Dua puluh tujuh

1779 Kata
Chankyung juga Minjoo duduk berhadapan dengan masing-masing dari mereka menghadap ice americano. "Ada apa?" tanya Minjoo penasaran. Pasalnya sudah sejak tadi Chankyung hanya diam menatapnya dengan tersenyum, pria itu belum juga mengatakan apapun pada Do Minjoo. "Aku hanya ingin berterima kasih, meski sulit tapi kau mau menerimaku lagi menjadi temanmu. Hal itu pasti amat sulit untuk hatimu, tapi kau tetap dengan lapang d**a menerimaku bahkan hubungan kita saat ini terasa seperti tidak ada hal buruk yang terjadi di masa lalu." Mendengar ucapan Chankyung membuat Minjoo terdiam, benar apa yang pria itu katakan. Begitu sulit untuk mencoba berdamai dengan masa lalu, tapi saat ia mencobanya itu terasa jauh lebih baik Ia merasa perasaanya menjadi benar-benar lega saat ia memutuskan untuk mencoba berdamai dan menerima keadaan, perasaanya jauh lebih lapang saat ia telah memutuskan untuk menerima apa yang telah terjadi di masa lalu dan lebih memilih untuk menata masa depan. Minjoo menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, ia tersenyum ke arah Chankyung hingga membuat pria itu terpaku di tempatnya. "Satu hal yang baru ku tahu belum lama ini, berdamai dengan masa lalu bukan sesuatu yang buruk. Itu justru akan berbuah baik apabila dilakukan dengan benar. Rasanya menyenangkan saat bisa kembali hidup nyaman tanpa harus terbayang dengan ketakutan masa lalu," "lagipula aku memang sudah memaafkanmu sejak dulu, hanya saja terkadang masih teringat dan terasa sakit. Tapi saat ini sudah tidak lagi, kau tenang saja," pungkas Minjoo sambil tersenyum lebar sampai menampakan deretan gigi rapinya. Chankyung membalas hal yang sama dengan apa yang dilakukan Minjoo, keduanya kemudian tertawa bersama dengan membicarakan hal kecil dan menyenangkan. Sampai tiba waktunya bagi Chankyung untuk kembali bekerja, ia sebenarnya masih enggan untuk meninggalkan cafe tapi ia harus, bagaimanapun ia memiliki tanggung jawab pada perusahaannya. "Hubungan kalian membaik ya Noona?" Jihoon datang dengan nampan dalam dekapan, pria yang jauh lebih muda itu tersenyum jahil sembari membersihkan bekas minuman Chankyung. Ia sempat melirik pada wanita yang jauh lebih tua yang hanya mengangguk kecil dengan senyum tipis, wanita tersebut sempat menepuk bahu Jihoon sebentar kemudian memberi isyarat jika dirinya akan kembali ke tempatnya bekerja. Minjoo kembali ke meja kasir setelah mengucapkan terima kasih pada seorang karyawan yang sempat menggantikannya beberapa saat lalu, sesekali ia masih tersenyum kecil saat mengingat pengakuan Chankyung juga rasa terima kasih yang pria itu sampaikan. Dibalik kenangan juga perlakuan kurang menyenangkan yang dulu dilakukan Chankyung padanya ternyata pria itu mempunyai sisi manis yang baru kali ini Minjoo tahu. "Aku kenapa sih? Kenapa memikirkan Chankyung terus, ayolah Minjoo fokus!" gumam wanita itu pada dirinya sendiri, ia bahkan sempat menepuk-nepuk pipinya sendiri seolah tengah menyadarkan diri. Lonceng pada atas pintu cafe berdenting, pintu terbuka dan menampakan Yura yang baru saja datang. Gadis itu segera duduk pada salah satu bangku dan memanggil pelayan. Ia sendirian, tidak bersama Hunjae atau siapapun. Minjoo masih memperhatikan Yura sampai kemudian tidak lama setelahnya gadis itu didatangi seorang pemuda berbadan tegap yang kini sudah mengambil tempat duduk di sampingnya. Nampak jelas raut khawatir juga ketakutan pada wajah Yura, dan Minjoo masih memperhatikan itu.  Mata bulatnya masih memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat seperti tengah berdebat, tidak terlalu jelas apa yang tengah mereka bicarakan, jarak antara meja kasir juga tempat Yura dan Pria itu memang berjarak agak sedikit jauh. Minjoo segera menghampiri keduanya begitu ia melihat pria itu memegang tangan Yura dengan kasar meski gadis itu sudah berusaha untuk melepaskannya. "Siapa kau?" tanya-nya. Minjoo sempat melirik sebentar ke arah Yura sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi pada pria yang menatapnya dengan seram. "Siapa aku bukan urusanmu, tapi aku harus mengatakan padamu tidak seharusnya seorang laki-laki bersikap kasar pada perempuan," kata Minjoo dengan berani. Pria itu mendecih kemudian tertawa kecil, ia menghempaskan tangan Yura kemudian mendekat ke arah Minjoo dengan tatapan remeh. "Lalu apa maumu? Dia kekasihku, jadi itu hakku untuk berbuat apapun padanya!"  Minjoo memejamkan matanya sebentar saat suara pria itu terdengar begitu kuat, Yura sudah berusaha untuk menghentikan semuanya tapi gadis itu justru di dorong oleh si lelaki ke arah bangku cafe. "Mau dia kekasihmu atau bahkan istri sekalipun, kau tidak seharusnya berbuat kasar! Apa kau tidak lahir dari rahim seorang perempuan? Dan harusnya jika gadis ini adalah kekasihmu, bukan berarti dia orang yang kau cintai? Apa begini caramu mengasihi seseorang yang kau cintai?" Sebenarnya dalam hati Minjoo sudah takut setengah mati, tapi ia tetap mencoba untuk memberanikan diri saat ini.  Yura adalah gadis yang disukai Hunjae, ia tidak bisa membiarkan gadis itu terlibat dalam suatu hal yang bisa menyulitkan dirinya karena itu pasti akan berdampak pada Hunjae. Hunjae adalah salah satu nama yang amat penting dalam hidup Minjoo, jadi ia akan berusaha membuat nama itu selalu bahagia. Dan Minjoo berpikir jika ia bisa menyelamatkan Yura maka itu akan berpengaruh pada Hunjae. "Kau berani sekali ya." Minjoo mengalihkan wajahnya saat tangan besar pria itu melayang ke atas siap untuk memberikan tamparan pada wajahnya. Gadis Do itu membuka mata saat ia tidak kunjung merasakan tamparan mendarat pada wajahnya, ia melihat apa yang terjadi dan tertegun setelahnya. Di belakangnya sudah ada Hunjae yang dengan wajah datar tengah menjegal tangan lelaki itu dengan satu tangannya sendiri. Ia langsung menghempaskan tangan si lelaki dengan kasar dan memberikan kata-kata pedas padanya. "Orang yang paling bodoh di antara mereka yang paling bodoh adalah mereka yang selalu merasa paling kuat dan benar meski mereka sebenarnya tidak sama sekali menjadi seperti apa yang mereka pikirkan." "Ck, siapa lagi kau?" pria itu bertanya pelan. "Siapa aku? Memangnya ada keharusan untukku memberitahumu, kurasa tidak. Aku hanya ingin memberitahu, keluarlah dan lihat apa yang terjadi pada mobilmu atau mungkin juga rumahmu?" ujarnya dengan nada sombong. Pria itu melihat sebentar ke arah luar melalui kaca cafe lalu terdengar ia mengumpat beberapa kali saat dirinya melihat beberapa orang tengah merusak mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari cafe. "Sial!" umpatnya bergegas keluar. Tapi meski begitu ia sempat memberikan tatapan penuh amarah pada Hunjae yang lagi-lagi hanya meresponnya dengan senyum tipis yang penuh kesan sombong. "Kau tidak apa?" Minjoo segera membantu Yura dan melihat apa gadis itu baik-baik saja.  Yura mengangguk dan mengatakan terima kasih, kemudian tatapan gadis itu berganti pada Hunjae yang masih memperhatikan lelaki yang baru saja mengumpatinya itu. "Hunjae Sunbae," panggil Yura pelan. Pria itu menoleh dengan tatapan bertanya, Yura tersenyum sebelum mengucapkan terima kasih pada pria itu. "Terima kasih telah membantuku," ujar Yura ceria. "Aku tidak membantumu, Minjoo yang melakukan itu. Berterima kasihlah padanya," kata Hunjae pelan. Yura mengangguk kemudian melakukan apa yang dikatakan Hunjae padanya. "Minjoo-sshi, terima kasih karena telah menolongku," ujarnya masih dengan senyum tulus. Minjoo mengangguk saja, ia juga melakukan hal yang sama seperti Yura. Ketiganya memutuskan untuk duduk bersama pada satu meja dan mengobrol, Yura duduk di antara Minjoo juga Hunjae. "Jadi dia adalah mantan kekasihmu?" ulang Minjoo setelah mendengar cerita Yura beberapa saat lalu. Gadis itu mengangguk kecil sembari mengaduk minumannya dengan ekspresi resah. "Kami berpisah belum lama ini karena dia yang selalu bersikap kasar dan berselingkuh dariku, pada mulanya aku selalu mencoba untuk memaafkannya, berharap dengan itu ia bisa berubah. Tapi ternyata apa yang kubayangkan tidak pernah terjadi, justru hal itu menjadi sebaliknya," "Dia semakin kasar dan semakin berani. Ia selalu mengikuti ku setiap hari tanpa henti dan membuatku takut setengah mati, dirinya selalu memaksa agar aku mau kembali padanya dengan cara apapun," terang Yura kemudian. "Jadi itu alasanmu meminta Hunjae untuk menjadi kekasih pura-puramu belum lama ini?" Minjoo kembali bertanya dengan nada khawatir. Lagi-lagi Yura mengangguk, gadis itu akan menangis jika saja ia tidak menahannya. "Aku berpikir jika dia melihatku bersama seorang pria ia akan menjauh karena mengira Hunjae sunbae adalah kekasihku, tapi semuanya sama saja. Bahkan ia semakin marah saat tahu aku dan sunbae hanya sebatas rekan kerja." Minjoo menggenggam tangan Yura yang ia letakkan di meja dengan spontan, wanita itu tersenyum ke arah si gadis yang terlihat terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Kau pasti selalu merasa kesulitan selama ini, tapi mulai sekarang tidak lagi. Kau bisa meminta bantuanku juga jika kau mau, lagipula ada Hunjae yang akan selalu ada buatmu," katanya sembari melirik sebentar ke arah Hunjae yang hanya diam dengan ekspresi datar. Yura melakukan hal yang sama dengan Minjoo, tapi ia dengan cepat mengalihkan pandangannya saat Hunjae merespon tatapannya dengan wajah yang masih sama datarnya. "Oh ya, omong-omong apa kau sudah tahu?" Minjoo berkata dengan nada lirih, ia mendekat dan membisikan sesuatu pada Yura yang membuat gadis itu membelalakan mata tidak percaya. Ia juga sempat mencuri pandang ke arah Hunjae yang membuat si lelaki mengernyitkan satu alisnya seolah tengah bertanya. "Kau tidak perlu khawatir lagi dengan itu," Yura mengangguk kecil menanggapi apa yang baru saja dikatakan Minjoo. Setelah berbincang sebentar Yura memutuskan untuk pulang, Minjoo bertanya dengan apa gadis itu akan kembali dan Yura mengatakan jika ia akan pulang dengan taksi atau mungkin bus nantinya. Dan dengan wajah sumringah Minjoo justru mengajukan Hunjae untuk mengantar Yura yang langsung ditolak oleh si gadis dengan alasan tidak mau merepotkan. Tapi dengan sedikit paksaan pada akhirnya Yura menerima tawaran Minjoo, Hunjae juga tidak keberatan untuk sekadar mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Selama perjalanan hanya ada hening dengan deru suara mesin juga suara lirih radio yang terdengar samar-samar. Perasaan Yura gugup bukan main saat ini, apalagi mengingat omongan Minjoo beberapa saat lalu yang mendadak berputar begitu saja dalam ingatannya. "Apa yang kau pikirkan?" suara Hunjae terdengar lebih dulu. Yura gugup, ia berdehem beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan Hunjae dengan gelengan kepala. "Katakan saja apa yang mengganggu kepalamu," lagi-lagi Hunjae berucap seakan ia tahu ada sesuatu yang sebenarnya ingin Yura tanyakan. Yura tampak ragu untuk mengatakannya, ia beberapa kali sudah membuka mulutnya untuk mengatakan hal itu tapi berakhir dengan ia yang kembali mengatupkan bibir dan menggigit bibir bawahnya sendiri karena merasa ragu. "Apa Minjoo mengatakan jika aku menyukaimu?" Tepat sasaran. Yura hanya bisa terdiam di tempat di tempat dengan tubuh kaku karena gugup, sedangkan Hunjae hanya tersenyum kecil melihat reaksi gadis itu. "Bagaimana menurutmu?" Yura yang semula mengalihkan tatapannya ke arah luar jendela segera mengalihkannya ke arah Hunjar yang masih sibuk dengan setir kemudi. "Apa aku benar-benar terlihat seperti apa yang Minjoo katakan?" sambung Hunjae lagi. "Tidak tahu," jawab Yura lirih. Jujur saja ia memang tidak tahu, Hunjae memang berbuat baik padanya, tapi itu bukan menjadi jaminan ia memang memiliki perasaan khusus padanya. Bisa saja Hunjae memang baik ke semua orang bukan? "Gadis itu memang selalu seperti itu, dia akan mengatakan semua yang dia tahu meski hal itu tepat pada porsinya." "Maksudnya?" "Minjoo. Dia gadis yang lugu tapi kuat di saat bersamaan, dia bisa dengan mudah mempercayai seseorang bahkan yang sudah menyakitinya. Aku tidak tahu itu disebut polos atau bodoh, terkadang aku menjadi kesal sendiri karenanya," ujar Hunjae tertawa kecil. Yang tidak pria itu tahu, sejak tadi Yura memperhatikannya dalam diam. Gadis itu memperhatikan Hunjae dengan lekat kemudian berkata. "Sunbae, kau menyukai Minjoo-ssi, ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN