Tiga puluh satu

1754 Kata
Minjoo tersenyum ramah pada seorang pelanggan yang baru saja selesai memesan, keadaan cafe tampak sibuk meski hari masih pagi.  Banyak orsng yang mengunjungi cafe sampai-sampai membuat seluruh karyawan bahkan Minjoo sendiri agak kewalahan dengan itu. Ia harus sampai turun tangan melayani dan mengantar berbagai pesanan pelanggan, tidak seperti biasanya ia hanya berjaga di area kasir. Sangking sibuknya semua pekerja, tidak ada yang menyadari jika sedari tadi seorang pria dengan Hoodie berwarna army diam berdiri memperhatikan Minjoo. Mata bulat pria itu sudah sejak tadi ikut bergerilya ke mana langkah Minjoo membawa gadis itu kesana-kemari. Ia masih terus mengawasi gadis itu sambil sesekali tersenyum atau tertawa kecil melihat tingkahnya. Tepat saat Minjoo berjalan melewati pria tersebut dengan nampan yang ia bawa, lengannya lebih dulu tertarik oleh si pria. Minjoo menoleh, ia berniat memarahi siapa saja yang menganggunnya di waktu sibuk seperti saat ini. Tapi saat gadis itu menoleh ia justru tersenyum sumringah, ia yang semula digandeng malah kini berganti menggandeng dan membawa pria dengan Hoodie army itu ke area khusus staf. Minjoo mendorong bahu tegap Chankyung kuat agar pria itu masuk ke dalam ruangan, lalu setelahnya ia melemparkan sebuah apron juga seragam karyawan ke arah pria itu. "Apa yang kau lakukan?!" Minjoo tidak memperdulikan teriakan dan pertanyaan yang terus terlontar dari bibir Chankyung, ia hanya mengisyaratkan pria itu untuk segera masuk ke dalam ruangan dan mengganti pakaiannya. "Cepatlah ganti pakaianmu, kita tidak punya  banyak waktu," ujarnya dengan gemas. Chankyung jadi ikut panik, ia segera menutup pintu dan mengganti pakaiannya meski otaknya masih saja memutar berbagai pertanyaan sejak tadi. Tidak lama kemudian Chankyung telah selesai dengan berganti pakaian, Minjoo langsung memberikan pria itu nampan juga buku menu dan memintanya untuk membantu melayani para pelanggan yang mendadak membludak hari ini. "Bantu aku ya, kau catat pesanan pelanggan. Aku akan membantu barista meracik minuman, keadaan sedang kacau hari ini. Tolong ya." Tanpa menunggu jawaban Chankyung, Minjoo sudah melesat pergi. Dan mau tidak mau Chankyung melakukan apa yang diminta oleh Minjoo, padahal niatnya datang ke cafe Minjoo hari ini bukan untuk itu. Ia berniat untuk mengajak gadis itu berjalan-jalan ke Namsan Tower, bahkan ia rela melakukan cuti sehari untuk hal itu. Tapi hal yang terjadi bukan seperti apa yang ia harapkan, tapi tidak apa. Setidaknya ia melakukan sesuatu hal yang bisa membantu Minjoo pada akhirnya. Semua orang bekerja dengan keras dan serius, semua sibuk dengan urusannya masing-masing melayani pelanggan yang datang satu persatu.  Hari menjelang siang saat pelanggan mulai berkurang satu persatu, keadaan menjadi cukup lenggang dan mereka bisa mengistirahatkan tubuh sejenak. Chankyung menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang ada di ruangan khusus staf, napasnya naik turun karena kelelahan.  Apa yang ia lakukan hari ini hampir sebanding dengan lelahnya ia saat berada di kantor, ia jadi merasa ini adalah tebusan karena ia yang telah dengan sengaja mengambil cuti kemudian memasrahkan pekerjaannya pada Jongsoo untuk hari ini. Sepertinya ia harus meminta maaf pada pria itu nantinya. Chankyung mendongak saat ia merasakan sesuaty yang dingin mengenai pipi kirinya, ia mendongak dan mendapati Minjoo yang tengah tersenyum sambil menyodorkan sekaleng minuman dingin ke arahnya. Chankyung menerimanya dengan senang hati kemudian bergeser, meminta Minjoo untuk duduk di sampingnya. "Terima kasih untuk bantuannya hari ini," ujarnya masih dengan tersenyum manis dan hal itu menular pada Chankyung yang melakukan hal sama. Pria itu tertawa kecil kemudian menunduk, suasana menjadi cair saat Minjoo juga tertawa seperti Chankyung. "Kenapa harus berterima kasih begìtu? Kita 'kan teman." Sebenarnya Chankyung tidak ingin menegaskan status mereka yang hanya sekadar teman, tapi ia tidak ingin membuat Minjoo merasa kurang nyaman nantinya. "Mau teman, sahabat atau keluarga sekalipun kata terima kasih harus selalu ada setelah mendapat bantuan. Kata tolong, maaf dan terima kasih tidak memandang status bagi siapapun, sekalipun itu orang penting atau bahkan presiden kata itu tetap berlaku untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari." Jawaban Minjoo direspon dengan anggukan ringan oleh Chankyung, benar apa yang dikatakan gadis itu. Jaman modern seperti sekarang tidak banyak yang menerapkan hidup seperti itu.  Kebanyakan dari mereka, meski tidak semuanya saat merasa telah dekat satu sama lain ketika menerima atau meminta bantuan terkadang lupa untuk menyertakan kata tolong ataupun terima kasih. "Kau benar," sahut Chankyung dengan suara lirih. "Kau tidak bekerja?" Mendengar pertanyaan Minjoo membuat Chankyung kembali teringat dengan 'karma' yang ia pikirkan sebelumnya, ia tertawa kecil sambil menggaruk tengkuk dan melihat ke arah Minjoo yang menatapnya curiga. "Hehehehe," tawa Chankyung terdengar kaku dan canggung. "Kau bolos? Sunggu?" pekik Minjoo kemudian. Dan dengan tanpa dosanya Chankyung mengangguk, lagipula tidak ada gunanya ia mengelak. Iya 'kan? "Awalnya aku ingin mengajakmu untuk berjalan-jalan ke Namsan Tower, hitung-hitung untuk menyegarkan otak yang rasanya bisa meledak jika setiap hari hanya berhadapan dengan setumpuk dokumen memusingkan yang seakan tidak ada habisnya," keluh Chankyung sedikit memberi alasan. Minjoo hanya bisa menggeleng, tidak paham dengan jalan pikiran Chankyung yang menurutnya sulit untuk ditebak. Pria itu terlalu sukar dan senang bertindak di luar pemikiran normal ornag kebanyakan. "Setelah makan siang kita bisa berangkat," kata Minjoo tiba-tiba, Chankyung dengan segera menoleh ke arah si gadis dengan wajah terkejut yang begitu kentara, dan hal itu sanggup untuk memancing gelak tawa Minjoo kemudian. "Sungguh?" tanya Chankyung tidak percaya. Minjoo mengangguk saja, gadis itu kemudian berdiri dan melihat sekilas ke arah Chankyung yang masih memperhatikannya. "Iya, asal kau bekerja dengan keras di cafe hari ini." Rasanya semangat Chankyung kembali terisi full setelah mendengar perkataan Minjoo beberapa second yang lalu, pria dengan senyum memikat itu segera mengangguk semangat. "Oke, ayo kita bekerja keras," katanya dengan nada agak keras, kemudian keduanya berlalu kembali ke arah luar cafe. Berbeda dengan Chankyung dan Minjoo, Hunjae tengah duduk tenang di salah satu rumah megah yang baru saja ia datangi. Sampai kemudian datang seorang pria baya juga seorang gadis cantik bernama Hyeso menghampirinya. Tuan Kang menatap Hunjae masih dengan tatapan kurang bersahabat, sepertinya pria baya itu masih mengingat soal keadian saat makan siang beberapa waktu yang lalu. Hunjae lebih dulu menyapa Tuan Kang dengan membungkuk ke arah beliau, mau bagaimanapun ia masih memiliki rasa sopan santun dalam dirinya. "Ada perlu apa kau datang kemari?" tanya Tuan Kang tanpa basa-basi, sepertinya ia jadi amat tidak menyukai keberadaan Hunjae semenjak kelakuannya waktu itu, padahal sebelumnya pria baya itu bersikap cukup ramah bahkan cenderung begitu menyukai Oh Hunjae pada awal pertemuan mereka. "Kedatangan saya kemari pada mulanya untuk meminta maaf atas apa yang saya lakukan sebelumnya, saya mengakui jika hal itu memang cukup keterlaluan untuk dilakukan," "Tapi sehubungan dengan itu saya juga ingin menyampaikan beberapa hal terkait perjodohan antara saya dan Hyeso," ujar Hunjae tegas. Tuan Kang dan Hyeso hanya diam dengan sesekali saling melirik satu sama lain, Hyeso mengangguk pada sang Ayah seolah mengiyakan kode yang diberikan Ayahnya. "Katakan." "Saya memutuskan untuk menerima perjodohan ini dengan syarat, tidak ada yang bisa menentukan waktu pernikahan kami selain kami sendiri. Dan juga tidak boleh ada yang ikut campur dengan persiapan pernikahan kami nantinya." "Lalu?" Tuan Kang tampak menyimak dengan tenang tiap kata yang keluar dari bibir Hunjae, pria berumur itu terlihat cukup tertarik dengan apa yang baru saja dikatakan Hunjae. Karena rencana yang telah ia susun akan tetap berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan. "Aku ingin berterima kasih karena Tuan mau mengenang sesuatu soal Ibuku," kata Hunjae dengan wajah serius. Perkataan Hunjae kali ini membuat Tuan Kang terdiam, pria dengan kacamata yang bertengger tepat di hidungnya itu tersenyum tipis kemudian melihat ke arah Hunjae dan mengangguk kecil. "Kau benar-benar terlihat mirip dengan Ibumu," kata Tuan Kang dengan wajah tersenyum kecil.  Pria paruh baya itu kembali mengenang soal bagaimana perjuangan Ibu Hunjae saat menyelamatkan dirinya dahulu.  Tuan Kang mengatakan jika Ibu Hunjae adalah sosok cerdas yang tidak mudah menyerah meski para medis lain telah berkata kemungkinannya adalah kecil.  Tapi Ibu Hunjae tetap kukuh dengan pendiriannya dan berhasil membuktikan jika apa yang ia katakan adalah benar. "Aku benar-benar tidaķ menyangka akan bisa kembali bertemu dengan salah satu orang terdekat Eunji, bahkan ia akan menjadi salah satu anggota keluarga ku tidak lama lagi," ujar Tuan Kang dengan senyum merekah.  Ekspresinya benar-benar berubah drastis daripada awal pertemuan mereka tadi. Setelah menceritakan soal Nyonya Oh dulu, Tuan Kang berpamitan untuk meninjau lokasi bisnisnya yang baru meninggalkan Hunjae dan Hyesoo berdua di ruang tamu. Keduanya sempat terdiam beberapa saat sebelum kemudian deheman Hyesoo mengalihkan atensi Hunjae yang semula hanya memperhatikan pintu tempat keluarnya Tuan Kang. "Kau akhirnya setuju dengan penawaranku?" buka Hyesoo dengan senyum miring. "Kau sudah melihatnya kenapa harus bertanya?" sahut Hunjae dengan sarkastik. Si gadis hanya mengangguk kecil kemudian menghela nafas. Ia memperhatikan Hunjae yang juga tengah memperhatikannya, keduanya sama-sama mengumbar senyum miring untuk satu sama lain. "Aku penasaran, hal apa yang membuatmu sampai mau menerima perjodohan ini padahal sebelumnya kau sangat menentang hal ini dengan amat keras. Kau bahkan sampai membuat keributan dan mengataiku bodoh saat itu." Hunjae terkekeh mendengar perkataan Hyeso, ia jadi kembali teringat kejadian hari itu di mana ia yang memang terbawa emosi bertindak tanpa berpikir lebih dulu. "Ya, ku akui tindakan ku memang bodoh waktu itu. Tapi setelah dipikir lagi tawaramu boleh juga, asal kau juga mau membantu ku," sahut Hunjae kemudian. "Apa itu?" "Bukan hal sulit. Kau hanya perlu membantuku untuk menghancurkan seseoang yang telah merusak apa yang ku rencanakan, kita akan membuatnya hancur tanpa harus membuat kita terlibat dengan apa yang terjadi padanya. Kita harus membuatnya terlihat menghancurkan hidupnya sendiri dan tetap membuat nama kita bersih," terang Hunjae pelan. Lagi-lagi Hyeso tertawa, ia tidak menyangka jika Hunjae yang memiliki figur wajah pendiam bisa merencanakan sesuatu yang menurutnya cukup licik untuk dilakukan.  Ia jadi penasaran, siapa orang yang dimaksud Hunjae dan karena alasan apa ia ingin agar dirinya membantu menghancurkan orang tersebut. "Kalau kau tidak keberatan, kau bisa beritahu aku siapa orang yang kau maksud itu?" Hunjae sempat menjeda percakapan keduanya, ia mengamati dengan lekat wajah Hyeso seolah meneliti apa ia bisa diberitahu soal identitas Chankyung atau sebaiknya ia tetap merahasiakan hal itu seorang diri. "Park Chankyung." Terlihat ekspresi terkejut yang kentara pada wajah Hyesoo begitu Hunjae menyebutkan mama Chankyung, gadis itu tampak gugup dan menelan ludah beberapa kali dengan sulit. Hunja yang menyadari gelagat aneh Hyeso memicingkan alisnya, ia masih memperhatikan si gadis yang mendadak terlihat gugup dan resah. Hyeso mengedarkan pandangannya ke sana ke mari dan mengulum bibirnya beberapa kali, benar-benar terlihat berbeda dengan dirinya beberapa saat yang lalu. "Kau kenapa?" pertanyaan yang sejak tadi terpendam dalam kepala Hunjae pada akhrinya ia keluarkan. Hyeso tersentak, ia tergagap sebelum kemudian menggeleng ragu, jelas sekali gadis itu menyembunyikan sesuatu dari Hunjae. "Darimana kau mengenal Park Chankyung?" Pertanyaan tiba-tiba Hyeso membuat alis Hunjae kian menukik, mungkin firasatnya benar jika Hyeso menyembunyikan sesuatu soal Chankyung darinya. "Dia adalah teman saat sekolah menengah atas dulu, lagipula kau sepetinya juga mengenal Chankyung."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN