Dua puluh satu

1833 Kata
Ciuman itu selesai saat Chankyung menjauhkan wajahnya dari Minjoo, mata gadis itu masih terpejam erat dengan pipinya yang bersemu merah layaknya tomat masak. Tangan besar Chankyung menangkup pipi Minjoo yang terasa panas karena gadis itu merasa malu bukan main, ia mengusap pipi berisi itu dengan lembut dan perlahan turun ke arah sudut bibir Minjoo yang agak membengkak karena ulahnya. Chankyung tertawa kecil melihat bagaimana reaksi Minjoo terhadap ciuman mereka beberapa saat lalu, gadis itu tampak lucu saat terkejut dan memejamkan matanya erat. Ia juga nampak dua kali lebih cantik saat bersemu seperti sekarang, membuat Chankyung terlalu gemas sampai tanpa sadar memberikan satu kecupan lagi pada pipi si gadis Do yang kian memerah. Kini Minjoo membuka matanya lebar-lebar akibat ulah Chankyung, ia menatap pria itu dengan ekspresi terkejutnya yang benar-benar mirip seperti burung hantu. Matanya yang terlihat kian membesar juga bibir hatinya yang membentuk huruf O besar membuatnya tampak lebih dan lebih menggemaskan. Chankyung mengusak surai Minjoo gemas, lantas mendorong gadis itu pelan agar segera keluar dari dalam cafe. Ia mengambil alih kunci cafe dan mengunci bangunan satu lantai itu setelah sebelumnya mematikan seluruh lampu.  Minjoo yang baru saja tersadar dengan lamunannya berdeham beberapa kali sembari mengalihkan wajahnya ke arah lain. Chankyung yang baru saja selesai dengan kegiatannya mengunci pintu kembali mendekati Minjoo, ia menyerahkan kunci cafe pada gadis itu lagi. "Terima kasih," katanya. Chankyung mengangguk, sempat terjadi jeda selama beberapa second sesaat sebelum lagi-lagi Chankyung yang mengeluarkan suara lebih dulu. "Ayo pulang," ujarnya mengulurkan tangan, bermaksud agar Minjoo mau menyambut uluran tangannya dan mereka bergandengan tangan. Tapi yang terjadi justru Minjoo hanya menatap Chankyung polos, ia tahu apa yang dimaksud pria itu hanya saja ia merasa heran. Kenapa Chankyung harus melakukan ini semua, apa ia memang seniat itu untuk kembali mendapatkan kepercayaan juga hatinya?  Apa pria ini benar-benar serius dengan perasaanya atau ini hanya sekadar taktik agar Minjoo kembali percaya padanya dan ia bisa dengan mudah membuatnya kembali merasakan sakit hati? Minjoo tidak tahu mana yang sebenarnya terjadi atau sedang terjadi saat ini. Yang pasti dirinya mengakui jika ia telah memaafkan Chankyung, tapi ia masih belum bisa percaya pada pria itu secara seutuhnya. Menyadari Minjoo yang hanya diam ditempat, Chankyung berdecak. Tanpa permisi ia segera mengamit lengan Minjoo dan menelusupkannya pada lengannya sendiri, membuat pose seolah dirinya tengah menggandeng si gadis meski kenyataanya ia sendiri yang melakukan hal demikian. "Tidak perlu takut. Aku tidak akan membawamu ke tempat aneh-aneh, aku hanya ingin mengantarmu pulang dengan berjalan kaki," ujar Chankyung dengan menatap lurus ke arah depan. "Memang siapa yang berpikir seperti itu, ada-ada saja," kilah Minjoo cepat. Chankyung mengeluarkan jurus andalannya yaitu senyum tipis dengan kesan lembut yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa damai. "Kau masih saja senang menutupi perasaanmu," ujar Chankyung gemas. Tangan kanannya yang bebas ia gunakan untuk mengusak surai si gadis dengan gemas. Minjoo menggeram marah dengan apa yang dilakukan Chankyung, ia menepis tangan Pria itu yang masih saja betah bertengger pada poni depannya. "Apapu  asal jangan poniku!" seru Minjoo tanpa sadar menggerutu. Ia segera merapikan poni tirainya masih dengan menggerutu sebal. "Baiklah, begini saja." Hal itu terjadi begitu cepat dan mendadak, saat bibir tebal Chankyung kembali mendarat pada bibir merona Minjoo meski dalam hitungan detik. Dan setelahnya lelaki itu justru hanya tersenyum lebar tanpa dosa, seakan apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.  Iya, tidak mengejutkan tapi bisa memacu serangan jantung mendadak bagi Minjoo. Gadis itu masih saja diam dengan pandangan lurus ke arah depan. Ia malu tentu saja tapi senang disaat yang bersamaan. Tapi kenapa Chankyung harus melakukan hal itu di tepi jalan seperti sekarang? Banyak pasang mata yang menyaksikan aksinya itu dan mungkin saja tidak sedikit dari mereka yang akan menganggap mereka pasangan m***m. Secara, hei. Mereka tidak sedang merekam adegan drama atau semacamnya tapi dengan seenak jidat Chankyung menciumnya tepat di bibir. Benar-benar hal yang tidak pernah dibayangkan Minjoo sebelumnya. Menyadari jika gadis mungil di sampingnya ini merasa malu, Chankyung justru lebih menggodanya dengan menutup wajahnya sendiri dengan dua tangan. Ia sengaja menggoyangkan badannya dengan bersuara layaknya seorang gadis yang tengah merasa malu. Sadar jika Chankyung tengah mengejeknya, spontan Minjoo memukul pria itu dengan tas selempang yang memang ia bawa. Tidak terlalu keras tapi cukup berasa. Bukannya mengaduh kesakitan Chankyung justru tertawa lebar, tanpa sadar Minjoo sudah melakukan satu persatu kebiasaanya yang dulu, selain mudah tersipu tentu saja. Gadis itu memang termasuk ringan tangan, ia takkan segan memukul ataupun memberikan cubitan maha dahsyat jika ada sesuatu yang kurang berkenan untuknya. Chankyung tentu saja pernah mendapatkan hal itu, saat itu bisa dibilang masa awal-awal pendekatan Minjoo pada Chankyung. Chankyumg masih bersikap ramah pada gadis itu karena ia sendiri bisa dibilang orang yang tidak terlalu peduli dengan gosip atau rumor yang sedang beredar di luaran sana. Termasuk gosip yang tengah hangat dibincangkan seluruh warga sekolah saat itu. Hal itu adalah soal Minjoo yang menyukai Chankyung dan selalu mengejarnya dimanapun dan kapanpun. Chankyung sendiri sadar jika Minjoo memang terlalu sering menemuinya, atau terkadang gadis itu tanpa sengaja berpapasan dengannya. Tapi hal itu tidak lantas bisa dijadikan acuan untuk menyebar rumor bukan? Menurut Chankyung pertemuan keduanya tidak seintens apa yang dibicarakan orang-orang, perlakuan gadis itu ataupun dirinya juga tidak terlalu istimewa. Semuanya normal dan baik-baik saja menurut Chankyung. Memang sesekali Chankyung merasa agak aneh saat dimana ia berada sembilan puluh persen ia akan melihat Minjoo di sana, entah gadis itu yang memang ada di mana-mana atau keduanya yang memang selalu berpapasan tanpa sengaja. Seperti hari itu, tepatnya saat sekolah mengadakan kelas campuran untuk persiapan ujian semester. Tanpa sengaja Chankyung dan Minjoo menjadi teman sebangku, Chankyung yang pada dasarnya anak irit bicara memilih diam di kelas setelah bel pelajaran berbunyi. Karena guru yang tidak kunjung datang membuat seisi kelas menjadi gaduh tak terkendali, dan pada saat itu ada tiga orang siswa teman sekelas Minjoo yang maju ke depan dengan penuh percaya diri.  Mereka kemudian memprakteka  gaya salah satu guru yang terkenal dengan kegalakannya di depan semua murid yang kemudian tergelak bukan main. Termasuk Minjoo. Gadis bermarga Do itu tertawa terbahak-bahak dengan aksi teman sekelasnya yang menurut Chankyung tidak bisa ia mengerti di mana letak kelucuan mereka. Tapi hal itu berbanding terbalik dengan Minjoo yang tertawa lepas, ia bahkan tanpa sadar memukuli Chankyung yang memang duduk di sebelahnya dengan agak brutal sebagai pelampiasan rasa gelinya. Mengingat hal itu membuat Chankyung tanpa sadar tersenyum tipis, Minjoo yang mendapati lelaki di depannya tersenyum sontak mengernyit. Ia menepuk lengan Chankyung agak keras, seolah menyadarkan pria itu dari lamunannya sendiri. "Kau aneh," komentar Minjoo tanpa filter. Gadis itu masih melihat Chankyung dengan wajah aneh dan khawatir. Mungkin ia takut jika Chankyung kesambet sesuatu. "Sudahlah, ayo kita jalan lagi," kembali Chankyung menggandeng lengan Minjoo. Sebuah keajaiban bagi Chankyung, Minjoo bisa begitu menurutinya malam ini. Ia bahkan tidak memprotes Chankyung yang kini menggenggam jemari gadis itu dalam gandengan keduanya. Minjoo juga tampak santai menikmati waktu mereka berdua, dan hal itu benar-benar membuat Chankyung merasa bahagia. Selama perjalanan menuju apartemen tempat Minjoo tinggal ada saja tingkah Chankyung yang membuat gadis bermata Doe itu terkadang mendesis kesal ataupun memberikan pukulan mautnya meski dengan maksud candaan. Keduanya tampak seperti pasangan kekasih yang tengah menghabiskan waktu bersama, juga gandengan tangan Minjoo yang masih saja erat pada lengan Chankyung membuat suasana manis di antara mereka kian terasa. "Minjoo-ya," ujar Chankyung dengan suara berat yang ia buat-buat. Minjoo menghela nafas jengah, ia menoleh ke arah Chankyung dengan tatapan bertanya. Dalam benaknya berkata, bertanya entah tingkah apa dan bagaimana lagi yang akan pria ini lakukan. Tapi ada hal yang berbeda saat Minjoo telah benar-benar menoleh ke arah Pria itu, Chankyung tidak lagi bertingkah random ataupun berbuat usil yang berakhir memancing rasa kesal seorang Do Minjoo. Pria itu hanya diam dengan mata yang menatap lurus ke arah Minjoo yang juga tengah menatapnya dengan pandangan heran. 'Kenapa dengan dia? Ada yang salah dengan otaknya?' batin Minjoo bertanya heran. "Kau kenapa?" pada akhirnya Minjoo bertanya, ia hanya takut terjadi sesuatu pada Chankyung karena bagaimanapun dirinya juga yang akan repot nantinya. Lelaki bermarga Park itu hanya menggeleng lantas mengumbar senyum lebar, ia mengeratkan gandengan tangan Minjoo. Menggengamnya kuat-kuat seakan jika dirinya lengah sedikit saja Minjoo akan pergi menjauh. "Tidak ada, aku hanya senang," ujarnya kembali melangkah. Minjoo masih belum mengerti maksud perkataan Chankyung, apa yang membuat pria itu terlihat bahagia. Keduanya hanya berjalan bersama dan …. Sepertinya Minjoo paham maksud ucapan Chankyung, apa alasan pria itu begitu bahagia malam ini adalah karena dirinya. Karena mereka pulang bersama dan segala hal yang mereka lakukan selama perjalanan tadi? Dengan berpikir demkian justru membuat Minjoo malu sendiri, ia juga terkejut dengan bagaimana dirinya menikmati waktu bersama Park Chankyung.  Bahkan ia tidak lagi merasa khawatir untuk melakukan skinship ataupun bertukar candaan dengan Pria itu selama perjalanan, dan Minjoo merasa kagum pada dirinya sendiri. Apa ini artinya ia siap menghadapi masa lalu dan mulai melangkah untuk masa depan? Mencoba berdamai dan terbiasa dengan kenangan kelam sekaligus menyambut masa depan membahagiakan, semoga. Tanpa terasa langkah keduanya telah sampai di depan gedung apartemen Minjoo, Chankyung yang lebih dulu melepaskan tautan tangan mereka. Pria itu menaruh dua tangannya pada bahu si gadis dengan sedikit meremat lembut. "Masuklah jangan lupa bersihkan wajahmu dan segeralah beristirahat, terima kasih untuk hari ini," ujarnya lagi-lagi tersenyum lebar.  Jika dipikir Chankyung banyak sekali tersenyum hari ini, sepertinya ia benar-benar merasa senang. Minjoo mengangguk saja, ia mengatakan hal yang sama untuk Chankyung sebelum kemudian melangkah memasuki apartemen. Chankyung masih ada di sana sampai bayangan Minjoo hilang pada belokan anak tangga menuju lantai selanjutnya. Setelah memastikan si gadis kembali dengan selamat barulah ia melangkah pergi dari sana. Semenatara itu setibanya Minjoo di unit apartemen ia segera menghempaskan diri pada ranjang dengan d**a berdebar hebat. Ia masih saja terbayang soal apa saja yang terjadi padanya dan Chankyung beberapa jam sebelumnya. Ia sendiri tidak menyangka jika ia bisa dengan mudah menurut dengan apa yang pria itu lakukan, dan yang lebih mengherankan lagi ia juga menikmati waktu bersama pria itu. Benar-benar diluar kendali. Saat Minjoo tengah asyik dengan lamunannya sendiri tiba-tiba ponselnya bergetar, tertera id Hunjae sebagai nama pemanggil. Dengan segera gadis itu mengangkat panggilan dari Hunjae, ia menyapa pria itu dengan penuh semangat. "Kau sudah pulang?" tanya-nya kemudian. "Ya, kenapa kau tidak menjemputku?" sahut Minjoo dengan nada merajuk, sebenarnya ia hanya berpura-pura karena biasanya Hunjae melakukan hal itu setiap hari. "Maaf, aku terlalu sibuk hari ini banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan," jawab Hunjae pelan. Sebenarnya bukan itu yang ia lakukan, ia juga tahu jika Minjoo pulang bersama siapa hari ini. Tapi ia lebih memilih berpura-pura tidak tahu dan tidak ingin membahas hal itu karena bagaimana pun hal itu menyakiti hatinya juga. Ia hanya ingin fokus pada Minjoo, ia tidak ingin memikirkan hal lain apalagi soal Chankyung. Ia akan bersaing sekali lagi dengan pria itu secara "sehat" Ia tidak perlu membuat tangannya sendiri terlihat kotor dengan mencoba menghancurkan Chankyung, ia hanya perlu membuat taktik agar pria itu menghancurkan dirinya sendiri. Sembari melakukan itu Hunjae akan mengambil hati Minjoo untuk sekali lagi, ia merasa hal itu tidaklah sulit menurutnya karena ia yang selama ini ada bersamanya, pasti mudah bagi Minjoo untuk jatuh ke dalam pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN