Tiga puluh tiga

1056 Kata
Mobil yang dikendarai Hunjae melaju dengan kecepatan cukup tinggi sampai kemudian berhenti di sebuah area parkir apartemen. Pria itu segera turun dan bergegas menuju gedung tersebut dan naik menggunakan lift menuju lantai lima, tempat dimana unit Yura berada. Hunjae sempat mengetuk pintu unit si gadis beberapa kali, juga memanggil namanya meski hasilnya nihil. Ia tidak mendapat jawaban apapun dari dalam. Dan hal itu membuat Hunjae semakin merasa khawatir telah terjadi sesuatu pada gadis itu. Dengan nekat, Hunjae mendobrak pintu tersebut. Hal yang pertama kali ia dapati begitu pintu terbuka adalah, sandal juga sepatu yang nampak berserak tidak pada tempatnya. Ia juga mendapati beberapa barang tercecer di beberapa tempat saat dirinya tengah menelusuri isi rumah si gadis. Sampai kemudian terdengar suara berisik dari arah ruangan yang Hunjae asumsikan sebagai kamar Yura. Tanpa menunggu aba-aba, Hunjae segera membuka pintu tersebut. Di dalam sana ia mendapati mantan kekasih Yura yang sepertinya hendak melakukan hal tidak sopan pada si gadis. Yura sendiri tidak bisa melakukan apapun. Dua tangannya terikat di atas kepala, sedang kakinya dijepit menggunakan kaki sang mantan kekasih. Mulutnya pun telah disumpal kain, ia hanya bisa menangis saat orang yang dulu ia cintai telah melepas satu persatu pakaian bagian atas yang dikenakannya, menyisakan sebuah tank top saja. "Sialan!" umpat Hunjae sebelum kemudian pria itu berlari menerjang mantan kekasih Yura, juga memberinya sebuah pukulan keras hingga membuatnya tersungkur. Baku hantam terjadi diantara mereka, Hunjae memukuli mantan kekasih Yura dengan buas. Ia bahkan lupa jika apa yang diperbuatnya saat ini bisa menghilangkan nyawa seseorang. "Sunbae, sudah. Hentikan, Sunbae." Suara Yura terdengar lirih, hal itu membuat Hunjae seakan tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya. Mengabaikan mantan kekasih si gadis yang tersungkur di pojok ruangan dengan kondisi wajah babak belur, Hunjae segera menghampiri si gadis. Melepaskan ikatan di tubuhnya dan memberikan sebuah selimut guna membungkus tubuh bagian atasnya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Hunjae. Yura menggeleng. Badannya gemetar ketakutan juga berkeringat dingin. Dengan segera Hunjae membopong gadis itu ala bridal style dan membawanya pergi dari unit apartemen tersebut. *** Minjoo juga Chankyung hanya berjalan dalam diam. Keduanya asyik dengan pemikiran dan dunia mereka masing-masing, sampai kemudian si pria membuka suaranya lebih dulu. "Terima kasih, ya." Mendengar Chankyung yang berterima kasih dengan tiba-tiba membuat Minjoo menoleh ke arah pria itu. Ia berkedip beberap kali sebelum kemudian bertanya. "Berterima kasih, untuk apa?" tanya-nya. Lagi-lagi Chankyung hanya tersenyum. Pria itu kembali mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan kepala si gadis Do yang masih saja terlihat kebingungan. "Geunyang. Hanya ingin berterima kasih saja. Ku pikir setelah apa yang terjadi antara kita dulu, kau takkan mau memaafkan ku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kau mau memaafkan ku dan kita kembali berteman, bahkan bisa sedekat ini," ujarnya. Minjoo hanya merespon dengan senyum tipis. Ia sendiri sebenarnya masih cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya saat ini. Maksudnya, bagaimana dirinya yang memaafkan Chan kyung dengan mudah padahal sebelumnya ia merasa begitu sakit hati dengan apa yang dilakukan pria itu. "Jika boleh jujur, sebenarnya aku juga cukup terkejut dengan itu," ucap Minjoo. Chan kyung menoleh dengan wajah terkejut. Pria itu juga menaikkan satu alisnya. Tawa kecil terlontar bebas dari sela bibir Minjoo menyadari bagaimana raut wajah pria di sebelahnya ini. Gadis itu sadar jika Chan kyung bingung dengan jawaban nya. "Dulu aku begitu sakit hati dengan perbuatanmu. Bahkan hanya untuk melihat wajahmu saja aku tidak mau. Tapi entah kenapa aku bisa memaafkan mu, dan malah berteman baik seperti sekarang." "Tapi meski begitu, semuanya terasa jauh lebih baik sekarang. Tidak ada dendam ataupun sakit hati. Perasaanku juga terasa lebih lega sekarang, memendam sakit hati dan semuanya sendirian ternyata tidak enak." Minjoo menoleh ke arah Chan kyung yang juga melakukan hal sama. Keduanya tersenyum dan tertawa kecil. Bisa Minjoo rasakan jika genggaman tangan Chan kyung padanya semakin mengerat di dalam saku mantel. "Karena kita sudah berbaikan dan kembali berteman, bagaimana jika ku traktir kau es krim?" tawar Chan kyung kemudian. "Es krim? Di cuaca sedingin ini?" tanya Minjoo yang dibalas anggukan semangat oleh si pria. "Bagaimana jika kau juga mentraktir ku dakbal? Akan terasa lebih baik makan sesuatu yang pedas disaat dingin seperti sekarang," usul Minjoo. Chan kyung nampak berpikir sejenak, ia meletakkan satu jarinya di depan dagu dengan pose berpikir, sebelum akhirnya mengangguk dibarengi senyum lebar yang tersemat di wajahnya. Pada akhirnya dua manusia itu berjalan beriringan menuju halte bus. Rencananya mereka akan singgah di sebuah kedai untuk menyantap makanan yang dipinta Minjoo sebelum kemudian melanjutkan ke tempat tujuan sebenarnya. Minjoo juga Chan kyung tiba di sebuah kedai kecil setelah sebelumnya turun dari bus. Keduanya memasuki kedai yang nampak hangat dengan desain sederhana tapi terkesan nyaman. Keadaan kedai yang saat itu tidak terlalu ramai membuat mereka memilih bangku yang terletak tidak jauh dari pintu masuk. Setelah pelayan datang dan mereka memesan, tiba-tiba saja Chan kyung berdiri dari duduknya. Pria itu berpamitan, mengatakan jika ada sesuatu hal yang harus ia urus sebentar. "Baiklah," hanya itu sahutan yang diberikan Minjoo. Gadis itu kembali diam dan menatap sekeliling, kemudian bermain ponsel sampai tidak lama kemudian ia mendengar suara kursi di depannya seperti tertarik. Chan kyung kembali. Ia duduk di tempatnya semula dengan cengiran lebar di wajah, juga dua buah es krim yang ada di tangannya. "Ku pikir kau benar-benar pulang?" ucap Minjoo agak terkejut. Terdengar kekehan kecil dari si pria, ia kemudian membuka satu bungkus es krim dan menyodorkan nya ke arah Minjoo. "Aku akan pulang setelah mengantarkan mu pulang lebih dulu. Begini-begini aku itu lelaki yang bertanggung jawab," katanya. "Ya, ya, ya. Terserah mau saja tuan!" sahut Minjoo sebelum memasukan es krim tersebut ke mulutnya. Tidak lama kemudian pesanan keduanya sampai. Sepasang anak muda itu menyantap makanan berbahan kaki ayam tersebut sambil sesekali bercengkarama dan tertawa. Tanpa terasa malam sudah menunjukkan pukul sebelas. Minjoo juga Chan kyung masih berjalan santai ditemani suara jangkrik malam yang mengiringi langkah keduanya. Sebelumnya, selepas mereka selesai menyantap dakbal keduanya melanjutkan destinasi jalan-jalan mereka dengan mengunjungi sebuah taman yang dihiasi dengan beragam lampu-lampu cantik. Keduanya menghabiskan banyak waktu hanya sekadar untuk mengobrol ataupun berswafoto bersama. Langkah keduanya terhenti di depan kediaman Minjoo. Mereka terdiam cukup lama sampai pada akhirnya Chan kyung membuka suara lebih dulu. "Sampai jumpa besok," katanya dengan intonasi agak canggung. Entahlah, ia hanya merasa demikian saat ini. Minjoo hanya mengangguk kecil, gadis itu kemudian berbalik dan berjalan menuju pekarangan rumahnya dengan sesekali menoleh ke belakang. Ke arah Chan kyung yang masih berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN