Dua puluh enam

1796 Kata
"Karena selain dengan usaha dan doa, keberuntungan adalah salah satu penentu paling penting dari apa yang bisa kau raih nantinya." Jongsoo masih menatap Chankyung dengan tatapan yang cukup sulit untuk dijelaskan, itu terlihat seperti kagum dan heran di saat bersamaan. Pertama pria itu kagum dan baru sadar jika Chankyung bisa berpikir sedewasa itu, atau mungkin bodoh? Jongsoo juga heran bagaimana bisa Chankyung berpikir sampai kesana. Memang benar keberuntungan adalah salah satu penentu paling besar dalam keberuntungan, tapi bukankah hal itu harus diiringi dengan usaha dan doa yang maksimal? Jongsoo pernah mendengar seseorang mengatakan, berusahalah dengan sebaik mungkin maka kau akan mendapatkan hasil serupa. Tapi bagaimana saat Chankyung justru bersikap pasrah tanpa rencana untuk mendapatkan kembali Minjoo? Apa yang ia katakan itu benar-benar akan terjadi, itu terlalu mustahil bagi Jongsoo. Meski ia memang tahu jika takdir akan lebih berperan mengubah sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. "Ya, terserahmu saja bagaimana. Ku harap hal baik yang kau dapatkan sebagai hasilnya," kata Jongsoo kemudian yang diangguki semangat oleh si pria Park. "Oh iya, kau mau ikut makan siang di cafe milik Minjoo?" tawar Chankyung yang dibalas gelengan cepat oleh Jongsoo. "Aku ada janji makan siang sendiri," jawabnya cepat. Chankyung mengangguk saja, setelahnya terjadi obrolan ringan antar kawan sebelum Jongsoo kembali ke tempat kerjanya. Jam makan siang tiba, Chankyung segera membereskan barang pribadinya seperti ponsel dan kacamata pria itu sudah tidak sabar untuk segera menemui Minjoo di cafe gadis itu. Jongsoo yang tanpa sengaja berpapasan dengan Chankyung di lobi hanya bisa menggeleng melihat pria yang sekaligus menjadi sahabatnya itu terlihat begitu semangat. "Cinta memang bisa membuat seseorang berubah drastis," gumamnya seorang diri. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju cafe tempat ia dan Baekhee membuat janji. Butuh beberapa menit bagi Chankyung untuk sampai di cafe milik Minjoo, pria tampan itu sempat membenarkan letak pakaiannya yang sebenarnya masih rapi dan merapikan kembali tatanan rambutnya pada kaca spion tengah. Chankyung segera turun dari mobil miliknya dan masuk ke dalam cafe tanpa rasa canggung, ia masih tersenyum cerah dengan mata yang mengedar ke sekeliling mencari keberadaan Minjoo. Tapi ia tidak mendapati gadis itu di manapun, bahkan sampai ia mengambil tempat duduk ia masih belum melihat keberadaan gadis itu di manapun. Sampai kemudian seorang pelayan wanita menghamprinya dengan buku menu, pelayan tersebut tersenyum ramah dan menanyakan apa pesanan Chankyung. Setelah menyebutkan pesanan, Chankyung memberanikan diri untuk menanyakan pada pelayan tersebut soal keberadaan Minjoo yang sejak tadi tidak terlihat. "Maaf, Nona. Apa Minjoo hari ini tidak datang?" tanya Chankyung pelan. Gadis dengan kuncir kuda itu tersenyum simpul sebentar sebelum menjawab. "Minjoo Unnie belum datang, kemungkinan nanti sore baru akan datang," jawabnya ramah. Chankyung mengangguk, setelah berterima kasih sang pelayan permisi undur diri meninggalkan Chankyung yang hanya terdiam menatap ke arah luar jendela.  Beberapa menit kemudian pesanan datang masih dengan pelayan yang sama sebagai pengantar makanan tersebut. Kemudian Chankyung terlarut dalam aktifitasnya tanpa ia tahu jika gadis yang ditunggunya datang dengan mobil hitam yang ia tumpangi. Minjoo datang menggunakan mobil miliknya, ia menyetir sendiri meski masih harus amat pelan.  Chankyung yang tengah sibuk menyantap kue pisang pesanannya teralihkan perhatiannya saat lonceng yang menggantung di atas pintu berbunyi nyaring. Secara alami senyum itu merekah sempurna pada wajahnya begitu sosok Minjoo muncul dari balik pintu dengan senyum cerah. Terlihat gadis itu menyapa beberapa karyawan dan pelanggan saat ia berjalan menuju ruangan staff, sepertinya Minjoo tidak sadar jika di sana ada Chankyung yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum lebar. Setelah beberapa menit Minjoo berada di dalam sana gadis itu kembali keluar dengan pakaian yang tampak seragam seperti karyawan lainnya. Ia masih memberikan senyum merekah miliknya pada beberapa orang yang tanpa sengaja ia temui di sana. Iseng, Chankyung berdiri dari duduknya untuk kembali memesan sesuatu. Ia sengaja tidak memanggil pelayan seperti sebelumnya karena ia mempunyai rencana tersendiri untuk itu. Chankyung melangkah kan kakinya ke arah kasir di mana Minjoo berada dengan perlahan, gadis itu masih belum sadar karena ia yang tengah kerepotan dengan sesuatu di balik meja kasir. "Permisi, aku ingin memesan lagi," ujar Chankyung mengubah suaranya menjadi lebih besar. "Baiklah, apa pesanan," perkataan Minjoo terhenti saat ia mendongak dan menyadari Chankyung ada di sana dengan senyum lebar miliknya. Minjoo terdiam beberapa saat sebelum kemudian mengulas senyum juga tertawa kecil karena tingkah Chankyung, setelah gadis itu berhasil mengendalikan tawanya ia kembali melihat Chankyung dan berucap. "Baiklah, apa pesananmu?" tanya-nya dengan nada santai. Chankyung tersenyum kecil sebelum kemudian menyebutkan ia ingin dua ice americano. Minjoo mengangguk kemudian mencatat pesanan Chankyung dan menyerahkannya pada seorang barista yang berada tidak jauh darinya. "Bisa kita bicara sebentar?" Chankyung bertanya dengan nada lirih setengah berbisik. Minjoo tampak berpikir sejenak sampai kemudian mengangguk setuju, ia menitipkan meja kasir pada salah satu karyawannya dan ia segera menemui Chankyung telah kembali ke mejanya beberapa saat lalu. …. Sementara di tempat lain, suasana makan siang terasa dingin juga kaku. Hunjae yang sejak tadi sama sekali tidak menyentuh apalagi menyuap makanan di depannya menghela nafas kesal yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. "Apa kita tengah berlomba untuk saling diam di sini?" katanya dingin. Taun Oh yang duduk di sebelah Hunjae menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan tajam. Pria paruh baya itu berusaha memberi peringatan pada putranya itu dengan sorot mata. Tapi seperti enggan untuk mendengarkan, Hunjae justru membuang muka dan mengarahkan pandangannya ke arah sepasang pria dan wanita baya juga seorang gadis dengan rambut legam yang duduk tepat di depannya. "Aku tahu apa yang akan ku lakukan mungkin akan memberikan kesan tidak sopan, tapi inilah aku. Dan ada hal yang harus kita semua tahu, di sini aku adalah pihak yang menentang keras perjodohan ini! Aku tidak ingin menikah dengan Hyeso," ujar Hunjae penuh dengan keseriusan. Memang, acara makan siang kali ini juga sekaligus untuk merencanakan perjodohan relasi bisnis antara Tuan Oh dengan rekan bisnisnya Tuan Kang. Hunjae yang saat itu tengah bersantai di kamarnya sekembalinya ia dari apartemen Minjoo hanya mengabaikan omongan Ayahnya soal ia yang harus segera bersiap untuk menghadiri undangan makan siang. Pada mulanya Hunjae sama sekali tidak mendengarkan, sampai sang Ayah kembali marah dan memancing Hunjae dengan satu barang yang selalu ampuh untuk membuat Pria itu terdiam menurut. Benda tersebut adalah foto lama Ibunya yang tengah tersenyum manis dengan mengelus perut besarnya di mana di sana ada Hunjae. Tuan Oh sering mengancam Hunjae dengan hal itu karena pria baya itu tahu jika itu adalah satu-satunya hal yang jadi kenangan Hunjae soal Ibu kandungnya. Jika kau bertanya soal Ayah Hunjae, apa pria itu tidak memiliki kenangan apapun bersama Istrinya, maka akan ku jawab. TIDAK! Lebih tepatnya Tuan Oh sengaja menghilangkan segala kenangan soal wanita itu dalam hidupnya, ia bahkan tidak ragu untuk membuang segala kenangan saat masa berpacaran ataupun pernikahan keduanya selama ini. Alasannya? Simpel. Tuan Oh sebenarnya tidak memiliki perasaan apapun pada Nyonya Oh, tujuannya menikahi Ibu Hunjae adalah untuk membalas dendam sekaligus menguasai seluruh harta kekayaan Ibu Hunjae yang memang berasal dari keluarga serba ada. Dan soal wanita muda yang saat ini menjadi Istri sekaligus Ibu tiri Hunjae, ia sebenarnya adalah orang yang turut membantu Tuan Oh dalam aksi kejahatannya sekaligus keponakan dari Ibu Hunjae. Oleh karena itu Hunjae sangat membenci Ayahnya juga wanita yang kini jadi Ibu tirinya, ia benar-benar tidak bisa mempercayai pria itu sama sekali. "OH HUNJAE!" Tuan Oh berseru marah. Tidak ada tanggapan berarti dari Hunjae, ia hanya menatap Ayahnya datar tanpa minat. "Waeyo? Apa aku salah? Bukankah kalian yang menginginkan perjodohan konyol ini, bukan aku," sahutnya santai.  Tuan Oh sudah terlihat sangat emosi begitu pula Tuan Kang yang mengepalkan tangannya di atas meja, wajahnnya memerah dengan emosi yang sudah ada di kepala. "Jaga ucapanmu Oh Hunjae!" geram Tuan Oh masih tidak mau kalah. "Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, bukankah kalian yang merencanakan semua ini hanya demi kepentingan kalian sendiri? Dan gadis itu dengan bodohnya menyetujui semuanya bahkan ia tersenyum lebar karena hal itu." "Tarik kembali kata-katamu itu!" Tuan Oh kian terlihat geram akibat ulah Hunjae yang justru tersenyum senang. Baru saja Hunjae akan kembali membuka suara, terdengar gebrakan meja kuat-kuat yang berasal dari Tuan Kang. Pria dengan kacamata yang melingkar itu menatap keluarga Oh dengan tatapan marah, ia sempat melirik sebentar ke arah putrinya yang menunduk sambil terisak lirih. Tuan Oh melihat Tuan Kang dengan raut khawatir, berbeda dengan Hunjae yang terlihat santai seolah tanpa beban. Pria itu justru tersenyum tipis ke arah Pria baya yang menatapnya sengit. "Kalian benar-benar telah merendahkan kami! Apa ini yang disebut sebagai keluarga terhormat!" Tuan Kang berseru penuh amarah. Tuan Oh dengan panik mendekati Tuan Kang, menjelaskan pada pria itu jika semuanya hanyalah salah paham dan Hunjae tidak bermasud untuk mempermalukan apalagi merendahkan mereka. Berbeda dengan Hunjae yang justru tampak santai dan terkekeh kecil dengan keadaan yang ada. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya, membenarkan letak jas yang dipakainya dan menatap sebentar ke arah Tuan Kang dan Ayahnya yang menatap dirinya dengan ekspresi tidak jauh berbeda. Sengit juga penuh amarah. "Apa yang Ayah ku katakan benar, aku tidak memiliki maksud untuk merendahkan apalagi mempermalukan Anda, Tuan Kang," kata Hunjar tiba-tiba. Hal itu membuat semua orang heran dengan apa yang tengah dilakukan Hunjae, apa ia akan menyetujui perjodohan tersebut atau bagaimana? Tuan Oh sempat mengulas senyum tipis saat mendengar penuturan Hunjae yang terdengar seperti tengah berada di pihaknya, tapi pria itu langsung kehilangan senyumnya saat ia mendengar lagi kelanjutan dari ucapan Hunjae beberapa saat lalu. "Tapi aku benar-benar tidak akan pernah menyetujui perjodohan ini, baik itu dengan putrimu atau yang lainnya. Aku meminta maaf untuk hal itu. Tapi aku memiliki hidupku sendiri, dan aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai, lagipun aku tidak ingin membuat keberadaan putrimu dalam hidupku hanya menimbulkan sakit hati jika suatu hari atau kedepannya aku tidak bisa mengagapnya sebagai istriku dengan sepenuh hati karena aku mencintai gadis lain untuk saat ini. Sekali lagi aku minta maaf untuk itu." Ucapan panjang lebar Hunjae diakhiri dengan pria itu yang membungkuk seratus delapan puluh derajat ke arah Tuan Kang yang hanya bisa terdiam. Setelah melakukan hal itu Hunjae memilih pergi dari sana. Meski ia masih bisa mendengar teriakan keras sang Ayah tapi ia tetap mengabaikan hal itu dan terus berjalan ke arah depan. Ia tidak menyesal apalagi merasa merugi dengan apa yang sudah ia lakukan, setidaknya ia sudah mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia juga sudah berusaha untuk menjaga hati seorang gadis agar tidak terluka karenanya suatu saat nanti, meski ia mengakui cara yang dilakukannya cukup keterlaluan. Tapi biar ku tegaskan sekali lagi. Hunjae bukanlah orang yang suka berbasa-basi, ia akan mengatakan apapun yang ia pikirkan saat itu juga.  Ia hanya akan berubah menjadi pribadi lembut dan menyenangkan hanya saat bersama satu nama. Kau benar jika menebak itu adalah Do Minjoo. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa merubah sifat Hunjae dalam sekejap, satu-satunya orang yang bisa membuat Hunjae menuruti tiap apa yang ia perintahkan dan satu-satunya orang yang menempati posisi paling penting dalam hatinya setelah sang Ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN