Kembali dengan Hunjae dan Yura. Keduanya memutuskan untuk makan malam bersama sekadar menikmati daging panggang dengan sebotol soju untuk melepas penat tanpa berniat untuk mabuk sama sekali.
"Sunbae, terimakasih telah menolongku saat itu," ujar Yura membuka obrolan, gadis itu tersenyum sampai mata sipitnya berubah membentuk eye smile yang cantik.
Hunjae terlebih dulu meminum soju di gelas miliknya baru kemudian mengangguk, ia juga membalas senyuman Yura sebagai sopan santun.
"Sunbae, maaf jika pertanyaan ku terdengar lancang. Sebenarnya siapa gadis yang waktu itu bersembunyi saat kita akan makan siang? Ia terlihat kesal saat melihatmu denganku?" pertanyaan Yura membuat Hunjae kembali teringat saat itu, ia tersenyum kecil membalik sepotong daging pada pemanggang dan memakannya dalam sekali hap.
Mengingat Minjoo kembali membuat d**a Hunjae terasa nyeri, meski sebelumnya ia bertekad untuk kembali memperjuangakan perasaanya untuk gadis itu tapi entah kenapa ia merasa semuanya akan sia-sia.
Bukan berarti seorang Oh Hunjae merasa pesimis, ia hanya merasa jika dirinya terus kehilangan moment bersama Do Minjoo dan selalu kalah start daripada Chankyung maka hal yang ia takutkan akan benar terjadi dan dirinya benar-benar tidak ingin sampai hal itu menimpanya.
Karena Hunjae tidak kunjung menjawab pertanyaanyaa, Yura kembali bertanya. Meski bisa dikatakan kurang sopan karena ingin sekali tahu urusan orang lain, tapi Yura memang benar-benar penasaran.
Sebab selama tiga bulan ia magang di kantor Hunjae ia belum pernah melihat Minjoo sebelumnya. Belum lagi ia yang selalu mendengar karyawan senior mengatakan jika Hunjae adalah seorang yang memiliki sikap dingin pada karyawan wanita.
Tapi saat Yura mencoba berinteraksi dengan pria itu ia tampak normal, bahkan menurutnya Hunjae cenderung lebih ramah dan menyenangkan dibanding para senior lain.
Ah! Sebenarnya jika dibolehkan jujur, Yura memang memiliki sedikit perasaan tertarik kepada Hunjae. Perlu ku garis bawahi, hanya sedikit.
Oleh sebab itu ia mencoba mengorek informasi soal Minjoo karena mau bagaimanapun juga Yura tidak ingin diberi label sebagai perebut kekasih orang. Ia tidak ingin membuat namanya jelek karena ulahnya sendiri.
"Dia gadis yang ku sukai."
Perkataan singkat Hunjae sukses menimbulkan rasa nyeri di hati Yura, gadis itu mencoba menutupinya dengan serapih mungkin bahkan memberikan senyum palsu di sana.
"Tapi sayang, dia sudah memiliki rumah untuknya singgah," lanjut Hunjae kemudian. Pria itu menunduk dalam, dari tempatnya samar-samar Yura bisa melihat raut sedih Hunjae.
Yura turut sedih mendengar penuturan Hunjae, reflek gadis itu mengusap punggung Hunjae yang memang duduk cukup dekat dengannya sampai kemudian pria itu menoleh dan keduanya menjadi canggung.
"Maaf sunbae," ucap Yura gugup setelah dengan cepat melepaskan tangannya dari punggung si pria.
Reaksi Hunjae tidak terduga, ia hanya tertawa kecil dan mengangguk maklum. Keduanya kembali melanjutkan aktifitas mereka, minum sembari berbincang kecil.
Pagi hari datang dengan cepat, Minjoo membuka matanya pelan kemudian meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia meraba samping bantal mencari ponselnya kemudian memeriksa jam.
Tertera pada layar datar sudah pukul sepuluh pagi, dan itu artinya sudah terlalu siang untuk pergi ke cafe. Minjoo pada akhirnya hanya mengirim pesan pada Jihoon jika dirinya hari ini mungkin akan datang ke cafe agak telat atau bahkan setelah jam makan siang, Minjoo beralasan jika dirinya tengah kurang enak badan.
Padahal tidak begitu, ia hanya masih mengantuk setelah melakukan study tour dadakan mengelilingi sekolah pada malam hari bersama Chankyung.
Ia masih tidak habis fikir darimana pria itu memiliki ide semacam itu untuk mengenang masa lalu mereka pada malam hari, padahal jika dipikir hal seperti itu lebih cocok disebut uji nyali mengingat betapa menyeramkannya sekolah mereka dulu saat malam hari.
Saat Minjoo tengah melamun dengan badan yang masih terbaring nyaman pada ranjang, ia merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Park Chankyung.
(Selamat pagi! Sudah bangun?)
Pesan pendek yang ditulis Chankyung ternyata memiliki imbas besar bagi Minjoo, gadis itu merasa malu entah kenapa. Ia berteriak gemas kegirangan kemudian menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Dengan cepat ia membalas pesan Chankyung dan keduanya kemudian larut dengan kegiatan saling berbalas pesan.
Setelah puas berkirim pesan Minjoo memutuskan untuk membersikan diri dan akan memasak sarapan setelahnya, moodnya tengah bagus saat ini jadi ia berjalan ke arah kamar mandi dengan bersenandung kecil.
Setelah membersihkan diri Minjoo segera melangkah menuju dapur, ia mengecek isi lemari pendingin tapi tidak mendapati apapun di sana. Ia hanya mendapati kimchi dan nasi yang memang selalu ia sediakan.
Setelah membuka cafe Minjoo memang jarang melakukan hobinya, yaitu memasak. Waktunya lebih banyak tersita di cafe dan ia juga mulai menghabiskan banyak waktu untuk melupakan Chankyung dulu.
Bel apartemen Minjoo berbunyi, dengan gesit gadis itu berlari ke arah pintu utama dan membuka pintu. Di sana sudah ada Hunjae yang tersenyum cerah membawa sekantong makanan yang kemudian ia serahkan pada Minjoo.
Si gadis menerima dengan senang hati, ia tersenyum cerah kemudian mempersilahkan Hunjae untuk masuk sementara dirinya menyiapkan makanan yang pria itu bawa.
Area dapur yang memang dekat dengan ruang tamu membuat Hunjae bisa dengan leluasa memperhatikan tiap gerak-gerik Do Minjoo, gadis itu tidak henti-hentinya tersipu kemudian menggelengkan kepalanya sendiri beberapa kali.
Ia terlihat seperti seseorang yang tengah jatuh cinta, tapi tidak mungkin 'kan? Minjoo tidak mungkin jatuh kembali pada Chankyung secepat itu.
Hunjae mendekat, ia penasaran untuk sekadar bertanya hal apa kiranya yang membuat Minjoo bisa terlihat begitu bahagia sekaligus memastikan jika gadis itu memang belum jatuh dengan cepat dan kembali ke pelukan Park Chankyung.
"Kau kenapa?"
Minjoo terperanjat mendengar suara Hunjae, gadis itu tidak sadar jika sejak beberapa detik yang lalu Hunjae sudah memperhatikannya dengan lekat.
Minjoo menggeleng, ia mengatakan tidak ada yang salah darinya dan meyakinkan Hunjae jika semuanya baik-baik saja.
"Kau terus tersenyum sejak tadi, sedang senang?"
Hunjae tidak mengira jika respon yang diberikan Minjoo justru merona dengan dua pipi memerah, ia benar-benar terlihat seperti seorang Do Minjoo saat mereka bersekolah menengah atas dulu.
Lagi-lagi Minjoo menggeleng ia mencoba mengabaikan Hunjae yang masih saja menatapnya dengan menyibukan diri mempersiapkan makanan.
"Tidak mau mengaku?"
Salah satu hal yang boleh dibanggakan dari Hunjae mengenai gadis bermarga Do itu adalah, ia tidak bisa menyembunyikan apapun dari Hunjae. Ia bisa dengan mudah mengatakan segala sesuatu yang ia rasakan bahkan saat pria itu tidak memintanya sekalipun jadi saat ini Hunjae merasa agak aneh dengan Minjoo.
"Semalam Chankyung mengantarku pulang!" seruan riang Minjoo bisa membuat senyum Hunjae hilang seketika.
Pria itu sudah menduga jika hal yang jadi sumber senyum Minjoo saat ini adalah Park Chankyung, dan lagi-lagi ia merasa telah tertinggal selangkah dari pria itu.
"Lalu?" mencoba bersikap biasa Hunjae menanggapi ucapan Minjoo, ia ingin melihat sampai di mana pergerakan Chankyung.
"Kami berbaikan, maksud ku sebagai teman. Kau tahu dia ternyata cukup lucu dan jahil, ku kira selama ini dia hanya bisa belajar dan berteriak ataupun bersikap kasar," tawa kecil keluar dari sela bibir Minjoo.
Gadis itu terlihat begitu bahagia menceritakan waktunya bersama Chankyung, ia bahkan terlihat baik-baik saja saat mengenang masa lalu mereka dulu.
Hal yang berbanding terbalik dengan apa yang ia lakukan dulu, di mana Minjoo selalu terlihat murung saat mengingat Chankyung juga perlakuannya dulu.
"Kau tidak sakit hati lagi mengingat perlakuan Chankyung padamu?" Hunjae bertanya hati-hati.
Minjoo sempat terdiam sebentar kemudian menggeleng, gadis itu meletakan semangkok daging tumis kemudian duduk tepat di hadapan Hunjae yang sebelumnya sudah mendaratkan bagian belakangnya pada meja makan.
"Kami sudah berbaikan. Lagipula Chankyung sudah mengatakan alasan sebenarnya dari sikapnya yang dulu, pria itu hanya malu dan tidak bisa mengatakan perasaanya padaku," sahut Minjoo masih mempertahankan senyum cerahnya.
Masih berusaha memancing, Hunjae mengungkit soal rumor Jihoon dan Baekhee. Hal tersebut juga sempat membuat Minjoo merasa terpuruk karenanya.
"Lalu hubungannya dengan Baekhee?"
Mungkin terdengar jahat saat Hunjae justru berharap Minjoo menunduk dengan ekspresi sedih atau setidaknya ia terlihat murung mengingat hal itu.
Salah satu tujuan Hunjae memang membuat Minjoo kembali ragu dengan perasaanya pada Chankyung, ia benar-benar tidak menyukai si gadis yang kembali bersama pria itu.
Tapi tidak seperti apa yang Hunjae harapkan, Minjoo justru memasang wajah manis. Ia mengambil mangkok milik Hunjae dan segera mengisinya dengan nasi juga beberapa lauk untuk pria itu.
"Semuanya sudah jelas, Baekhee dan Chankyung tidak memiliki hubungan apapun. Itu hanya sekedar rumor karena Chankyung yang kebetulan terlihat dekat dengan Baekhee, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebenarnya Hunjae sama sekali tidak tertarik dengan cerita Minjoo kali ini, tapi ia tidak ingin terlihat seperti itu.
"Apa?" sahut Hunjae pendek. Ia mulai menyibukan diri dengan makanan di depannya, mencoba mengabaikan Minjoo yang akan memulai ceritanya meski tidak akan terlihat seperti itu.
"Chankyung sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun dengan Baekhee, ia hanya menjadi tukang antar hadiah dari gadis itu untuk Jongsoo dan begitupula sebaliknya. Saat awal aku mendengarnya aku juga tidak percaya, tapi Chankyung meyakinkan ku dan aku mempercayainya. Lucu ya, bagaimana dulu aku begitu mempercayai rumor tidak berdasar itu sampai membuatku begitu sedih."
"Lagipula aku penasaran, memangnya jika dekat dengan lawan jenis itu berarti mereka memiliki hubungan? Tidak bukan. Contohnya kau dan aku, kita dekat tapi kita tidak memiliki hubungan, maksud ku melebihi sahabat," pungkas Minjoo dibarengi senyum lebarnya.
Gadis itu benar-benar menikmati waktunya herceloteh soal Chankyung tanpa bisa menyadari bagaimana ekspresi Hunjae saat ini.
Hunjae merespon cerita Minjoo dengan anggukan singkat, hatinya tentu saja merasa perih saat tahu Chankyung bisa dengan mudah kembali mendapatkan kepercayaan Minjoo sedang ia sendiri sampai saat ini masih belum bisa membuat gadis itu sadar akan perasaanya.
"Tapi kita pernah berhubungan selama satu minggu," ucap Hunjae tiba-tiba dan hal itu berhasil menghentikan Minjoo yang baru saja akan menyuap makanannya ke dalam mulut.
Minjoo sempat memperhatikan Hunjae sejenak sebelum kembali melanjutkan aktifitas menyuapnya, ia tampak tidak terlalu peduli dengan apa yang Hunjae katakan.
"Itu hanya seminggu, lagipula itu bukan hubungan yang sebenarnya Hunjae-ya. Kau sendiri bukan yang mengatakan saat itu jika hubungan kita tidak akan berhasil saat itu?" sahut Minjoo santai.
Kini giliran Hunjae terdiam lagi, ia meletakan sumpitnya dengan agak keras membuat suara berdebum dengan Minjoo yang berjengit kaget di tempatnya.
"Kau kenapa?"
Hunjae menatap Minjoo dengan tatapan sedih, kecewa juga amarah yang bercampur jadi satu. Ia ingin mengatakan semuanya tapi hal itu seakan tertahan pada kerongkongan dan terlalu sulit untuk dikeluarkan.
Dirinya tidak sanggup jika nantinya apa yang ia katakan akan membuat Minjoo terluka dan kembali bimbang dengan perasaanya sendiri, tapi di satu sisi ia juga ingin agar gadis itu bisa tahu perasaanya.
Ia sudah ingin berjuang sekali lagi untuk perasaanya sendiri, tapi jika Minjoo hanya bisa melihat Chankyung dalam pandangannya itu sama saja hal yang tidak mungkin untuk Hunjae patahkan.
"Kau baik-baik saja?" Minjoo bertanya pelan.
Hunjae dengan segera menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengatur emosinya yang mendadak naik hanya dengan mendengar satu nama. Park Chankyung.
"Perlu ku ambilkan air?" tawar Minjoo yang dibalas gelengan kecil Hunjae, pria itu tampak meimijit keningnya sendiri sebentar sebelum kembali mengalihkan tatapannya ke arah Minjoo yang masih menatapnya khawatir.
Semakin memperhatikan gadis itu lekat maka perasaan Hunjae terasa kian kuat tapi juga sakit di saat bersamaan mengingat untuk siapa perasaan Minjoo yang sebenarnya.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Hunjae memusatkan perhatiannya pada Minjoo lagi yang terlihat canggung. Baru saja gadis itu akan berucap, satu kalimat yang meluncur mulus dari sela bibir Hunjae sanggup membuatnya diam membeku seketika.
"Aku menyukaimu, berkencanlah denganku."