Dua puluh lima

1814 Kata
"Aku menyukaimu, berkencanlah denganku." Perkataan spontan Hunjae membuat Minjoo menghentikan kunyahannya, beruntung gadis itu tidak menyeburkan semua isi di dalam mulutnya. Dengan susah payah Minjoo menelan makanannya, gadis itu melihat ke arah Hunjae yang masih menatap lekat ke arahnya dengan tatapan serius. "Apa yang kau katakan?" Minjoo bertanya pelan. Hunjae yang seolah tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan sontak berdeham, ia segera meminum air di hadapannya dengan tidak sabaran sampai membuatnya tersedak. "Kau baik-baik saja?" dengan cepat Minjoo berputar menuju ke arah trmpat Hunjar terduduk, gadis itu menepuk pelan bahu si pria untuk membantunya. "Kau ini kenapa sih?" tanya Minjoo cepat saat Hunjae telah membaik. Pria itu masih terbatuk sesekali kemudian menggeleng pelan. "Aku-aku sedang berlatih," katanya cepat dan agak kurang jelas. "Apa?" "Aku sedang berlatih," ulang Hunjae dengan suara agak keras.  Sebenarnya ia enggan untuk mengulang perkataanya, tapi ia tahu tabiat kebiasaan Minjoo saat gadis itu tidak terlalu jelas mendengar sesuatu -terlebih hal itu Hunjae yang berbicara- Ia akan ngotot dan sedikit memaksa untuk diberi tahu soal apa yang sebelumnya dibicarakan, dan daripada kupingnya terasa pengang nantinya mendengar permohonan Minjoo jadi Hunjae lebih memilih untuk mengatakannya dengan suara lebih keras. "KAU AKAN MENYATAKAN PERASAANMU!" Minjoo menggebrak meja makan dengan cukup kuat, Hunjar sampai terkejut dengan apa yang gadis itu lakukan. Gadis itu juga mendekatkan wajahnya ke arah Hunjae, mencondongkan tubuhnya agar mendekat sampai membuat si pria harus memundurkan badannya. "Gadis tidak beruntung mana yang akan mendapat pernyataan cinta darimu?" tanya Minjoo lagi. Kali ini Hunjae mendengkus, pria itu menatap Minjoo dengan tatapan mencibir setengah tersindiri. Sedangkan gadis itu sendiri hanya tergelak di tempatnya dan kembali menyambung aktifitas menyuapnya yang sebelumnya tertunda. "Tapi serius. Jika kau menyatakan perasaan seperti tadi kemungkinan besar kau akan ditolak, kenapa? Karena kau kurang romantis!" kata Minjoo kemudian. "Kurang romantis?" beo Hunjae yang diangguki Minjoo dengan semangat. "Kebanyakan gadis menyukai hal-hal yang berbau romantis, kecuali aku. Jadi kau harus menyatakan perasaanmu dengan cara yang romantis juga." Perkataan Minjoo membuat Hunjae mengernyit, bagaimana ia menyiapkan sesuatu yang romantis sedangkan gadis itu saja mengatakan jika dirinya bukan tipe gadis yang senang dengan hal berbau romantis. "Bagaimana jika itu kau, maksud ku, hal apa yang kau inginkan dari seorang pria saat menyatakan perasaanya padamu?" tanya Hunjae cepat. Minjoo memasang pose berpikir dengan jari telunjuk yang ia letakan di dagu sembari diketuk-ketuk. Gadis itu juga memajukan bibir merah mudanya ke arah depan sembari menggumamkan kata 'eum' dengan nada panjang sebagai suara latar. "Tidak apa-apa, maksudku bebas. Ia bebas menggunakan cara apapun asal tidak terlalu romantis ataupun manis-manis, kau tahu kan aku tidak suka hal semacam itu," jawab Minjoo setengah meminta persetujuan Hunjae. Hunjae menganggukan kepala tanda setuju dengan senyum tipis pada wajahnya, meski masih agak samar tapi setidaknya ia sudah tahu bagimana cara untuk menyatakan perasaanya pada Do Minjoo suatu hari nanti. "Omong-omong siapa gadis itu? Gadis kurang beruntung mana yang akan mendapat pernyataan cinta darimu?" Minjoo kembali bertanya dengan nada jahil. Hunjae terdiam, sial! Ia belum menyiapkan nama siapapun untuk pertanyaan yang satu itu. Saat ia mengatakan soal perasaanya tadi, semua itu hanya terucap begitu saja. Itu hanya bentuk spontanitas tanpa ada niat ataupun kesengajaan. 'Berpikir Oh Hunjae! Berpikirlah' ujar Hunjae dalam hati. "Yura!" ujarnya dengan semangat.  Setali tiga uang dengan ekspresi Minjoo yang terkejut bukan main, Hunjae juga berekspresi sama. Nama Yura yang keluar dari mulut Hunjae adalah bentuk spontanitas lain dari pria itu, ia sama sekali tidak berniat apalagi benar-benar memiliki perasaan lebih untuk salah satu juniorr di kantornya tersebut. Ia menyebutkan nama Yura karena hanya nama itu yang mendadak melintas di otaknya saat ia tengah berpikir untuk jawaba dari pertanyaan yang diajukan Minjoo. "Yura? Gadis yang bersamamu waktu itu?!" Minjoo bertanya heboh, dan dengan terpaksa Hunjae mengangguki pertanyaan gadis itu. Sudah kepalang basah, batinnya. Minjoo membuka mulut sambil menggeleng dengan eskpresi tidak percaya, hal itu mengundsng kernyitan dahi dari Hunjae. "Sudah ku duga kalian memang benar-benar berkencan, kenapa saat itu kalian harus mengatakan jika itu adalah pura-pura!" kesal Minjoo yang sebenarnya hanya pura-pura. Hunjae tidak bisa merespon hal lain selain tersenyum kecil kemudian kembali menyantap makanan di hadapannya yang bahkan kali ini menurutnya tidak memiliki rasa apapun. Hambar. "Dia sepertinya gadis yang baik, aku menyetujuinya," kata Minjoo lagi.  "Bukankah waktu itu kau bahkan hampir menangis saat menyangka aku dan Yura memiliki hubungan spesial," tukas Hunjae agak sebal. Gadis ini kenapa tidak bisa mengerti perasaanya meski sedikit saja sih? "Karena saat itu aku belum memiliki teman lain," jawabnya dengan menyengir tanpa dosa, menunjukan gigi-gigi putih dan rapihnya. "Maksudmu?" "Iya, saat itu aku hanya memiliki dirimu dan Jihoon. Hanya kalian berdua yang bisa menemaniku saat itu, tapi Jihoon sudah memiliki seorang gadis sebagai gebetan masa kau juga harus memiliki gadis sebagai kekasih, lalu aku dengan siapa?" ucapnya menunjuk diri sendiri. "Lalu saat ini? Kau merelakan ku memiliki kekasih, kenapa?" Hunjae bertanya penasaran. Jarak antara Minjoo melarang dan merestuinya memiliki kekasih tidak terlalu jauh, apa kiranya yang membuat gadis itu berubah pikiran dengan cepat. Terlihat jelas rona samar juga senyum malu-malu pada wajah Do Minjoo, gadis itu terlihat tersipu saat akan menceritakan apa alasannya.  Hunjae terdiam, sepertinya ia sudah tahu jawaban atau nama seseorang yang akan dilontarkan Minjoo padanya. Jika ia tidak salah memperediksi maka nama Park Chankyung akan keluar sebagai jawaban. "Karena aku sudah memiliki Park Chankyung. Setidaknya saat kalian tidak bisa menemaniku karena sibuk dengan kekasih masing-masing masih ada Chankyung yang bisa menemaniku nanti," ujar Minjoo dengan cerah.  Gadis itu tidak menyadari jika awan mendung kian menghitam di atas kepala Hunjae, juga sesekali petir mini menyambar-nyambar dari sana. "Jadi kau tidak lagi membutuhkan aku dan Jihoon setelah adanya Chankyung?" sebenarnya Hunjae sama sekali tidak ingin menyebut nama itu dari bibirnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia terpaksa. Minjoo panik, ia melambaikan tangan di depan Hunjae seolah menyangkal apa yang baru saja pria itu katakan. "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin mengaggu waktu kalian bersama gadis yang kalian cintai. Aku sedang berusaha menjadi teman yang pengertian lho," ujar Minjoo jenaka. Tidak mau memperpanjang masalah, Hunjae mengangguki saja apa yang Minjoo katakan. Pria itu kemudian berkemas dan berpamitan untuk pulang, ia berlasan jika ia harus segera berangkat kerja. "Aku harus pulang, waktu semakin siang dan aku harus bekerja," ujarnya bur-buru. Soora mengangguk saja, ia ikut merasa terburu-buru melihat Hunjae melakukan hal itu ia bahkan tidak sadar jika saat ini telah menunjukan pukul sepuluh, mana ada kantor yang karyawannya baru saja datang pukul sepuluh. Di tempat berbeda tepatnya kantor Chankyung. Pria itu baru saja selesai meeting dengan beberapa investor perusahaan untuk project terbaru kerja sama mereka. Chankyung masuk ke ruangannya diikuti Jongsoo di belakang, pria itu lantas duduk pada kursi kebangganya dengan senyum merekah lebar. "Kau terlihat amat senang," komentar Jongsoo yang mengambil tempat di depan Chankyung. Dengan cepat si pria park mengangguk masih dengan senyum merekah yang ia miliki, pria itu bangkit kemudian menepuk bahu Jongsoo pelan sebagai tanda persahabatan. "Ini juga berkat dirimu, tender besar itu tidak akan bisa ku dapatkan jika kau tidak membantuku Jong," ujarnya senang. Jongsoo mengernyit, ia menoleh ke arah Chankyung dengan pandangan menelisik. "Aku tidak membantumu," ujarnya. Kini giliran Chankyung yang berekspresi demikian, raut kebingungan terlihat jelas pada wajahnya. "Aku membantu Paman Park, lagipula sebagian besar proyek kali ini kau yang membuat. Semenjak bertemu dengan Minjoo kau semakin fokus dan serius dengan pekerjaanmu saat ini," ujarnya. Chankyung mengangguki perkataan Jongsoo semenjak bertemu dengan Do Minjoo ua memang lebih banyam berubah, ia tidak lagi bersikap malas ataupu  menunda pekerjaan yang diberikan. Ia langsung mengerjakan semuanya bahkan telah merencanakan beberapa hal untuk ke depan, ia ingin berusaha lebih keras untuk menjadi layak dan lebih layak lagi untuk bersanding dengan seorang Do Minjoo nantinya. Ia ingin agar Minjoo bangga, dan jika keduanya memang berjodoh maka ia akan memberikan semua yang ia punya untuk Minjoo dan anak-anak mereka kelak. "Kau berpikir terlalu jauh jika memikirkan soal pernikahan dengan Do Minjoo, bukankah saat inu ia hanya menganggapmu sebagai teman?" ujar Jongsoo mendadak, hal itu kontan saja membuat senyum merekah yang sejak tadi terumbar di wajah Chankyung menjadi luntur seketika. Si pria Kim terkekeh kecil menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatnya yang begitu drastis, tapi ia hanya berkata kemungkinan yang memang bisa saja terjadi. Jongsoo itu orang yang realistis omong-omong. "Kau ini kenapa suka sekali mematahkan semangat ku sih?" geram Chankyung.  Ia tidak mengerti kenapa Jongsoo selalu mengatakan hal yang membuatnya patah semangat, Chankyung tahu jika sahabatnya ini orang yang sangat realistis. Tapi apa tidak bisa sekali saja ia mengatakan hal yang bisa membuat Chankyung bersemangat dalam meraih cintanya kembali? Membuatnya kembali termotivasi? "Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak terdengar realistis. Misal kau akan kembali bersama Minjoo tanpa hambatan yang berarti, ku rasa itu tidak mungkin. Lagipula kau memiliki saingan," ujar Jongsoo lagi-lagi seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Chankyung. "Kau ini cenayang ya?" tanya Chankyung random. Jongsoo meliriknya dengan tatapan yang seakan mengatakan kalimat 'yang benar saja!' "Omong-omong soal saingan, sepertinya aku tahu siapa orang itu," lanjut Chankyung kemudian.  Eskpresinya kini berganti jadi serius dengan tatapan yang mengarah lurus ke depan, Jongsoo yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam menyimak. Enggan untuk berkomentar apalagi memberi saran. Ia cukup untuk memberi saran soal pekerjaan ataupun bertindak saat keadaan darurat. "Oh Hunjae. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapannya pada Minjoo begitu lembut, terlihat amat jelas bagaimana lelaki itu mencintai dan mengagumi Minjooku," ujar Chankyung dengan nada sok serius. Alis Jongsoo terangkat seiring dengan kernyitan pada dahinya. Ia tidak salah dengar kan? Baru saja Chankyung mengatakan Minjooku yang secara tidak langsung mengklaim Do Minjoo sebagai miliknya. Sejak kapan? Hubungan keduanya saja baru dimulai kembali dengan label sebagai teman. Tapi biarlah, biarkan Chankyung dengan apa yang membuatnya bahagia, setidaknya hal itu berdampak baik bagi pekerjaan pria itu. Dan hal itu tentunya memudahkan Jongsoo karena meringankan sedikit tanggung jawabnya sebagai sekertaris seorang Park Jihoon. "Omong-omong apa rencanamu ke depan?" tany Jongsoo penasaran. Chankyung terdiam, ia terlihat berpikir sebentar dan hal itu membuat Jongsoo menebak apa yang akan dikatakan pria itu kemudian. Jongsoo menghela nafas frustasi saat melihat Chankyung justru terkekeh dengan tampang tanpa dosa, ia tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang terkadang kelewat ajaib. Ia ingin bersaing tapi dirinya sendiri tidak memiliki rencana apapun? Lelucon macam apa yang coba dibawa Chankyung? "Kau serius?" Jongsoo masih tidak percaya, bisa saja Chankyung tengah mengerjainya. Iya 'kan, siapa tahu pria bermarga Park ini ingin membalas perbuatannya yang selama ini suka mengusili dan menjahilinya. "Aku serius, aku tidak memiliki rencana apapun. Aku hanya mengikuti alur kemana aku harus pergi, dan apa yang harus ku lakukan," jawabnya tenang. Jongsoo yang masih belum mengerti hanya diam, ia masih mencoba mengerti maksud dari perkataan seorang Park Chankyung. "Maksud ku, mau sebanyak ataupun sesempurna apapun rencana yang kau susun itu tidak akan berguna saat semesta tidak memihakmu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Dan sebaliknya, saat semesta memihakmu untuk mendapatkannya maka meski dengan usaha kecil kau akan mendapatkannya dengan mudah," "Karena selain dengan usaha dan doa, keberuntungan adalah salah satu penentu paling penting dari apa yang bisa kau raih nantinya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN