gadis tersebut. "Maaf jika waktumu dan Hunjae terganggu karena kehadiranku. Aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh. Hanya saja aku ingin membuat hubungan kita seperti dulu. Bukannya apa, aku hanya ingin bisa dekat denganmu. Itu saja," Chankyung berkata sungguh-sungguh. Ia takkan terburu untuk mendapatkan hati Minjoo Ia akan memulai perlahan. Menjadi teman, awal bagus untuk memulai perjalanan, batinnya yakin. Ia harus jadi layaknya ombak yang bisa memecah kerasnya karang dengan deburannya yang tanpa henti. Ponsel Minjoo bergetar. Hunjae, pria itu mengirim pesan yang membuat Minjoo menghela napas kesal. "Kenapa?" Chankyung bertanya penasaran. "Hunjae tidak bisa mengantarku pulang," jawab Minjoo spontan. Ia sendiri terkejut dengan itu. "Mau kuantar pulang?" tawar Chankyung cepat. Ini saatnya, batinnya semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN