Tya menarik tangan Dewa dengan terburu-buru. Tidak dipedulikannya ekspresi kebingungan yang muncul dari wajah laki-laki tampan itu. Sekretarisnya itu terus menarik Dewa ke ruang sampel. Sampai di sana, dilihatnya Kayla dan Liana saling berhadapan dengan wajah yang siap untuk saling menyerang. Dewa mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Mau ditinggal malah ada kerusuhan, keluh Dewa dalam hatinya. “Liana, Kayla, ada apa?” tanya Dewa hati-hati. Di tangan keduanya, masing-masing membawa gunting. Dewa jelas ngeri melihatnya. Salah-salah gunting-gunting itu nyasar entah ke siapa. “Ada yang bisa jelaskan ini ada apa?” Dewa melihat sekeliling ruangan. Staf ruang sampel yang ada memilih membisu. Semuanya menghindari tatapan matanya. “Liana? Kamu bisa jelaskan?” Sahabat mendiang Res

