Saat pulang, entah mengapa semua mendadak tidak bisa mengantarkan Larisa pulang. Kecuali Dewa. Dan sebagai anak baik, Larisa tidak bisa menolaknya. Meskipun bisa saja langsung kabur memesan taxi online. Tetapi gadis cantik itu tidak melakukannya. Jadilah masing-masing pergi dengan pasangannya, tinggal dirinya yang terjebak, satu mobil dengan Dewa. Suasananya tetap canggung. Larisa tidak tahu harus bicara apa. Wajah Dewa muram, hanya fokus pada kemudinya. Larisa menyandarkan kepalanya ke jendela, melihat pemandangan luar mobil. Dia sedang memikirkan bagaimana menjalani hari-harinya sampai tiga bulan ke depan, jika harus satu ruangan dengan Dewa. “Apakah sesakit itu?’” tanya Dewa dengan tiba-tiba. Larisa mengerenyitkan dahinya. Bingung kemana arah pertanyaan laki-laki tampan ter

