Tiga puluh empat

1533 Kata
Mobil milik Hunjae terhenti di sebuah kediaman. Pria itu keluar lebih dulu, memutar dan membukakan pintu di bagian penumpang. Yura turun dengan perlahan. Badannya terbungkus jaket dengan kepala tertunduk dalam. Dengan hati-hati Hunjae menuntun Yura untuk masuk ke dalam rumahnya, badan gadis itu masih lemah juga sedikit bergetar. Yura duduk di sofa ruang tamu, sementara Hunjae dengan sigap berjalan ke arah dapur guna membuatkan minuman hangat untuknya. Tidak lama kemudian Hunjae kembali dengan satu cangkir teh hangat. Ia memberikannya pada Yura, juga sebuah selimut untuk gadis itu. "Kau baik-baik saja, kau aman sekarang," kata Hunjae. Satu tangan pria itu bertengger di bahu si gadis, memberinya sebuah tepukan ringan yang berharap bisa menenangkan. "Untuk sementara kau bisa tinggal di sini. Aku hanya khawatir jika mantan kekasihmu akan datang lagi setelah apa yang terjadi hari ini. Hanya berjaga-jaga," tutur Hunjae kemudian. Yura tidak langsung menjawab, gadis itu hanya diam dengan kepala tertunduk sebelum isak tangis lirih terdengar kemudian. Untuk sementara suasana terasa canggung juga hening. Tidak ada yang dilakukan Hunjae untuk menghentikan tangis Yura kecuali tepukan yang masih ia lakukan di bahu gadis itu. Jujur saja ia bingung harus melakukan apa. Yura berbeda dengan Minjoo yang akan diam jika dirinya memberikan gadis itu coklat, ataupun mengajaknya beradu argumen soal apa yang membuatnya menangis. "Maaf." Satu kata yang lolos dari bibir Yura belum mampu membuat Hunjae berbicara. Ia hanya menyahuti perkataan Yura dengan sebuah dehaman lirih. Bukannya ia tidak memiliki simpati hanya saja, Hunjae benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan dan katakan. Lagipula, ia berpikir jika tidak tahu apa yang harus dilakukan, lebih baik diam. Dengan begitu akan meminimalisir ia membuat kesalahan dengan ucapannya. Setelah membiarkan beberapa saat bagi Yura untuk menangis, Hunjae pada akhirnya membuka suara. "Merasa lebih baik?" tanyanya. Si gadis hanya menangguk. Ia masih sibuk menyeka air matanya sejurus dengan Hunjae yang bernapas lega. "Aku sudah memerankan makanan untukmu, tapi maaf aku tidak memiliki pakaian perempuan jadi aku harus meminjamkan mu pakaianku untuk sementara waktu. Kau tidak keberatan, 'kan?" ucap juga tanya Hunjae. Yura kembali mengangguk. Hal itu membuat senyum di wajah Hunjae merekah. Dengan cepat pria tersebut melangkah ke arah kamar utama dan kembali tidak lama kemudian dengan sepasang pakaian miliknya. Ia menyerahkan pakaian tersebut pada Yura. "Maaf jika tidak sesuai, hanya itu pakaian dengan ukuran terkecil yang ku punya," tutur Hunjae dengan menggaruk tengkuk. "Tidak apa-apa. Terima kasih, Sunbae. Maaf merepotkan mu," sahut Yura dengan suara lirih. Hunjae menggeleng. Pria itu kemudian memegang bahu Yura dan memintanya untuk berdiri. "Tidak masalah, selama aku bisa membantu. Lebih baik sekarang kau cepat ganti pakaianmu, sepertinya sebentar lagi makanannya akan tiba," kata Hunjae yang langsung dituruti oleh Yura. Tidak lama kemudian Yura turun dengan pakaian Hunjae yang melekat di tubuhnya. Sebuah kemeja kebesaran dengan celana jeans panjang membalut tubuhnya. Rambutnya yang panjang sengaja ia cepol tinggi dengan asal, menyisakan beberapa helai anak rambut di sekitar wajah. Ia menghampiri Hunjae yang tengah sibuk dengan dua kotak ayam goreng dan kola di meja. Pria itu tersenyum saat Yura membantunya menata makanan. "Hanya ini yang ku pesan, aku tidak tahu apa yang kau suka. Dan sepertinya, semua orang suka makan ayam," ujar Hunjae. Meski dengan perasaan canggung juga awkward yang sedikit menyelimuti, malam itu mereka habiskan untuk menyantap ayam juga bercerita banyak hal sebelum kemudian kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. *** Pagi hari saat bel pintu rumah Minjoo berdering. Gadis yang baru saja menyelesaikan masakannya itu segera beranjak untuk membukakan pintu. Ia sempat mengernyit saat mendapati Hunjae berdiri di depan rumahnya. Ia kemudian mempersilakan pria itu untuk masuk sementara ia akan membuatkan minuman. "Tidak perlu, aku hanya sebentar," katanya. Minjoo duduk di sofa tidak jauh dari Hunjae. Gadis itu kemudian bertanya soal urusan apa yang membawa Hunjae datang pagi-pagi sekali. "Ada apa? Tumben datang pagi-pagi sekali," ujar Minjoo yang merasa keheranan. Pasalnya, selama ia mengenal Hunjae. Pria itu termasuk golongan yang cukup enggan untuk berkunjung tanpa alasan dan keperluan. Ia bahkan beberapa kali menolak untuk datang ke acara reuni dengan alasan sibuk. Padahal yang sebenarnya terjadi, hanyalah ia yang merasa enggan untuk berjalan kemanapun saat itu. Jadi cukup aneh jika tiba-tiba saja Hunjae berkunjung di saat waktu masih menunjukan pukul delapa pagi. "Sebenarnya, aku ingin meminta bantuan darimu," kata Hunjae. Alis Minjoo menukik, memberi sinyal sebuah pertanyaan tidak kasat mata bagi si pria. "Ada seseorang yang butuh bantuan. Ia diganggu oleh mantan kekasihnya bahkan sampai akan dilecehkan. Dan saat ini dia ada di rumahku karena aku khawatir jika mantan kekasihnya akan datang untuk mencarinya lagi," ucap Hunjae memulai ceritanya. "Tapi kau tahu sendiri jika aku hanya tinggal sendiri, aku khawatir dia tidak merasa nyaman di sana. Lagipula bagaimana jika mantan kekasihnya mengikuti ku dan mengetahui alamat rumahku," cerita Hunjae terputus saat Minjoo menyela lebih dulu. "Kataka saja apa tujuanmu, kau ingin gadis itu tinggal bersama ku?" Hanya sebuah anggukan kecil dari Hunjae sebagai jawaban. Minjoo diam selama beberapa saat sampai kemudian gadis itu bertanya sesuatu yang membuat Hunjae melotot kaget. "Gadis itu …, kekasihmu ya?" Baru saja Hunjae akan membantah, suara Minjoo lebih dulu kembali mengintefupsi. Kini gadis itu memasang wajah aneh dengan ekspresi jahilnya yang kentara. "Ehei, jangan menggelak, mengaku saja. Kau tidak akan berbuat sebegininya jika gadis itu bukan kekasimu, iya 'kan," kekeh Minjoo di akhir kalimat. Hunjae hanya diam, ia melihat si gadis Do dengan seksama. Bergumam dalam hati soal perasaanya sendiri. "Dasar bodoh, yang aku sukai itu dirimu," jerit nya dalam hati. Namun ia tidak bisa melakukannya, yang dilakukannya saat ini hanya menghela napas panjang juga lelah. “Dia bukan kekasihku, hanya teman,” jawab Hunjae sekenanya. Minjoo menganggukan kepalanya. Meski raut gadis itu masih terlihat tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Hunjae sebelumnya. Menurutnya, ia sudah mengenal Hunjae mengingat sudah berapa lama mereka berteman. Ya, Minjoo memang mengenal Hunjae cukup lama, tapi gadis itu tidak benar-benar mengenal bagaimana sosok Hunjae yang sebenarnya. "Tidak masalah, asalkan dengan tiga syarat," ujar Minjoo menyetujui permintaan Hunjae sebelumnya. "Syarat?" beo Hunjae dengan dahi yang berkerut. Minjoo mendengkus, ia melihat ke arah Hunjae dengan ekspresi wajah yang seakan bertanya pada pria itu, apa ia serius dengan pertanyaanya? "Tentu saja. Mengijinkan orang asing tinggal di rumahmu tanpa syarat, itu terdengar lebih aneh daripada pertanyaanmu barusan," jawab Minjoo agak menyindir apa yang dilakukan Hunjae sebelumnya. "Katakan, apa syaratnya. Ku harap bukan sesuatu yang aneh-aneh." Terdengar kekehan kecil dari sela bibir Minjoo, gadis itu mengibaskan tangannya di udara memberi tanda pada Hunjae jika dirinya tidak akan meminta sesuatu yang aneh-aneh. "Tenang saja, aku tidak mungkin memberatkan mu dengan syarat itu," katanya. "Cepatlah katakan saja, kata-kata mu itu membuatku jadi lebih curiga jika kau akan meminta sesuatu yang tidak masuk akal." Minjoo mendengkus, ia mencibir dengan bibir yang dimajukan beberapa senti. Gadis itu berdeham, ia kemudian mendekat ke arah si pria juga memberikannya sebuah senyum yang menurut Hunjae sendiri terlihat cukup aneh. Jarang-jarang Minjoo akan bersikap seperti sekarang. Atau gadis itu benar-benar memiliki permintaan ajaib untuknya? Semoga saja tidak. "Berhentilah bersikap aneh, katakan saja apa syaratnya," ucap Hunjae yang saat ini menatap Minjoo dengan horor. Sebenarnya bukannya bagaimana, tapi Hunjae merasa jika ia berada di jarak sedekat ini dengan Minjoo. Ditambah gadis itu yang bersikap tidak terduga membuat Hunjae agak sedikit khawatir. "Pertama, dia tidak boleh pulang terlalu larut. Kedua, ia juga harus ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya membersihkan kamarnya sendiri ataupun mencuci piring yang ia gunakan setelah makan." Oke, Hunjae mengerti dengan dua syarat yang diminta Minjoo. Semenjak kelulusan beberapa tahun lalu, sifat Minjoo jadi agak berubah. Gadis itu menjadi benar-benar perfeksionis. Agak berbeda dengan dirinya sewaktu bersekolah dulu. Dimana jika ada Chan kyung maka ia akan lupa dengan dunia, saat ini Minjoo bahkan tidak terdengar dekat dengan siapapun. Yah, kecuali kenyataan jika ia dan Chan kyung kembali berteman. Mengingat hal itu membuat mood Hunjae mendadak turun. "Apa syarat ketiganya?" tanya Hunjae. Minjoo tidak langsung menjawab, gadis itu hanya melihat ke arah Hunjae dan kembali tersenyum aneh. Benar-benar mencurigakan, batin Hunjae. "Ketiga, dia harus mau menjadi temanku!" Hunjae sempat terdiam selama beberapa saat, pria itu masih melihat ke arah Minjoo yang saat ini tersenyum tiga jari padanya. Menyadari wajah juga ekspresi aneh sang teman, Minjoo mendengkus menepuk bahu si pria agak kencang hingga membuatnya bertingkat kaget. "Apa yang kau pikirkan?!" tanyanya sambil berkacak pinggang. Hunjae menggeleng, ia segera mengalihkan wajahnya ke arah lain saat Minjoo mulai mendekat. Memperhatikan wajahnya dengan lebih dekat. "Kau pasti berpikir jika aku akan meminta sesuatu yang aneh-aneh, bukan?" tanya Minjoo dengan ekspresi yang ia buat kesal. "Jangan sok tahu," balas Hunjae masih memalingkan wajah. Memang benar jika pria itu tidak berpikir macam-macam soal permintaan Minjoo, maksudnya tadi. Tapi alasan lain mengapa ia memalingkan wajah adalah, karena gadis itu terlihat begitu imut saat berkacak pinggang. Oke, mungkin terdengar tidak tepat waktu bagi Hunjae untuk terkagum. Ia sendiri menyadari hal itu dan sedang berusaha untuk menghentikannya. "Ku rasa aku sudah gila," gumamnya pada diri sendiri. "Apa yang kau katakan?" Hunjae terlonjak, ia menggeleng pelan dengan senyum canggung yang terlihat jelas. "Tidak, bukan apa-apa. Hari ini kau ada acara?" tanya Hunjae coba mengalihkan topik. Si gadis nampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Hari ini aku berencana untuk pergi ke Namsan Tower dengan Chan kyung." Jawaban singkat yang mampu membuat Hunjae terdiam kemudian. "Pergi bersama Chan kyung, sudah sejauh apa kedekatan mereka?" batin Hunjae bertanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN