Dua puluh dua

1791 Kata
Rumah bertingkat dengan kesan mewah itu terasa begitu sunyi, Hunjae duduk sendiri di ruang tamu dengan pemikiran menerawang jauh. Pria itu memikirkan soal rencana dan bagaimana ia merebut hati Minjoo dan menghancurkan Chankyung. Ia masih saja terdiam dengan dua telapak tangan yang ia satukan di depan mulut.  Tidak lama kemudian seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda turun dari arah lantai dua, Hunjae hanya melirik sekilas pada dua orang yang juga merupakan Ayah dan Ibunya itu. Baru saja Pria itu akan melangkah pergi suara Tuan Oh lebih dulu menginterupsi. "Kau mau ke mana Hunjae?" dengan terpaksa Hunjae menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap sang Ayah dan Ibu tirinya dengan tatapan datar. "Bukan urusan Ayah," sahutnya tegas.  "Begitukah caramu bersikap pada Orang Tuamu?!" ujar Tuan Oh menaikan nada bicaranya.  Seakan tidak takut melihat sang Ayah yang tengah marah, Hunjae justru tertawa kecil. Ia melirik ke arah wanita muda dengan rambut sebahu juga gaun merah terang yang dikenakannya. "Lalu? Apa yang harus ku lakukan saat Ayahku sendiri tidak pernah memberikan contoh bagiku karena sibuk mengurusi Istri barunya yang bahkan tidak becus mengurus rumah," Mendengar ucapan Hunjae tentu membuat Tuan Oh naik pitam, pria baya itu sudah bersiap mendekati Hunjae untuk memberikan satu tamparan keras namun tertahan oleh sang Istri. "Sayang sudahlah. Mungkin memang Hunjae belum bisa menerima kehadiran ku sebagai Ibunya, ia pasti masih belum bisa merelakan kepergian sang Ibu," ujar wanita itu. Hunjae hanya melihat bagaimana sang Ibu tiri memasang wajah sedih juga tersakiti di sana dengan ekspresi jengah sebelum pria itu benar-benar melangkah pergi meninggalkan rumah. Mengabaikan teriakan keras sang Ayah juga makian yang terlontar dari beliau, Hunjae segera menaiki kuda besi miliknya dan melajukan benda tersebut dengan cepat. Tujuan awalnya adalah apartemen Do Minjoo ia memang selalu ke sana tiap kali ia habis bertengkar dengan sang Ayah ataupun tengah merasa kesal. Baginya bisa bertemu dengan Minjoo sudah sama seperti obat mujarab yang selalu Hunjae butuhkan. Ia bisa dengan cepat merasa membaik tatkala melihat gadis itu tersenyum. Dan ada hal lain yang membuat Oh Hunjae selalu menghabiskan waktunya bersama Minjoo saat ia tengah dalam kondisi yang buruk. Gadis itu takkan bertanya apapun, baik soal keadaan ataupun apa yang terjadi pada Pria itu. Bukan, bukannya Minjoo tidak peduli, tapi hanya dengan melihat wajah kusut juga merengut seorang Oh Hunjae ia tentu sudah paham jika mod pria itu tengah buruk. Ia juga tidak ingin bertanya soal ini dan itu dari masalah apa dan bagaimana sebenarnya keadaan Hunjae, ia sadar sedekat apapun mereka tiap orang harus memiliki waktu sendiri juga space tersendiri untuk privacy yang hanya mereka simpan sendiri. Meski ada kalanya Minjoo bertanya tapi tidak sesering itu, gadis itupun takkan memaksa Hunjae untuk menceritakannya jika pria itu memang merasa keberatan. Minjoo bukan tipe orang yang senang mengorek informasi apalagi privacy orang lain, makadari itu Hunjae merasa senang berada si sekitar gadis itu saat  harinya sedang terasa buruk. Hunjae tiba di depan unit aparteman Minjoo, pria itu menekan bel beberapa kali namun tidak ada tanda-tanda pintu akan segera terbuka. Apa Minjoo sudah tertidur? Tapi gadis itu bukan tipe yang akan tertidur cepat, ia biasanya akan tertidur pukul satu atau paling cepat saat hampir tengah malam. Hunjae mencoba lagi, ia kembali menekan bel aparteman Minjoo dan menunggu beberapa saat tapi hasil yang ia dapat tetap sama.  Pada akhirnya Hunjae memutuskan pergi, ia kembali mengendarai kuda besinya. Dan kali ini tujuan pria bermarga Oh itu adalah Sungai Han. Ia tiba di sana beberapa waktu kemudian. Tidak ada yang ia lakukan, pria itu hanya diam di atas motor sembari melihat-lihat air tenang sungai yang menjadi salah satu ikon terkenal Seoul. Saat Hunjae tengah melihat-lihat keadaan tanpa sengaja matanya menangkap seorang gadis yang tengah terduduk sendiri tidak jauh dari tepian sungai.  Dari yang Hunjae lihat, sepertinya ia agak mengenali gadis dengan sweater hijau muda itu. Meski ia menghadapkan tubuhnya membelakangi Hunjae, tapi sepertinya ia mengenal sosok gadis itu. Pelan-pelan Hunjae mendekat sampai kemudian terdengar isak kecil darinya yang tengah menenggelamnkan wajah diantara lutut. Hunjae memperhatikan bahu gadis itu yang bergerak naik turun dengan pelan seiring dengan isaknya yang terdengar lirih. Oh Hunjae melihat sekitar, keadaan memang nampak sepi tidak banyak orang yang berada di sana. Hunjae melangkah, mendekati gadis itu dan menepuk bahunya pelan. Ia mendongak, menampakan wajah sembab juga jejak airmata yang memenuhi wajahnya yang terlihat kacau. Benar seperti dugaan, gadis itu adalah Yura. Ia terlihat cukup terkejut dengan kehadiran Hunjae di sana, ia segera menghapus air matanya kasar sembari memalingkan wajah, menghindari kontak mata sejenak dengan Hunjae. "Sunbae? Apa yang Sunbae lakukan di sini?" gadis itu bertanya dengan suara serak khas orang baru saja selesai menangis. Yang ditanya memilih duduk tepat di samping Yura, menatap lurus ke arah damainnya air sungai juga gemerlap lampu-lampu sekitaran. "Geunyang," sahut Hunjae pelan. Terjadi hening selama beberapa waktu di antara mereka, keduanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. "Kau kenapa menangis?"  Pada akhirnya Hunjae membuka suara lebih dulu, ia menoleh ke arah Yura yang mengulum bibir bagian bawah kemudian menunduk. Gadis itu menghela nafas setelah menarik nafas panjang, ia mengumbar senyum tipis kemudian mendongak menatap langit malam tanpa bintang. "Apa melupakan seseorang yang kita cintai begitu sulit? Bahkan rasa sakit itu masih membekas begitu dalam, tapi disaat bersamaan rasa rindu juga cinta masih bertahan di tempat yang sama." Butuh jeda beberapa saat bagi Hunjae untuk membalas perkataan Yura, ia merasa apa yang dikatakan gadis itu sama dengan apa yang tengah dialami Do Minjoo. "Kau hanya perlu terbiasa maka kau takkan lagi merasa sulit," hanya itu yang bisa Hunjae katakan. Ia sendiri tidak terlalu paham soal bagaimana cara melupakan, karena ia sendiri masih belum bisa melakukan hal itu meski untuk kasus berbeda. Jika Minjoo dan Yura masih belum bisa melupakan orang yang mereka cintai meski telah melukai, maka Hunjae sendiri masih belum bisa melupakan perasaanya pada Do Minjoo. Meski ia sendiri tahu bagaimana akhir kisahnya nanti tapi ia akan tetap berusaha, setidaknya sekali lagi. Setidaknya saat Minjoo telah benar-benar memilih pada siapa ia akan pulang, dirinya tidak menyesal karena pernah berjuang. "Sunbae sendiri, keliahatannya Sunbae tidak dalam kondisi baik-baik saja," ujar Yura bertanya. Hunjae tersenyum kecil, ia menengok sebentar ke arah si gadis sebelum terkekeh kecil. "Terlihat sekali ya," tanya-nya disertai cengiran dan garukan pada kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Yura mengangguk, ia masih memperhatikan si pria yang kini memilih menyangga tubuhnya dengan dua tangan yang ia letakan di belakang tubuh sebagai penahan beban. "Sebenarnya apa yang ku rasakan tidak terlalu penting, setidaknya untukku. Bagaimana menurutmu saat kau mencintai seseorang yang mencintai orang lain? Bertahan untuk terus mencintainya dan berharap dia akan membalas perasaanmu suatu saat nanti, atau kau memilih untuk pergi dan mencari cinta yang baru?" Pertanyaan Hunjae disambut tatapan diam Yura, gadis itu menghela nafas kemudian menengadahkan kepala ke arah atas dan tersenyum kecil. "Mana yang membuat Sunbae bahagia?" ujarnya. Hunjae mengernyit mendengar pertanyaan Yura. Ia terdiam sejenak untuk berpikir, ia bahagia bersama Minjoo  tapi ia sendiri tahu jika gadis itu bahagia bersama orang lain. "Turuti apa kata hati Sunbae, biarkan hal itu menuntun Sunbae pada apa yang akan Sunbae pilih. Kebahagiaan, Sunbae harus mengutamakan itu daripada apa yang akan didapat nantinya. Lihat hati Sunbae sendiri, apa yang membuatnya bahagia," "Memiliki atau kebahagiaan. Dua-duanya terdengar sama meski sebenarnya berbeda." ujar Yura masih betah dengan posisinya.  Gadis itu menoleh pada Hunjae yang masih belum mengeluarkan suara apapun, pria itu tampak termenung dengan pikirannya sendiri. "Memiliki sesuatu yang diinginkan memang menyenangkan, tapi hal itu belum tentu membuat bahagia. Tapi saat seseorang mengutamakan kebahagiaan, meski ia tidak memiliki apa yang ia inginkan ia akan tetap merasa bahagia," ujar Yura lagi.  Gadis itu tersenyum manis dan menyentuh bahu Hunjae, seolah memberi kekuatan pada lelaki itu lewat sentuhan. …. Di tempat berbeda Minjoo tengah duduk ditemani satu cup copi panas, ia meneguk sekali lagi kopi tersebut dan melihat sekeliling Ia mengecek lagi jam pada ponsel miliknya kemudian melongok ke arah jalan sembari mengusap lengannya sendiri saat hawa dingin mulai menerjang. "Kemana dia? Jangan bilang dia hanya ingin mengejerjaiku saja!" gumamnya dengan nada kesal.  Tapi meski begitu ia tetap saja menunggu sembari menghabiskan minuman hangatnya yang mulai mendingin. Derap langkah itu terdengar pelan dari kegelapan, seseorang dengan hoodie hitam yang ia pakai sampai kepala melangkah kan kakinya kecil-kecil menuju gerbang. Itu masih terdengar sangat pelan dan hati-hati, pria itu mendekat, semakin dekat sampai ke arah tujuan. Teriakan nyaring terdengar sarat akan ketakutan, gadis dengan hoodie merah itu berjongkok dengan dua tangan menutup wajah rapat, minuman cup yang sejak tadi ia genggam tumpah ke tanah tanpa sisa. Ia terus menyebut nama Tuhan dan sang Ibu dengan posisi yang sama sampai kemudian terdengar tawa keras dari arah belakang. Minjoo segera menoleh dan menampakan ekspresi kesal bukan main saat ia mendapati Chankyung sebagai pelaku atas tindakan mengejutkan tadi. Pria itu masih terkekeh tanpa peduli pada raut Minjoo yang sudah terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup. Pria dengan penampilan serba hitam itu segera mengatupkan bibirnya rapat saat menyadari raut wajah Minjoo yang tidak bersahabat sama sekali.  Ia tersenyum canggung kemudian mendekati Minjoo dan memanggil namanya dengan nada imut. Aegyo. Minjoo mendengkus, membuang muka dengan ekspresi kesal. Setelah membuatnya menunggu lama Chankyung justru dengan jahilnya mengejutkan dirinya dengan cara yang sama sekali tidak lucu. Benar-benar mengesalkan, batin Minjoo. Lagi-lagi Chankyung terkekeh, tapi kali ini kekehan pria itu terdengar agak canggung, sepertinya ia juga tahu jika gadis di hadapannya ini tengah merasa kesal. "Maafkan aku, aku hanya bercanda," ujarnya dengan nada memelas. Chankyung juga mengamit tangan Minjoo lantas menggoyang-goyangkan tangan gadis itu dengan memohon maaf dibarengi aegyo attack yang sebenarnya ia sendiri tidak terlalu menyukainya. Yang dibujuk tetap diam, memalingkan wajah berusaha agar tidak tergoda. Sebenarnya Minjoo mati-matian menahan tawa melihat ekspresi aegyo Chankyung yang sama sekali tidak cocok dengan pria itu. Tapi ia sudah kepalang kesal, jadi gadis dengan mata doe itu memanfaatkan kesempatan dalam kecemasan Chankyung untuk bisa menjahili Pria itu. Minjoo berencana membuat Chankyung balik merasa kesal, biar saja. Biar ia juga tahu bagaimana rasanya dikerjai. "Maafkan aku ya. Sayangku, cintaku, cantikku, gadisku, pacarku. Maksud ku temanku," ujar Chankyung masih berusaha membujuk Minjoo. Meski mati-matian bagi Minjoo menahan tawa tapi ia tidak bisa dengan mudahnya menyembunyikan rona merah pada wajah ayunya. Hal itu terbukti dari ekspresi Chankyung yang semula meminta maaf malah kini justru tersenyum sumringah dengan jari telunjuk tepat menunjuk Minjoo dibarengi senyum jahil. "Oh! Kau bersemu, ahahaha cantiknya," entah itu sebuah pujian atau candaan, tapi hal itu tetap membuat Minjoo kian merona hebat dan hal itu juga yang makin membuat Chankyung tertawa lebar dengan sesekali berujar menggoda ke arah Minjoo. Saat si pria asik dengan acara tertawanya sendiri tiba-tiba ada satu kalimat yang meluncur bebas dari mulut Chankyung secara tiba-tiba dan hal itu mampu membuat Minjoo membeku di tempatnya. "Pacaran aja yuk." Chankyung mengatakan hal itu dengan enteng seolah tanpa beban, ia mengatakan hal itu dengan senyum cenderung cengiran lebar selebar yang pria itu bisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN