Dua puluh tiga

1792 Kata
Perkataan Chankyung masih belum mendapat respon Minjoo sampai kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak di tempatnya. Hal itu menimbulkan kerutan yang begitu kentara pada kening Do Minjoo. Ia menatap Chankyung yang tengah mencoba menetralkan tertawanya dengan pandangan bingung. "Aku hanya bercanda," ujarnya setelah mampu menahan tawa.  Minjoo menghela nafas kasar begitu mendengar penuturan Chankyung, antara kesal sekaligus lega. Kesal karena lelaki ini begitu mudah melempar candaan yang menurut Minjoo sendiri sama sekali tidak lucu, lega begitu tahu apa yang dikatakan Chankyung adalah sebuah candaan semata. Karena jujur saja saat inipun Minjoo sendiri masih tidak mengerti dengan perasaanya sendiri, ia mulai merasa nyaman berada di sekitaran Chankyung bahkan ia tidak lagi merasa canggung seperti sebelumnya.  Tapi untuk kembali menjalin hubungan dengan pria itu, Minjoo masih memerlukan waktu lebih lama. Ia masih harus meyakinkan diri sendiri untuk mencoba kembali percaya pada seseorang untuk bisa menjaga hatinya yang pernah patah. Ia ingin kembali mempercayai seseorang lagi, tapi rasa takut dan trauma itu masih lebih kuat menghantui. "Jangan lakukan itu lagi!" sentak Minjoo kesal. Chankyung hanya mengangguk masih mempertahankan cengiran lebarnya. Kemudian pria itu menghadap Minjoo dengan posisi sikap sempurna sebelum ia memberikan pose hormat ala tentara pada gadis itu. "Siap laksanakan, Komandan!" ujarnya dengan suara agak keras. Minjoo tertawa kecil, ia sempat memberi Chankyung pukulan ringan pada lengan atas pria itu dan memintanya berhenti melakukan hal seperti itu. "Omong-omong kenapa kau membawa ku ke sini?" tanya Minjoo memperhatikan sekitar. Keduanya berada di sekolah lama mereka, Minjoo sendiri tidak tahu kenapa Chankyung mengajaknya kemari malam-malam begini. Dan jujur saja penampakan sekolah lama mereka pada malam hari terasa begitu seram dan menakutkan. "Ingin mengajakmu berkeliling, mengenang masa lalu," ujar Chankyung dengan polosnya. Masih disertai dengan senyum lebar pria itu menggandeng lengan Minjoo dan mengajak gadis itu untuk masuk ke sana, tapi sebelum Chankyung sempat melangkah Minjoo lebih dulu menahan langkahnya. "Kau yakin?" ucap Minjoo dengan nada ragu-ragu, sejujurnya ia takut. Chankyung sempat mengalihkan tatapannya ke arah Minjoo dan gedung sekolah lamamya bergantian. Sadar jika gadis bermarga Do itu ketakutan, Chankyung kemudian mengusak gemas poni milik Minjoo. "Tidak apa, ada aku semua akan baik-baik saja," ujar Chankyung mencoba menenangkan. Keduanya kembali melangkah setelah membuka pintu gerbang yang kebetulan tidak dikunci, tapi baru saja sampai di langkah ke tujuh Minjoo kembali menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Chankyung mau tidak mau ikut berhenti. "Kau yakin? Apa tidak sebaiknya kita putar balik saja?" Minjoo kembali merengek.  Menimang, Chankyung berpikir untuk menuruti keinginan Minjoo lebih dulu. Tapi ia juga ingin mengenang masa lalu bersama gadis itu tanpa gangguan siapapun. "Bagaimana jika kita berkeliling sebentar setelah itu pulang, ada sesuatu yang harus kau lihat di takan belakang sekolah, ucap Chankyung pada akhirnya. Meski pada mulanya Minjoo merasa enggan tetapi pada akhirnya gadis itu mengiyakan ajakan Chankyung. Dengan lengan yang kian melingkar erat pada pergelangan tangan Chankyung, gadis itu berjalan pelan di belakang si pria. Keduanya berjalan pelan dengan mengendap, menghindari penjaga yang mungkin saja berada di sekitar mereka. Memutar mengitari gedung bangunan sekolah yang terlihat sepi, Chankyung juga Minjoo sampai di taman belakang sekolah. Langkah keduanya pasti menuju satu pohon yang kini tengah menanggalkan daunnya yang tampak agak berserakan di bawah. Minjoo sempat menghentikan langkahnya dan menggeleng pelan dengan wajah ragu saat Chankyung menoleh ke arahnya. Tapi senyum meyakinkan Chankyung seolah menghipnotis Minjoo, meyakinkan gadis itu jika semua akan baik-baik saja Minjoo hanya perlu meyakinkan diri dan percaya pada lelaki itu Dengan rasa takut yang masih melingkupi dirinya Minjoo memberanikan diri untuk turut serta mengikuti si pria dari arah belakang. Pandangan Minjoo melebar takjub saat mata bulatnya melihat sekumpulan kunang-kunang dengan cahaya mereka yang tampak cantik ditengah kegelapan malam. Gadis itu tersenyum tanpa sadar, ia masih saja asyik mengagumi keindahan di depannya tanpa tahu sosok pria yang bersamanya tengah memperhatikannya dalam diam. Chankyung sendiri hanya bisa tersenyum simpul melihat pemandangan indah di depannya, iya itu adalah kunang-kunang yang bersinar. Tapi menurutnya ada yang lebih indah dari itu. Itu adalah seorang gadis bernama Do Minjoo yang tengah tersenyum di antara kunang-kunang yang entah kenapa mengelilingi gadis itu. Tawa bahagia juga semburat merah samar yang terlihat amat kontras dengan wajah putihnya menjadi pemandangan apik tersendiri bagi Chankyung. Sepertinya si pria Park memang sudah segila itu dengan si gadis Do, ia bahkan enggan untuk sekadar menoleh ke arah kunang-kunang yang seakan meminta perhatiannya dengan kelip kuning lehijauan yang terlihat cantik. Tapi fokus Chankyung hanya satu, ia tidak bisa berhenti mengagumi keindahan gadis dengan pipi berisi juga mata cantik nan jernih itu. Chankyung tidak berbohong untuk hal itu, ia memang sudah segila itu dengan Minjoo dan kau akan paham apa yang ku maksud dengan jelas saat kau mengalaminya nanti. "Chankyung-ah!"  Demi apapun senyum Minjoo malam ini adalah yang terbaik, itu lebih dari sekadar setimpal dengan dirinya yang merasa gugup bukan main saat mengirim pesan teks untuk gadis itu saat mengajaknya untuk 'berwisata' ke sekolah lama mereka. Saat itu Chankyung baru saja tiba di rumahnya, ia sejak tadi terus tersenyum sumringah. Hatinyq benar-benar merasa bahagia malam ini, jadi dia sedang merasa baik. Jongsoo yang memang masih tinggal serumah dengan Chankyung menatap lelaki itu dengan mengernyit, tidak biasanya sahabat karibnya ini tersenyum begitu lebar. Kebetulan saat itu Jongsoo tengah membawa segelas air putih, ia baru saja kembali dari dapur untuk mengisi gelas yang biasa ia letakan di nakas samping tempat tidur. "Hai Jong …." Perkataan Chankyung tertahan seketika saat Jongsoo secara tiba-tiba meminum air dalam gelas lantas menyemburkan air tersebut ke arahnya, membuat Chankyung memejamkan mata dengan keadaan basah kuyup. Begitu Chankyung membuka mata, bisa dirinya lihat dengan jelas Jongsoo yang akan kembali meminum air putih di tangannya. Melihat hal itu buru-buru Chankyung menghentikan Pria itu, ia tidak mau disembur lagi! "Apa yang kau lakukan?" Chankyung mencoba bertanya dengan nada sesantai mungkin. Menghadapi Jongsoo memang terkadang amat perlu kesabaran super ekstra. "Kau baik-baik saja?" bukannya menjawab pertanyaan Chankyung lebih dulu malah pria itu bertanya balik, membuat Chankyung kian kesal. "Menurutmu?"  Sebenarnya dari nasa bicara Chankyung terlihat jelas bagaimana kesalnya pria itu, tapi dengan tidak tahu dirinya Jongsoo justru terbahak. Pria dengan kulit tan itu masih saja tertawa sampai-sampai ia menitikan air mata. Dan melihat hal itu ingin sekali rasanya Chankyung memberikan 'salam damai' pada sahabat karibnya itu. "Apa yang terjadi?" Tuan Park turun dari lantai atas. Pria dengan kacamata itu melihat ke arah Jongsoo yang kini berusaha amat keras menghentikan tawanya juga ke arah Chankyung yang tengah mengelap wajahnya yang basah. "Kau darimana sampai basah begitu? Di luar tidak hujan bukan?" Tuan Park bertanya heran. "Hujan lokal, Paman." Jongsoo menyahut dengan nada begurau, Tuan Park hanya terkekeh mendengar jawaban Kim Jongsoo. Jongsoo dan keluarga Chankyung memang sudah seakrab itu, bahkan Tuan Park telah menganggap Jongsoo dan adik-adiknya sebagai anaknya sendiri. Jika kau bertanya ke mana Ibu Chankyung, beliau telah berpulang sewaktu melahirkan Chankyung dulu. Dan semenjak itu Tuan Park enggan untuk kembali menikah karena ia yang amat mencintai mendiang Istrinya lebih dari apapun. Tuan Park sendiri amat menjaga kesetiaan dan rasa cintanya untuk mendiang Ibu Chankyung, meski beliau bukan tipe orang yang romantis tapi Tuan Park memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan perasaanya dan mungkin hal itulah yang menurun pada Chankyung sekarang ini. "Gara-gara si hitam itu Ayah aku jadi basah kuyup begini," ujar Chankyung menunjuk Jongsoo yang memasang wajah terkejut akan hal itu. "Kau sendiri kenapa tersenyum sendiri seperti tadi? Aku mengira kau itu kenapa-kenapa, kesambet misalnya. Aku hanya ingin membantu," bantah Jongsoo cepat dan tidak mau kalah. "Alasanmu saja." "Sudahlah, kalian ini sudah besar masih saja bertengkar. Chankyung-ah segeralah ganti pakaianmu, dan Jongsoo bisa ikut Paman sebentar?" lerai Tuan Park. Jongsoo mengangguk kemudian berjalan mengikuti Tuan Park yang berjalan lebih dulu, ia sempat memberi ekspresi mengejek ke arah Chankyung yang menatapnya sebal. Chankyung sendiri segera beranjak menuju kamar miliknya yang ada di lantai dua, ia segera mengganti pakaiannya sekaligus bergegas membersihkan diri. Setelah merasa jauh lebih segar, Chankyung langsung meraih ponselnya yang ada di meja nakas. Ia membaringkan diri di atas ranjang berukuran besar miliknya sembari mencari nama kontak seseorang. Minjoo. Ia mencari nama kontak milik gadis pemilik Marga Do itu dengan gerakan lambat, setelah ia menemukan kontak tersebut ia segera menekan tombol ubah dan menambahkan simbol hati di belakang nama gadis itu. Oh! Benar-benar, Chankyung sekarang terlihat sama layaknya anak SMA yang tengah merasa kasmaran. Setelah selesai dengan pengubahan kontak, Chankyung menekan ikon amplop di kontak Minjoo, ia mengetikan sesuatu yang sebenarnya ia sendiri tidak terlalu yakin untuk melakukannya. Hei! Ini sudah malam mana mungkin Minjoo may menerima ajakannya untuk bertemu di sekitar gedung Sekolah Menengah Atas mereka dulu. "Apa sih yang kau pikirkan Park Chan," Bunyi notifikasi pop up ponsel Chankyung membuat pria itu segera mengecek benda pipih tersebut.  Chankyung telah persis bertingkah layaknya remaja puber yang tengah kasmaran saat secara tanpa sengaja ia akan berteriak begitu Minjoo menyetujui ajakannya malam ini. Tanpa buang-buang waktu Chankyung segera melesat kembali ke arah lemari pakaian, ia mengambil Hoodie hitam dan langsung memakainya tanpa banyak bantahan. Pria itu juga segera membuka pintu kamar dan melesat pergi menjauh dari rumah dengan mobil berwarna hitam miliknya. Pada mulanya Chankyung akan menjemput Minjoo, tapi saat ia baru saja sampai di apartemen gadis itu ia lebih dulu mendapati yang tengah Hunjae berdiri di sana seperti tengah menunggu. Chankyung bersembunyi di dekat tembok penghubung dengan sesekali mengintip ke arah si pria Oh. Terlihat Hunjae mencobanya sekali lagi, menunggu lagi meski hasilnya masih sama. Sadar jika Minjoo tidak ada di tempatnya Chankyung segera bergegas menuju tempat keduanya berjanji. Jantungnya berdegub dengan cepat setelah hampir beberapa menit ia mengendari mobil sampai pada akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Chankyung sengaja tidak memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah, ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari sana dan lebih memilih mengendap-endap untuk mendekati Minjoo. Ia memiliki niat untuk mengejutkan si gadis, itu pasti akan menyenangkan. Batin Chankyung tersenyum jahil. Ia masih mengendap dan semakin mendekat, bahkan Chankyung bisa mendengar gumaman Minjoo yang sepertinya sudah cukup kesal karena ia yang tidak kunjung datang. Langkah Chankyung kain dekat, kini ia telah berada tepat di belakang gadis itu, siap untuk mengejutkannya. Seperti apa yang telah diperkirakan Chankyung sebelumnya, Minjoo berteriak histeris karena ketakutan. Gadis itu bahkan menutup wajahnya erat dan memanggil nama Ibunya dengan nads hampir menangis. Chankyung hanya bisa meringis saat Minjoo memarahinya. Ia tahu apa yang dilakukannya keterlaluan, tapi juga sangat menyenangkan di saat bersamaan. Pria itu tengah menepati janjinya sendiri untuk berubah menjadi orang yang lebih baik, ia mencoba merubah habbit pendiamnya menjadi lebih baik. Chankyung memang pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pria seperti apa yang Minjoo inginkan, ia akan mencoba yang terbaik hanya untuk gadis itu. Bukan yang lain, batinnya. Juga soal selera humor, sepertinya karena terlalu lama berdekatan dengan Jongsoo membuat tingkat keusilan juga selera humornya menjadi semakin bagus. Meski terkadang Chankyung masih membawa habbit lamanya, tapi itu terdengar manusiawi karena perubahan tidak bisa dilalui dengan cepat. Apalagi perubahan untuk mengubah suatu kebiasaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN