Rika melangkah mendekati mereka. Tatapan matanya tajam menghujam pada sosok Dewa. “Lho, Pak Dewa? Kog bisa ke sini?” tanya Rika, nada suaranya ramah. Diam-diam, Dewa menghembuskan nafas lega. Hampir terkena serangan jantung saat melihat sorot mata mamanya Larisa yang tajam. “Pak Dewa kerja di Kiko Indonesia, Ma. Jadi asisten Sangmin-ssi,” Larisa yang bercerita. “Sekarang jadi asisten Nona Larisa, selama di Indonesia,” timpal laki-laki berwajah tampan itu. Rika tertawa mendengar perkataan kedua orang di depannya. “Kenapa ketawa, Ma?” tanya Larisa, bingung melihat tawa ceria namanya. “Dulu Pak Dewa atasan kamu, Sa. Sekarang dia yang jadi asisten. Kayak gantian,” jawab Rika, menjelaskan kepada mereka mengapa dirinya tertaes. Baik Larisa dan Dewa ikut tertawa. “Ya sudah, ayo

