Hunjae menoleh ke arah Hyeso yang saat ini berwajah pucat pasi. Ekspresinya begitu terlihat berbeda dengan beberapa saat yang lalu.
“Kau mengenal Park Chankyung?” tanya Hunjae pelan.
Kembali terlihat raut panik di wajah Hyeso kala itu, sampai kemudian gadis itu kembali mengangguk dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Chankyung adalah mantan kekasih ku,” jawabnya dengan suara lirih.
Sempat terjadi keheningan selama beberapa saat, Hunjae yang sebenarnya cukup terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Hyeso kemudian menghela napas.
"Sebenarnya aku tidak tahu dia akan mengingatku atau tidak. Yang jelas dulu kami sempat menjalin hubungan, hanya saja dia tidak ingin hubungan kami diketahui oleh siapapun saat itu," jelas Hyeso seolah tahu apa yang ada di wajah Hunjae.
"Kalian Backstreet?"
Hanya anggukan singkat yang jadi respon Hyeso kemudian.
"Lalu apa yang membuat hubungan kalian berakhir?"
Hunjae tahu jika apa yang ditanyakan nya kini mungkin terdengar agak lancang, tapi entah kenapa ia merasa ingin tahu.
Atau mungkin karena ini menyangkut soal Chankyung? Yang berarti ada sangkut pautnya juga dengan Minjoo.
Sempat terjadi jeda selama beberapa saat bagi Hyeso sebelum kemudian gadis itu menggeleng pelan dengan kepala tertunduk.
Hal yang sebenarnya membuat sebuah kerutan di dahi Hunjae yang saat itu belum mengerti apa maksud dari Hyeso.
"Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami. Saat itu Chankyung hanya tiba-tiba saja menjauhiku tanpa sebab. Ia bahkan tidak pernah lagi mau bertemu dan mengabariku. Setiap ku hampiri dirinya, ia akan menghindar dan bersikap jika kami tidak saling kenal, sampai kemudian aku mendengar jika Chankyung sedang mendekati seorang gadis lain," ucap Hyeso menjelaskan.
Hening sejenak. Baik Hunjae maupun Hyeso masih sama-sama terlarut dengan dunia mereka sendiri.
Hunjae berpikiran jika gadis yang dimaksud Hyeso adalah Minjoo, tapi bisa saja bukan. Kemungkinan Chankyung untuk bertemu gadis lain juga besar.
"Kau kenapa?" tanya Hyeso yang menyadari jika pria di sampingnya ini tengah melamun.
"Tidak. Aku harus pergi dulu, ada sesuatu yang harus ku urus dengan segera," katanya sebelum kemudian beranjak meninggalkan Hyeso yang hanya terdiam dengan wajah bertanya.
Hunjae terdiam di dalam mobilnya dengan satu tangan yang menyangga dagu. Pria itu masih berpikir alasan apa yang membuat hubungan Hyeso juga Chankyung kandas.
Mendengar jika Hyeso pernah menjalin hubungan dengan Chankyung membuat Hunjae tiba-tiba merasa khawatir jika perasaan menyesal pria itu terhadap Minjoo hanyalah sebuah kebohongan.
Bukannya apa, hanya saja Hunjae tidak ingin Minjoo kembali merasakan sakit hati karena ulah satu orang yang sama.
Sudah cukup baginya melihat bagaimana perlakuan kurang menyenangkan dan semua pengorbanan Minjoo untuk Chan kyung selama masa sekolah.
Hunjae tidak ingin Minjoo kembali dipermainkan oleh Park Chan kyung.
"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya pelan.
Pria itu tersentak saat ponsel yang ada di sakunya tiba-tiba bergetar. Nama Yura di sana, maka dengan segera Hunjae menjawab panggilan tersebut.
"Sunbae?" sebuah suara dari seberang terdengar agak berbisik.
Alis Hunjae terangkat mendengar hal itu, ia menyahut lirih kemudian menunggu gadis di seberang sana kembali berbicara.
"Apa bisa Sunbae datang ke apartemen ku? Aku takut," cicitnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Hunjae memastikan.
"Dia datang."
Belum sempat Hunjae kembali bertanya, sebuah suara bantingan perabot lebih dulu terdengar.
Suara yang cukup keras dan mampu membuat Hunjae terkejut. Pria itu sempat beberap kali memanggil nama Yura sebelum kemudian panggilan terputus secara sepihak.
Hunjae sempat terdiam selama beberapa saat, sebelum pria itu melaju kan kendaraanya menuju apartemen Yura.
***
Chan kyung juga Minjoo terduduk di ruangan khusus staff cafe. Keduanya merasa kelelahan setelah melayani pembeli yang mendadak membludak.
Chan kyung yang duduk di samping si gadis Do memperhatikan Minjoo diam-diam. Pria itu tersenyum tipis saat melihat Minjoo yang tengah mengelap peluh di sekitar dahi.
Tanpa disadari, tangan Chan kyung bergerak untuk merapikan anak rambut Minjoo yang nampak agak basah karena keringat. Membuat gadis itu menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Maaf," kata Chan kyung merasa sungkan.
Respon yang diberikan Minjoo hanya sebuah senyum tipis. Gadis itu kemudian menberikan sebotol minuman dingin ke arah Chan kyung yang diterima pria itu dengan suka rela.
"Sepertinya kita akan telat untuk berjalan-jalan," ujar Minjoo.
Chan kyung sempat terdiam, tapi kemudian pria itu mengangguk dan tersenyum.
"Tak apa, kita bisa berjalan-jalan lain waktu. Lebih baik sekarang kita membantu Jihoon lagi, kasihan anak itu," ucapnya sambil terkekeh.
Minjoo melakukan hal yang sama. Gadis itu mengangguk sebelum kemudian keduanya beranjak, kembali memulai aktivitas untuk melayani pembeli yang ada di cafe mereka.
Tanpa terasa saat itu waktu menunjukan pukul sembilan malam. Hari ini cafe tutup lebih awal dari biasanya.
Minjoo sengaja menutup cafe lebih cepat karena ia akan berjalan-jalan dengan Chan kyung.
Sebenarnya bukan hanya karena itu saja. Tapi lebih kepada dirinya yang tidak ingin membuat pria itu menunggu semakin lama dan terjebak di cafe bersamanya juga Jihoon untuk melayani para pembeli yang masih saja berdatangan silih berganti.
Lagipula, Minjoo kasihan pada Jihoon. Anak itu pasti sudah kelelahan dengan banyaknya pembeli yang datang.
Yah, hitung-hitung sebagai bonus kerja keras hari ini maka Jihoon bisa pulang lebih awal dan beristirahat.
Minjoo selesai mematikan lampu-lampu cafe, hanya menyisakan sebuah lampu yang berada di depan toko.
Ia juga telah selesai mengunci pintu cafe dan berbalik, menghadap dua pria yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Apa tidak apa Noona, menutupnya saat ini? Pasti masih ada beberapa orang yang akan datang untuk membeli kopi," kata Jihoon.
Anak laki-laki itu tampak tidak yakin dengan apa yang dilakukan Minjoo saat ini, menutup cepat cafe.
Si gadis Do tersenyum kecil kemudian menggeleng. Satu tangannya terangkat untuk mengusak rambut Jihoon yang sudah ia anggap layaknya adik kandungnya sendiri.
"Tidak masalah. Besok kita akan membukanya seperti biasa, lagipula hari ini suah banyak sekali pembeli yang datang, kau pasti kelelahan. Pulanglah dan istirahat," ucap Minjoo menyahuti.
Meski terlihat jelas jika ada keraguan di wajah Jihoon, tapi anak itu tetap mengangguk sebelum berpamitan dan melangkah pulang.
Menyisakan Chankyung dan Minjoo berdua di depan cafe.
"Jadi … bagaiman?"
Pertanyaan Chankyung menggantung, pria itu melihat ke arah Minjoo dengan ragu-ragu.
"Ayo jalan-jalan!" seru si gadis setelah sebelumnya ia tertawa melihat bagaiamana wajah Chankyung saat ini.
Melihat bagaimana raut wajah Minjoo membuat Chankyung ikut tersenyum, pria itu kemudian meraih tangan Minjoo dan memasukannya ke saku mantel miliknya, membuat Minjoo agaknya cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Cuacanya agak dingin, tanganmu bisa membeku nanti," katanya seolah paham apa yang ada di pikiran Minjoo.
Kemudian, tanpa menunggu lagi Chankyung menarik lembut tangan Minjoo dan keduanya berjalan beriringan menuju halte bus terdekat.