Suasana jadi amat canggung sekembalinya Minjoo dari berganti pakaian, keduanya hanya duduk dalam diam tidak jauh dari Hunjae yang juga sama-sama terdiam.
Deheman keras Hunjae jadi hal pertama yang didengar untuk sekian waktu yang ada, Minjoo menoleh sebentar ke arah Hunjae yang rupanya telah melihat ke arahnya.
Keduanya sempat terlibat aksi saling tatap selama beberapa saat sebelum kemudian Minjoo mengalihkan pandangannya lebih dulu dan Hunjae yang kemudian meminum minuman yang sebelumnya telah disediakan si gadis untuknya.
"Kalian terlihat sangat dekat," ujar Hunjae tiba-tiba.
Minjoo yang mendengar hal itu hanya mengernyitkan dahi, siapa yang dimaksud Hunjae?
"Kau dan Chankyung," ujarnya lagi seolah tahu apa yang tengah dipikirkan Minjoo.
Butuh jeda beberapa saat bagi Minjoo sampai kemudian ia mengangguk, tapi hanya sebentar karena tidak lama setelahnya ia justru menggeleng kuat.
"Maksudku tidak, anu kita tidak sedekat itu juga," ujarnya dengan cepat meralat.
Hunjae mengangguk saja, tidak ingin memperpanjang pembicaraan soal Chankyung karena itu hanya akan membuatnya merasa kian kecil dibanding pria itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Minjoo pelan.
Gadis itu memperhatikan bagaimana penampilan Hunjar yang memang tampak agak kacau hari ini, tapi pria itu hanya mengangguk sebagai respon.
"Aku akan dijodohkan," kata Hunjae tiba-tiba.
Mendengar hal itu membuat Minjoo membulatkan matanya karena terkejut, gadis itu bahkan sempat membeku selama beberapa detik sebelum kemudian memborbardir Hunjae dengan beragam pertanyaan menuntut.
"Benarkah? Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, siapa gadis itu? Cepat katakan padaku."
Hunjae tertawa kecil mendengar pertanyaan Minjoo yang kelewat berentetan, kalo boleh dibilang ia rindu dengan sikap Minjoo yang satu ini.
Beberapa hari belakangan ia jarang bisa bertemu dengan si gadis apalagi sampai Minjoo bisa bersikap cerewet seperti ini padanya, gadis itu terlalu sering menghabiskan waktunya bersama Park Chankyung.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?!" Minjoo bersungut marah, Hunjae menggelengkan kepala sambil berusaha menahan kekehannya.
"Tidak, tidak. Hanya saja rasanya sudah sangat lama. Rasanya dulu kau selalu bersikap seperti ini padaku, tapi akhir-akhir ini kau lebih sering melakukannya bersama Chankyung."
Perkataan Hunjae membuat suasana jadi canggung, Minjoo mengalihkan pandangan ke sembarang arah sembari mengulum bibirnya sendiri.
Jujur saja ia merasa tidak enak hati mendengar secara langsung apa yang baru saja dikatakan Hunjae di depannya, apalagi pria itu tanpa basa-basi langsung berucap ke intinya.
"Maafkan aku," hanya itu yang bisa Minjoo katakan dengan nada lirih.
Ia merasa bersalah tentu saja, apa benar dirinya menghabiskan waktunya terlalu banyak bersama Chankyung sampai-sampai ia melupakan Hunjae?
Tapi ia tidak merasa seperti itu, iya memang akhir-akhir ini ia juga sering menghabiskan waktunya bersama Chankyung, tapi Minjoo rasa tidak sesering yang Hunjae katakan. Atau memang iya?
Hunjae tersenyum tipis sebagai respon permintaan maaf Minjoo, ia tidak bermaksud untuk membuat gadis itu merasa bersalah ataupun menyalahkan dirinya sendiri atas hal itu.
Ia hanya ingin mengatakan apa yang memang ia rasakan, setidaknya Hunjae berpikir jika dirinya jujur maka Minjoo akan mengerti meski ia sendiri tahu hal itu akan membuat gadis itu merasa bersalah nantinya.
"Sudahlah, yang penting saat ini kau sudah ada bersamaku," kata Hunjae mencoha menghibur Minjoo.
Pria itu masih terus tersenyum dengan tangan yang mengusak rambut Minjoo gemas.
Gadis bermarga Do itu mendongak, ia melihat ke arah Hunjae dengan bibir yang maju, manyun ke arah depan.
"Aku baik-baik saja," kata Hunjae menegaskan. Ia tahu Minjoo pasti masih ingin meminta maaf padanya.
"Tapi, siapa gadis tidak beruntung yang akan menjadi jodohmu? Kau tega sekali tidak memberitahuku!" sungut Minjoo kesal. Ia sudah terlihat seperti dirinya yang sebelumnya.
"Aku saja baru tahu. Namanya Kang Hyeso, dia lebih muda dariku," ujar Hunjae memulai cerita.
"Wajahnya kecil, rambutnya gelap lurus. Yah, sangat terlihat jika anak seperti apa dia," sambung Hunjae kemudian.
Tanpa diduga Minjoo mendekatkan badannya pada Hunjae, gadis itu menatap si pria dengan antusias. Maksud ku Minjoo terlihat antusias dengan cerita Hunjae.
"Lalu? Apa dia cantik? Apa kau menyukainya?" pertanyaan yang dilontarkan Minjoo memang tidak ada yang salah ataupun menyinggung.
Tapi hal itu mampu membuat Hunjae terdiam dengan tatapan terkunci pada si gadis yang berjarak tidak jauh darinya dengan wajah penasaran.
Hunjae hanya bisa tersenyum tipis dengan melihat reaksi Minjoo saat ini, gadis itu tidak lagi terlihat murung saat tahu ia akan dijodohkan dengan seorang gadis.
Padahal sebelumnya ia terlihat amat sedih saat tahu jika dirinya tengah dekat dengan Yura meskipun hubungan keduanya hanya sebatas pura-pura.
Apa ini karena Chankyung? Apa Minjoo sudah tidak lagi merasa cemas dan takut sendirian karena sudah ada si pria Park yang bersamanya.
"Kau akan tahu nanti," jawab Hunjae pada akhirnya.
Si gadis Do berdecak sebal, tapi hal itu justru mengundang kekehan kecil dari Hunjae.
Ku rasa istilah cinta itu buta memang benar adanya. Tidak peduli apa yang telah dilakukan, akan terasa sulit untuk tidak sekadar tersenyum pada orang yang dicintai, sekalipun ia telah menyakitimu begitu banyak.
Dan hal itu berlaku juga bagi Oh Hunjae. Ia melakukannya, dan itu karena Do Minjoo.
….
Pagi hari di kediaman Tuan Oh. Hunjae yang baru saja turun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat tanpa sengaja ia melihat Ibu tirinya tengah berciuman cukup panas dengan sang Ayah.
Wanita yang lebih cocok menjadi anaknya itu tersenyum kecil saat mendapati Hunjae turun dengan wajah datarnya.
Ia menghampiri Hunjae, bertanya soal hal klasik yang menurut Hunjae sendiri memuakan.
"Selamat pagi Hunjae-ya, bagaimana tidurmu nyenyak bukan?"
Seolah seperti kebiasaan Hunjae melengos, mengabaikan dang Ibu Tiri, Hunjae lebih memilih untuk langsung duduk pada meja makan.
Lelaki dengan kemeja abu-abu itu justru sibuk dengan jam tangan yang tengah ia pakai dalam diam, mengabaikan panggilan sang Ayah dengan suara rendah dan geram.
Ia tahu sang Ayah akan memarahinya soal sikapnya yang dinilai kurang ajar terhadap sang Ibu Tiri, tapi Hunjae tidak pernah memperdulikan apa yang Ayahnya katakan.
Karena sejak awal ia memang tidak pernah menganggap Gaeun (Ibu Tiri Hunjae) sebagai Ibunya sekalipun gadis yang usianya berbeda jauh dengan sang Ayah itu telah menikah dengan Ayahnya.
Tuang Oh membanting cangkir berisi kopi yang baru saja akan diambil Hunjae, dan melemparnya ke sembarang arah.
Pria paruh baya itu menatap Hunjae dengan sengit, raut tidak suka terlihat dnegan jelas pada wajahnya meski lelaki yang lebih muda hanya merespon dengan tatapan datar.
"Apa kau pikir sikapmu itu sopan terhadap Ibumu?" tanya Tuan Oh dengan geram.
Yang ditanya menghela nafas kesal, ia sebenarnya malas untuk memulai perdebatan pagi hari terlebih untuk sesuatu hal yang menurutnya sama sekali tidak penting.
"Siapa Ibuku? Dia, memangnya aku pernah menganggapnya sebagai Ibuku?"
Jawaban Hunjae membuat Tuan Oh kian merasa geram, hampir saja pria baya itu melayangkan tamparan keras ke arah wajah Hunjae sebelum Gaeun datang mendekat dan menahan Tuan Oh.
"Sayang, sudahlah. Mungkin memang Hunjae belum terbiasa dengan kehadiranku," ujarnya mengamit lengan Tuan Oh.
Hunjae yang melihat hal itu hanya mendecih, ia merasa muak dengan sandiwara Gaeun yang selalu ia tampilkan di depan Ayahnya.
Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak diketahui oleh Tuan Oh soal Gaeun selama ini, ada banyak rahasia yang telah dilakukan wanita itu dibelakang sang Suami tanpa ketahuan.
Beberapa kali Hunjae tanpa sengaja memergoki Gaeun yang tengah menelepon dengan nada mesra dan terkadang nakal dengan seseorang, juga Gaeun yang seringkali menggoda Hunjae pada beberapa kesempatan.
Seperti beberapa minggu yang lalu, lebih tepatnya saat Tuan Oh tengah dalam perjalanan bisnis ke Luar Negeri untuk meninjau perkembangan bisnis nya di sana.
Hunjae seringkali mendapati Gaeun mendatanginya di kamar tidur ataupun ruang kerjanya dengan gaun tidur yang bisa dibilang cukup tipis, juga beberapa kali Gaeun sempat menggoda Hunjae secara terang-terangan.
Mengatakan pada pria itu jika dirinya lebih menarik daripada Tuan Oh yang telah berumur dan tidak menarik.
Pernah juga beberapa kali Gaeun bertingkah seakan dirinya dan Hunjae adalah pasangan kekasih, pernah sewaktu-waktu Hunjae yang saat itu tengah dalam keadaan setengah mabuk tertidur di kamarnya tanpa sadar.
Saat pagi datang ia mendapati Gaeun yang telah tertidur di sampingnya dengan posisi wanita itu memeluk perutnya dengan erat layaknya pasangan Suami Istri.
Hunjae terkejut tentu saja, ia segera mengusir keluar Gaeun dari kamarnya dan berteriak marah pada wanita itu.
Beruntung saat itu Tuan Oh tengah tidak ada di rumah jadi tidak ada siapapun yang mengetahui kejadian itu sampai saat ini.
Tapi bukannya berhenti, Gaeun justru kian gencar menggoda Hunjae setelahnya. Wanita itu benar-benar terlihat seperti terobsesi dengan Hunjae sejak saat itu.
Meski sudah berkali-kali Hunjae melakukan perlawanan tapi wanita bermarga Yoon itu tetap saja melakukan apa yang menjadi kebiasaanya, yaitu menggoda Oh Hunjae.
N
Ia bahkan sama sekali tidak merasa takut setiap Hunjae mengatakan jika dirinya mempunyai bukti dari tiap-tiap perlakuannya yang memalukan, ia bisa saja mengadukan hal itu pada sang Ayah dan membuat Gaeun dalam masalah.
Tapi reaksi si wanita Yoon tampak jauh berbeda dari apa yang Hunjae harapkan, ia justru balik menantang dengan mengatakan jika Tuan Oh takkan pernah mempercayai apa yang Hunjae katakan dan justru akan mengatakan jika Hunjaelah yang menggoda Gaeun lebih dulu.
Wanita itu juga menambahkan jika memang sudah sejak dulu Tuan Oh tidak menyukai Nyonya Oh, bahkan pria paruh baya itu juga yang sebenarnya menjadi dalang dibalik beberapa kecelakaan yang pernah dialami Nyonya Oh semasa hidup.
Hal itu juga yang membuat Hunjae kian bersikap dingin pada sang Ayah, sejak saat itu pula ia takkan pernah bisa memaafkan apa yang Ayahnya perbuat apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan Gaeun.
Tapi semakin dingin sikap yang ditujukan Hunjae pada Gaeun maka semakin gencar pula wanita tersebut menggoda Hunjae.
Ia bahkan trlah secara terang-terangan menggoda Hunjae di depan Tuan Oh meski ditutupinya denga berkedok memberikan kasih sayang sebagai seorang Ibu.
sampai pernah Hunjae memutuskan untuk menginap selama satu minggu di hotel tidak jauh dari rumahnya demi menghindari Yoon Gaeun.
"OH HUNJAE!!"
Teraiakan keras sang Ayah sama sekali tidak membuat langkah Hunjae terhenti apalagi sampai berbalik, pria dengan bahu tegap itu tetap melangkah kan kakinya lurus ke arah depan sembari menenteng tas kerja juga jas pada lengan kanannya.
Ia benar-benar telah muak dengan apa yang terjadi antara ia dan sang Ayah juga Ibu tirinya.
Ia ingin semuanya cepat berakhir, dan kini Hunjae memiliki satu tujuan khusus untuk mengendarai mobilnya datang ke suatu tempat.
Ia telah memutuskan untuk menerima perjodohan sekaligus kerja sama dengan Hyeso untuk menghancurkan Gaeun juga mantan kekasih Hyeso untuk gadis itu.
Ia berpikir akan percuma jika dirinya tetap bersikeras untuk memberitahu sang Ayah soal kelakuan Gaeun yang sebenarnya, ia pasti tidak akan dipercaya dan justru akan dituduh sebaliknya seperti apa yang pernah dikatakan wanita licik itu.
Maka dengan bekerja sama dengan Hyeso, Hunjae berpikir akan lebih mudah membongkar kedok Gaeun tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Ia telah menyusun rencana dalam otaknya untuk membuat Gaeun membuka kedoknya sendiri tanpa memerlukan campur tangan siapapun di dalamnya. Ia ingin agar sang Ayah mengetahui secara langsung bagaimana tingkah polah wanita yang selalu dipuja dan dicintainya itu tanpa harus ia yang menjadi jembatan di antara keduanya.
Ia ingin agar semuanya berjalan senatural mungkin, maka dari itulah ia membutuhkan bantuan Hyeso sebagai partner yang bertameng perjodohan.