Dua puluh sembilan

1770 Kata
Pukul sepuluh malam saatnya menutup cafe! Kali ini Minjoo dibantu Jihoon, anak lelaki itu sejak tadi tidak berhenti tersenyum juga bersenandung lirih beberapa lagu dengan nada riang. Sepertinya dia sedang merasa senang. Minjoo yang tengah membersihkan meja hanya bisa tersenyum dan menggeleng kecil melihat tingkah Jihoon yang menurutnya lucu. Jadi begitu ya tingkah orang yang sedang kasmaran, segala sesuatu akan terasa menyenangkan dan membahagiakan. Sama seperti setiap moment yang ia rasakan bersama Chankyung. Tunggu dulu! Kenapa jadi Chankyung?  Entahlah! Minjoo tidak ingin memikirkan itu, ia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat dan segera pulang ke apartemen, badan pegalnya sudah menginginkan untuk berendam di air hangat juga bergelung nyaman dalam selimut tebal setelah memakan sebungkus ramen juga pangsit pedas yang rencananya akan Minjoo beli sepulangnya ia dari cafe nanti. Ah, memikirkannya saja sudah membuat air liur Minjoo menetes, kebahagiaan kecil yang amat dinantikannya kali ini. Semua kembali pada pekerjaan masing-masing dengan konsentrasi penuh, sebelum beberapa menit kemudian terdengar suara bel di atas pintu cafe meski tanda close telah dibalik di sana. "Maaf kami sudah tutup," seorang karyawan perempuan yang juga tengah membereskan  cafe berucap. Minjoo juga Jihoon menoleh serempak ke arah pintu cafe, dan terlihat Chankyung di sana dengan senyum lebarnya. "Ah begitu ya, maafkan aku. Aku akan menunggu di luar saja," katanya menggaruk tengkuk. Merasa tidak enak. "Tidak apa, tunggulah di dalam. Sebentar lagi selesai," ujar Minjoo menengahi. Chankyung mengirimkan signal lewat matanya, bertanya apa tidak apa? Minjoo mengangguk tanpa suara, mengiyakan kode yang Chankyung berikan. Pria itu tidak lantas menuruti apa yang dikatakan Minjoo sekalipun gadis itu telah mengiyakan. Ia melihat masih ada beberapa meja yang belum selesai dibersihkan, dan hal itu membuat Chankyung memiliki ide cemerlang. Menurutnya. Pria itu justru meminta alat kebersihan lain pada karyawan wanita sebelumnya, hal membuat kening Minjoo yang melihatnya mengkerut, ia membelalakan matanya saat Chankyung telah mendapatkan apa yang ia mau kemudian turut mengerjakan pekerjaan tiga orang lainnya. Minjoo segera menghampiri Chankyung sedangkan Jihoon hanya bergedik tidak peduli dan kembali dengan aktifitasnya sebelumnya. "Kau tidak perlu membersihkannya, tunggulah di ruanganku saja," ucap Minjoo merasa tidak enak hati. Chankyung menggeleng, ia tersenyum ke arah Minjoo sembari menggerakan jari telunjuknya ke arah kanan dan kiri, seolah memberikan tanda jika Minjoo tidak seharusnya mengatakan hal itu. "Jika menunggu saja akan membuatku bosan, lebih baik aku membantu. Iya 'kan?" katanya masih memperlihatkan ekspresi yang sama kemudian kembali menyambung aktititas sebelumnya. Minjoo hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya, sekali lagi ia merasa jatuh pada sosok Park Chankyung meski ia sendiri belum mengakui hal itu. "Terserahmu saja," putus Minjoo pada akhirnya, gadis itu kembali ke tempatnya dan ikut melanjutkan pekerjaannya sebelumnya. Acara bersih-bersih telah selesai, karyawan yang sebelumnya membantu telah berpamitan pulang dan bersamaan dengan itu Jihoon melakukan hal yang sama. "Noona, aku pulang dulu," katanya sambil menggendong tas punggungnya.  Minjoo mengangguk kecil dan tersenyum, kemudian anak laki-laki itu melangkah kan kakinya ke luar cafe. Minjoo menghampiri salah satu meja di mana Chankyung telah duduk di sana sembari melihat-lihat ke arah sekeliling cafe. Minjoo meletakan cangkir berisi kopi hangat yang berhasil menarik perhatian  Chankyung dari apa yang sebelumnya ia lihat. Pria itu terlihat sumringah melihat apa yang ada di depannya, ia tersenyum kecil kemudian mencoba mencium bau kopi tersebut. "Baunya sangat harum," pujinya. Minjoo mengangguk saja, ia mengambil tempat di depan Chankyung, menyaksikan dengan lamat bagaimana pria itu menyeruput kopi buatannya dan tersenyum puas. "Pantas saja cafe milikmu selalu ramai, rasanya benar-benar enak," pujinya. Minjoo hanya tergelak kecil, ia menganggukan kepalanya sebagai respon atas apa yang dilontarkan Chankyung sebagai pujian. "Terima kasih, aku merasa tersanjung untuk hal itu," katanya tulus. Keduanya lantas tertawa bersama setelahnya, sampai kemudian Chankyung mengucapkan satu hal. "Mau berjalan-jalan denganku?" tawarnya. Minjoo menimang, mengukur mana yang jauh lebih ia inginkan untuk saat ini. Kembali ke apartemen dan menikmati waktu santai dengan list yang telah ia buat atau menerima ajakan Chankyung untuk menemani pria itu berjalan-jalan. Setelah menimbang pada akhirnya Minjoo setuju untuk menemani Chankyung berjalan-jalan dengan satu syarat. Ke mana tujuan mereka adalah Minjoo yang menentukan, dan Chankyung mengiyakan saja apa yang dikatakan gadis itu. Keduanya senpat mengobrol sebentar sembari Chankyung menghabiskan minuman miliknya. Setelahnya baru kemudian mereka melanjutkan untuk pergi ke tempat tujuan. Bukan tempat mewah atau sejenisnya, hanya sebuah warung kecil yang terletak tidak jauh dari Sungai Han.  Keduanya duduk dengan tenang sembari di depan mereka tersaji ramen panas dengan kimchi daun bawang yang terlihat sedap menggoda. "Kau yakin tidak salah tempat?" Chankyung bertanya heran. Minjoo menggeleng sembari menyeruput mie pedas miliknya, ia juga mengambil sebatang kimchi daun bawang dan melahapnya dengan tenang. Melihat raut Chankyung yang masih kebingungan, Minjoo segera menelan makanan dalam mulutnya dengan gerakan cepat. "Kita tidak salah tempat. Sejak tadi aku memang ingin makan ramen kemudian bergelung nyaman di selimut, cuacanya bertambah dingin," ujarnya sambil tersenyum. Chankyung hanya merespon omongan Minjoo dengan gelengan kecil juga senyum tipis, gadis bermarga Do ini memang berbeda dari gadis kebanyakan. Batinnya. "Jadi aku menganggu rencanamu ya untuk bersantai selepas kerja?" ucap Chankyung pelan. Minjoo terdiam kemudian menggeleng, ia lebih dulu meminum cola yang memang mereka pesan bersama sebelumnya, sebelum menjawab pertanyaan Chankyung. "Tidak, kok. Setidaknya aku sudah menikmati ramen sebagai salah satu dari rencanaku yang sebelumnya, setelah berjalan-jalan aku akan mandi dan bergulung nyaman di selimut," jawabnya riang. Chankyung mengangguk saja, keduanya lantas kembali menyantap makanan di depan mereka sembari bercakap-cakap dan tertawa kecil. Pukul dua belas malam Hunjae masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, pria bermarga Oh itu menuju apartemen tempat Minjoo tinggal. Sesampainya ia di gedung apartemen Minjoo pria itu segera menaiki lift dan menekan tombol menuju lantai tempat Minjoo tinggal. Hunjae melangkah dengan pelan menuju pintu unit apartemen Minjoo, ia mengetuk pintu itu beberapa kali tapi tidak terdengar sahutan sama sekali, sampai kemudian. "Oh Hunjae?" Yang dipanggil berbalik, pria itu tampak cukup terkejut saat mendapati orang yang tengah ia cari sejak tadi datang bersama Chankyung. Keduanya melihat Hunjae dengan tatapan bingung, sedang si pria hanya bisa membuang wajah saat ia harus bersitatap dengan Chankyung yang tersenyum tipis ke arahnya. Secara mendadak dadda Hunjae terasa bergemuruh, seolah ada sesuatu yang ingin meledak secara hebat dari dalam sana. Tentu saja Hunjae cemburu, ia menyukai Minjoo tapi gadis itu justru pergi bersama Chankyung dan telihat senang dengan hal itu. Menyadari situasi yang mulai canggung, Chankyung memutuskan untuk pergi lebih dulu. Ia memberikan satu kantong plastik berwarna hitam pada Do Minjoo sebelum berlalu. "Aku pergi dulu, jangan lupa makan itu kemudian bersihkan badanmu dan segera tidur ya, sudah larut malam." Tangan Hunjae mengepal erat di sebelah tubuh setelah mendengar pesan yang diberikan Chankyung untuk Minjoo. Um, sebenarnya bukan hanya soal pesan Chankyung yang seakan tidak menganggap keberadaan Hunjae di sana, hanya saja perlakuan pria itu terhadap Do Minjoo lah yang membuat pria bermarga Oh itu kesal bukan main. Dengan seenaknya Chankyung mengusak surai Minjoo juga tersenyum gemas ke arah gadis itu, dan yang lebih membuat Hunjae jengkel adalah Minjoo menerima hal itu dengan senang hati. Keduanya sudah terlihat jauh lebih dekat sejak terakhir kali Hunjae bertemu dengan mereka. Dan itu membuat si pria Oh penasaran, sudah sedekat apa hubungan mereka dan saat ini status apa yang melingkupi keduanya. Hubungan keduanya tidak lebih dari sekadar teman bukan, Hunjae tidak mungkin kalah bahkan saat ia belum berjuang. Iya 'kan? "Hai," Minjoo menyapa dengan canggung, gadis itu menyapa Hunjae dengan mengangkat satu tangannya ke atas. Ia masih saja tersenyum canggung karena Hunjae yang tidak kunjung menjawab sapaannya. Pria itu hanya menatap Minjoo lekat dan membuat si wanita menjadi salah tingkah. Dengan gerakan amat gesit Minjoo segera bergeser ke arah pintu unit miliknya, ia menekan beberapa digit nomor password apartemen miliknya kemudian mempersilahkan Hunjae untuk masuk ke dalam. Pria itu menurut, ia masuk tanpa banyak membantah. Dan setelah Hunjae melewati badan Minjoo, gadis itu menghela nafas lega. Entah karena apa ia merasakan aura yang berbeda dari Hunjae, pria itu terlihat tegas dan menakutkan di saat yang bersamaan. Dan selama Minjoo berteman dengan Hunjae baru kali ini ia melihat si pria Oh bisa menjadi seperti itu. Minjoo merasa tiap tatapan yang Hunjae berikan padanya seperti mengintimidasi, seolah menuntut akan sesuatu yang Minjoo sendiri tidak tahu apa maksudnya. Melihat Hunjae yang sudah duduk nyaman di ruang tengah sekaligus ruang tamu itu membuat Minjoo berinisiatif untuk melangkahkan kaki ke dapur. Ia ingin membuatkan Hunjae minuman atau sesuatu, mungkin saja dengan hal itu ia bisa menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang Minjoo pikirkan juga harapkan untuk saat ini. Gadis itu datang kembali dengan nampan berisi jus jeruk juga beberapa makanan ringan, kenapa jus? Karena menurut Minjoo sepertinya Hunjae tengah kesal atau apapun itu akan sesuatu. Akan lebih baik jika pria itu meminum sesuatu yang manis juga menyegarkan, mungkin saja dengan itu ia bisa sedikit merasa lebih baik. Tatapan Hunjae yang semula fokus pada televisi dengan layar hitam teralihkan begitu suara nampan yang beradu dengan meja terdengar, ia menoleh ke arah Minjoo yang tersenyum kikuk.  Masih dengan ekspresi datarnya ia memperhatikan gadis itu dengan lekat, sungguh! Minjoo merasa seperti seorang tahanan yang tengah di awasi karena dikhawatirkan akan kabur dari penjara. "Nikmatilah, aku akan berganti pakaian juga membersihkan badan dulu," ujarnya cepat-cepat. Belum juga Hunjae mengiyakan apa yang ia katakan, gadis itu sudah lebih dulu melesat bagaikan memiliki kekuatan untuk berteleportasi. Hunjae menghela nafas, ia menatap pintu kamar Minjoo yang kini tertutup rapat setelah sebelumnya mengeluarkan bunyi cukup keras karena bantingan si pemilik ruangan. Ia juga menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit apartemen Minjoo dengan isi kepala yang berputar-putar tanpa henti. "Dia pasti ketakutan," gumamnya sendiri. Kata dia yang Hunjae maksud adalah Do Minjoo, gadis itu pasti kebingungan dengan semua sikap aneh yang dilakukannya hari ini. Tapi apa yang dilakukan Hunjae juga bukan tanpa alasan, ia memiliki alasan yang menurutnya sendiri cukup kuat untuk itu. Cemburu. Iya, itu adalah alasan Hunjae bersikap cukup aneh pada Do Minjoo. Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu terdengar kekanakan apalagi mereka tidak memiliki hubungan selain persahabatan, meski nyatanya Hunjae mengangap Minjoo lebih dari sekadar teman. Hunjae sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri, ia ingin melawan Chankyung. Ia ingin bersaing dengan pria itu secara sehat untuk mendapatkan Minjoo. Tapi tiap kali ia berhadapan dengan pria itu, otaknya mendadak selalu memutar ingatan jika dirinyalah yang dicintai oleh Minjoo. Pria itulah yang selalu menjadi rumah bahkan setelah ia menyakiti Minjoo lagi dan lagi, dan sebenarnya Hunjae benci untuk mengakui hal itu. Ia benci tiap kali pemikiran itu hadir maka ia akan merasa jika dirinya memiliki kesempatan jauh lebih kecil dari Chankyung, meski kenyataanya mereķa memiliki kesempatan sama besar karena Minjoo juga menyimpan namanya sebagai salah satu orang paling penting dalam hidupnya (gadis itu mengatakannya sendiri) Tapi apa ia bisa mengalahkan Chankyung? Dan kenapa ia selalu jadi pesimis tiap kali berhadapan dengan pria itu? Ini tidak bisa dibiarkan, bagaimanapun juga ia harus tetap berjuang! Harus!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN