Dua puluh delapan

1770 Kata
Hunjae segera mengerem mobil yang ia dan Yura tumpangi dengan mendadak, hal itu membuat kepala keduanya terantuk mengenai bagian depan mobil. "Sunbae!" sentak Yura sembari meringis, ia menoleh ke arah Hunjae sembari memegangi keningnya yang terasa berdenyut. Hunjae sontak menoleh pada Yura, pria itu meminta maaf atas apa yang telah terjadi dan kemudian bertanya apa gadis itu baik-baik saja.  Beruntung keadaan jalanan saat itu bisa dibilang cukup lengang jadi apa yang baru saja terjadi tidak berimbas dengan pengguna jalanan lain. "Aku tidak apa hanya kepalaku yang terasa agak pusing karena harus mencium bagian depan mobil," ujar Yura cepat. Ini hanya seperti reflek atau mungkin rasa tidak enak hati Hunjae karena telah membuat gadis di sampingnya terluka. Pria itu mendekat, satu tangan besarnya terangkat untuk mengusap pelan dahi Yura yang terlihat memerah pada bagian kanan.  Hal itu Hunjae lakukan selama lebih kurang dua menit, sampai kemudian ia kembali ke tempatnya dan bertanya. "Sudah lebih baik?" tanya-nya pelan. Yura tidak lantas menjawab, gadis itu masih saja diam dengan tatapan yang lurus tepat ke arah Hunjae berada. Gadis itu baru saja tertegun saat Hunjae memegang bahunya pelan. "Oh, i-iya," jawabnya tergagap.  Yura segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia memejamkan mata saat kejadian Hunjae yang mengelus keningnya kembali ia ingat.  Ia juga memegangi wajahnya sendiri yang tiba-tiba terasa panas dengan dua tangannya, kemudian menggeleng sambil bergumam kata "tidak," beberapa kali. Hunjae yang melihat hal itu hanya bisa terheran, ia memegang salah satu bahu Yura membuat gadis itu menoleh cepat ke arahnya dan hal hal itu membuatnya terkejut saat Hunjae melihat dengan jelas bagaimana wajah Yura yang kini memerah hebat. "Kau sakit?" Hunjae bertanya spontan. Ia menempelkan punggung tangannya ke arah dahi si gadis dan hal itu justru membuat rona merah pada wajahnya kian kentara. "Sepertinya kau benar-benar sakit, wajahmu memerah." Saat Hunjae akan kembali menjalankan mobilnya untuk membawa Yura ke Rumah Sakit tangan gadis itu lebih dulu menahannya. Ia menggeleng cepat dengan ekspresi panik luar biasa, ia mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan Hunjae tidak perlu cemas apalagi panik. "Aku, aku baik-baik saja Sunbae. Sungguh," Yura mengatakan hal itu dengan amat yakin. Ia bisa merasakan wajahnya yang kian memanas saat kepala Hunjae mendekat padanya. Pria itu memeriksa keningnya dengan punggung tangan sekali lagi. "Tapi wajahmu memerah, dahimu juga terasa hangat. Aku hanya takut benturan tadi menimbulkan sesuatu," ucapan Hunjae terpotong saat Yura langsung menyela ucapannya. "Aku baik-baik saja, sungguh. Itu hal biasa, itu biasa terjadi saat aku terkejut. Iya, seperti itu," terang Yura cepat. Sebenarnya Hunjae masih agak kurang percaya, apalagi ekspresi Yura terlihat panik dan begitu gugup saat mengatakan hal tersebut. Ia terlihat seperti tengah berpikir atau mengarang sesuatu. Tapi karena tidak ingin memperpanjang, pada akhirnya Hunjae mengangguk saja. Ia kembali menjalankan kendaraanya untuk mengantar gadis itu kembali ke rumahnya. Perjalanan terasa begitu sepi setelah kejadian sebelumnya, baik Yura maupun Hunjae sama-sama saling diam enggan berkata apapun. Yura masih saja sibuk melihat ke arah jalanan sembari terus berbisik pada dirinya sendiri jika apa yang ia rasakan bukanlah apa-apa. Gadis itu sempat melirik ke arah Hunjae yang masih mengemudi dengan tenang, tapi ia lebih terlihat seperti tengah melamun, dan hal itu membuat Yura merasa ngeri jika hal itulah yang memang benar Hunjae lakukan. Dengan modal nekat Yura menyentuh pelan bahu Hunjae dan benar saja pria itu terkejut dengan apa yang Yura lakukan, mobil yang ditumpangi keduanya sempat oleng sebentar tapi beruntung Hunjae bisa kembali mengendalikan dan kembali pada jalur yang benar. "Sunbae, kau melamun?" Yura bertanya dengan ekspresi ngeri yang masih terlihat jelas pada wajahnya. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya tidak dengan segera menyadarkan Hunjae. Mungkin pria itu akan secara tidak sadar mengendarai mobilnya dan membuat mereka terlibat sesuatu yang tidak diinginkan. Yah, meskipun saat Yura menyadarkan Hunjae hal itu juga akan terjadi. "Maafkan aku," hanya itu yang Hunjae ucapkan. Ia kini lebih memusatkan fokusnya pada jalanan di depannya, berusaha menghalau berbagai pikiran soal gadis yang belum lama ini di jodohkan dengannya. Sesaat setelah Hunjae mengantarkan Yura sampai ke rumahnya dengan selamat, pria itu memutuskan untuk mampir sebentar ke salah satu bar milik teman saat kuliahnya dulu. Pria itu duduk pada satu sofa yang berada di pojok ruangan dengan kepala yang ia telungkupkan pada meja sebagai tumpuan. Ia mendongak, menghela nafas kemudian merogoh sakunya di mana ada satu kotak kecil berwarna merah beludru dengan cincin kecil berhias permata sebagai isi di dalamnya. Kepala Hunjae kembali mengingat kejadian saat makan siang keluarganya dengan keluarga Kang beberapa saat lalu. Setelah perdebatannya dengan Ayah juga Tuan Kang, Hunjae memutuskan untuk pergi dari sana dan duduk pada satu taman sepi tidak jauh dari tempat tersebut. Ia berada di sana untuk sekadar menenangkan pikiran sekaligus meredakan emosinya sejenak dari apa yang baru saja terjadi. Tapi suasana tenangnya terganggu saat seseorang duduk tepat di sebelahnya yang saat itu tengah mendongakan kepala dengan mata terpejam rapat. "Siapapun anda, tolong pergi. Saya sedang ingin sendiri," gumam Hunjae agak keras berharap orang yang ada di sebelahnya akan mendengar. Tapi yang terjadi orang itu tetap ada di sana, ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang baru saja Hunjae katakan. Dengan sedikit kesal, Hunjae membuka matanya. Ia segera menegakan badan dan menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah seorang gadis. Hunjae terdiam melihat gadis dengan gaun putih tanpa lengan dan rambut berwarna legam itu, dia adalah Hyeso, Kang Hyeso. Gadis berumur dua tahun lebih muda darinya yang juga merupakan putri tunggal keluarga Kang yang berarti dirinya adalah gadis yang akan dijodohkan dengan Oh Hunjae. Hyeso menoleh, gadis itu tersenyum lembut ke arah Hunjae yang masih saja menatapnya dengan eskpresi datar.  "Maafkan Ayahku," ujarnya kemudian. Ia menunduk, menghela nafas sebentar kemudian memberanikan diri menatap Hunjae lagi. "Aku tahu kau keberatan untuk menerima perjodohan ini, tapi apa aku boleh meminta sesuatu darimu? Tolong terima perjodohan ini meski hanya sebentar, perusahaan Ayahmu tengah mengalami kesulitan bukan?" Hunjae sendiri cukup terkejut dengan hal itu, perusahaan Ayahnya memang diketahui tengah mengalami krisis setelah salah seorang karyawan melakukan penggelapan dana dengan jumlah yang terbilang besar. Hunjae sendiri tidak bekerja di perusahaan Ayahnya, ia memilih untuk membangun perusahaanya sendiri meski masih menjadi perusahaan dengan skala kecil. "Apa maksudmu?" Hunjae bertanya dengan nada datar. Sebenarnya bukannya ia membenci atau tidak menyukai Hyeso, tentu bukan. Ia bahkan tidak terlalu mengenal gadis itu lalu apa alasannya ia bisa membencinya? Hunjae bukan tipe orang yang bisa membenci orang lain tanpa alasan karena hal itu menurutnya amat tidak masuk akal. "Aku hanya ingin kau menerima perjodohan ini dan membantu perusahaan Ayahmu, setidaknya sampai keuangan mereka bisa kembali normal atau berjalan dengan lebih baik daripada saat ini," jawab Hyeso tenang. Alis Hunjae memincing, apa benar hanya itu tujuan gadis di hadapannya ini? Apa ia tidak memiliki maksud lain untuk itu. Bukankah aneh saat seseorang yang tidak terlalu dekat ingin membantumu apalagi soal urusan uang, setahu Hunjae juga Ayahnya tidak pernah menyinggung atau berurusan dengan Taun Kang apalagi Hyeso. "Ibu mu pernah menolong Ayah ku saat kecelakaan dahulu, beliau menyelamatkan nyawa Ayah saat dalam kondisi kritis dengan seluruh kemampuan yang ia punya," terang Hyesoo seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Hunjae. Hunjae tertegun, Ibunya. Ibu kandungnya.  Hunjae memang tahu jika Ibunya berprofesi sebagai seorang Dokter, itu berkat beberapa berkas juga barang-barang milik Nyonya Oh yang tanpa disengaja Hunjae temukan di dalam gudang sewaktu ia berumur belasan tahun. "Makadari itu Ayah ingin membalas jasa Ibumu, tapi saat ia mengundang keluarga kalian bukan Ibumu yang hadir sebagai pasangan Tuan Oh," lanjut Hyesoo lagi. "Ibuku sudah meninggal," sahut Hunjae lirih. Hyeso tampak terkejut, gadis itu membulatkan mata juga mulutnya dengan dua telapak tangan yang ia letakan di depan mulutnya sendiri. "Maaf aku tidak," "Sudahlah, aku mengerti," potong Hunjae cepat. Ia memang paling tidak suka jika ada yang membahas soal Ibunya. Bukannya apa tapi akan selalu seperti itu, seseorang akan meminta maaf pada Hunjae karena tanpa sengaja membahas soal hal yang paling tidak disukai Hunjae di depannya. Dan saat hal itu terjadi Hunjae selalu merasa jika orang-orang yang meminta maaf tersebut menatapnya dengan sorot mata kasihan, sedangkan Hunjae paling tidak suka jika dirinya dikasihani. Terjadi hening selama beberapa saat sampai kemudian Hyeso mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang memang ia bawa sejak tadi. Kotak beludru merah yang berisi cincin kecil berhias permata, ia tersenyum sebentar kemudian memberikan benda tersebut pada Hunjae yang kembali mengernyitkan dahi kebingungan. "Apa ini?" "Itu adalah cincin pemberian Nenek ku dulu, kau bisa menyimpannya dan memakaikan padaku saat acara pertunangan kita nanti. Maksud ku jika kau setuju untuk menerima perjodohan ini," cicit Hyeso di akhir kalimat. "Apa yang akan ku dapatkan jika aku menerima perjodohan ini?" Kening Hyesoo mengekerut mendengar pertanyaan Hunjae, ia tentu kurang paham dengan apa yang dimaksud lelaki itu. "Bukankah dengan keluarga ku yang membantu perusahaan Ayahmu itu adalah suatu keuntungan?" tanya Hyesoo polos. "Aku tahu kau tidak sebodoh apa yang terlihat," kata Hunjae datar. Hyeso mendengkus, ia mengangkuk kecil kemudian tertawa lirih sembari melirik ke arah Hunjae sebentar. "Kau itu cerdas, sayang saja kau itu kasar." "Katakan saja, kau sudah tahu bukan bagaimana hubunganku dengan Ayah ku. Orang sepertimu pasti tidak akan menerima perjodohan tanpa tahu siapa yang akan menjadi pendampingmu kelak," ujar Hunjae tepat sasaran. Sekali lagi Hyeso mengangguk, ia tertawa kecil mendapati ucapan Hunjae yang memang tepat pada tempatnya. "Ya, ku rasa kau benar. Tapi soal Ibumu itu benar juga, tujuan Ayahku ingin membantu perusahaan Ayahmu memang untuk membalas budi. Tapi ada hal lain yang sebenarnya menjadi alasanku kenapa aku sampai membujukmu untuk menerima perjodohan ini," ucap Hyesoo. "Cepat katakan apa maumu dan katakan apa yang akan ku dapat setelah itu." "Kau ini buru-buru sekali. Aku hanya ingin membuat mantan kekasih juga sahabatku hancur, aku ingin melihat mereka kehilangan sesuatu yang berharga seperti apa yang sudah mereka lakukan padaku dulu." "Lalu apa hubungannya denganku dsn perjodohan kita?" tanya Hunjae tidak mengerti. "Tentu ada, karena sahabatku adalah Ibu tirimu," ujar Hyesoo tajam bahkan ekspresinya benar-benar berbeda dengan dirinya yang tampak polos beberapa saat yang lalu. Hunjae terdiam, ia memandangi cincin tersebut beberapa saat sebelum kemudian atensinya teralihkan pada Hyeso yang beranjak dari duduknya. Gadis itu tersenyum kecil ke arah Hunjae sebelum kemudian berpamiran dan melangkah pergi. Kembali pada waktu saat ini, Hunjae menghela nafas panjang. Sekali lagi ia memperhatikan sekotak cincin yang diberikan Hyesoo padanya. Haruskah ia menerima perjodohan ini? Lalu bagaimana dengan perasaanya yang bahkan sampai detik ini masih belum bisa tergeser ataupun tergantikan oleh siapapun. Nama Do Minjoo masih menempati posisi kedua dari sekian banyak nama yang pernah ia temui untuk menempati posisi penting dalam hidupnya. Jika kau bertanya siapa posisi pertama tentu saja dia adalah Nyonya Oh, Ibu Kandung Oh Hunjae. Tapi di sisi lain ia bukan anak yang akan dengan tega membiarkan perusahaan yang telah dirintis Orang Tuanya terancam bangkrut oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN